Sabtu, 21 Mei 2011

Potret Mahasiswa Dulu dengan Sekarang


TAK dipungkiri lagi, pergerakan mahasiswa akhir-akhir ini mulai surut di ranah civitas academica. Bahkan, tak menampakkan batang hidungnya sebagai sosok garda depan dalam mengawal perubahan bangsa.

Hal ini merupakan PR besar bagi kita (baca: mahasiswa) untuk mengurai permasalahan krusial dewasa ini. Dan, faktor tersebut tentunya tak lepas dengan keadaan kampus era sekarang.

Mengapa demikian? Karena kampus saat ini tengah dikepung dengan kerumunan dunia virtual. Hadirnya internet dewasa ini memberikan dampak yang cukup luas bagi mahasiswa. Baik negatif maupun positif. Maka wajar bila zaman dulu dianggap sebagai zaman jadul dikarenakan belum adanya teknologi canggih semacam internet.

Melihat hal di atas, setidaknya kita bisa mengidentifikasi mengapa mahasiswa saat ini sangat minim melakukan pergerakan sosial. Sebab, dengan adanya teknologi cangggih semacam ponsel dan internet, mahasiswa lebih cenderung memilih jalur cepat, dan serba instan. Tinggal klik atau pencet. Langsung tepat sasaran.

Oleh sebab itu, mahasiswa yang awal mula gemar mensosialisasikan pergerakan atau sibuk dengan kegiatan kampus, saat ini mulai gemar berselancar di dunia maya. Hal inilah yang menjadikan mahasiswa mulai ogah melakukan pergerakan atau menghidupkan kampus.

Sehingga, permasalahan ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi generasi muda sekarang, terlebih bagi mahasiswa. Di samping itu juga, menjamurnya gaya hidup hedonis di sekeliling kita adalah cobaan bagi segenap generasi bangsa. Bila kita cermati, pergerakan mahasiswa sudah mulai tertimbun dengan gaya hidup (life style) pemuda sekarang. Lihat saja, betapa bangganya mahasiswa jika menenteng Black Berry dari pada memiliki intelegensi tinggi. Sungguh ironis bukan?

Terlepas dari itu, lalu, PR yang harus kita selesaikan adalah, bagaimana mengembalikan kejayaan kampus seperti dulu. Yaitu kampus yang penuh dengan nuansa diskusi di tiap sudut kelas. Dan, pemandangan mahasiswa yang mondar-mandir untuk melakukan orasi turun ke jalan demi menyuarakan hak-hak rakyat yang tertindas atas kebijakan pemerintah.

Setidaknya, atas dasar kesadaran bersama oleh mahasiswa, akan mengingatkan kembali bahwa kita mempunyai tanggung jawab yang besar di masyarakat. Sehingga, gelar agen sosial of change tidak sekadar simbol ansich. Namun, dapat mewujud dengan tindakan nyata. Dengan demikian, mau tidak mau saat ini kita harus menghidupkan atau nguri-nguri (bahasa jawa) kampus agar pergerakan mahasiswa tidak dianggap mati. Hidup Mahasiswa!

Heru Cahyono, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar