Jumat, 29 April 2011

Burung Kutilang yang Sombong


Setiap orang tercipta dengan bakat masing-masing. Karena itu, jangan sombong hanya karena merasa punya kelebihan. Dan, jangan pula merasa rendah diri karena merasa belum berprestasi.


Suatu kali, seperti biasa, burung kutilang berkicau dengan indahnya menyambut datangnya pagi. Banyak burung lain yang sebenarnya iri dengan kicauan kutilang. Sebab, ia bisa bernyanyi dengan merdunya sehingga banyak makhluk yang mengaguminya.


Salah satu yang sangat mengaguminya adalah burung pipit. Karena itu, pipit yang bisanya hanya bercuit-cuit, ingin berguru pada kutilang. Pipit juga ingin bisa bernyanyi semerdu burung kutilang. Maka, ia pun meminta agar Sang Kutilang mau mengajarinya menyanyi.


"Wahai Kutilang yang aku kagumi! Aku sangat ingin mempunyai suara merdu semerdu kicauanmu. Selama ini, aku hanya bisa bercuit-cuit dengan satu buah nada saja. Apakah kamu bisa mengajariku agar juga mampu bernyanyi dan ikut mengiringi indahnya terbitnya mentari pagi?" pinta pipit dengan sopan.


Mendengar permintaan itu, kutilang yang merasa dirinya paling merdu suaranya bukannya menerima, tapi malah mengejek si pipit. "Wahai Pipit. Kamu itu memang tercipta hanya sebagai burung yang bisanya hanya bercuit-cuit saja. Sedangkan aku, aku itu memang diciptakan untuk bisa bernyanyi merdu. Sedari lahir, aku sudah punya bakat menyanyi. Jadi, mana mungkin aku mengajarimu menyanyi seperti diriku?" elak Sang Kutilang.


"Tapi, paling tidak, ajarilah aku satu lagu saja. Siapa tahu, aku bisa mengubah kicauanku lebih indah," desak pipit pilu.


"Hmm... Sia-sia saja kamu memintaku. Kamu itu tidak punya bakat menyanyi! Percuma saja aku mengajarimu. Pergi sana. Biarkan aku menyanyi kembali. Ada banyak makhluk yang merindukan kicauanku. Jangan ganggu nyanyianku dengan permintaanmu," seru sang Kutilang pongah.


Pipit pun sangat sedih saat diusir kutilang. Ia pun pergi dan segera terbang menjauh dari kutilang. Namun, belum terlalu jauh dari sana, ia mendengar suara kutilang yang tak seperti biasanya. Kicauannya justru bernada sedih dan ketakutan. Sayup-sayup pipit kemudian mendengar, "Tolong... tolong.. tolong... Keluarkan aku dari sini. Aku mau bebas terbang. Tolong aku..."


Pipit yang mengenali itu suara kutilang, segera mendatanginya. Dilihatnya Sang Kutilang terjebak masuk ke dalam sangkar yang disiapkan pencari burung. Pipit pun segera menghampiri kutilang yang tak bisa keluar dari sangkar jebakan itu.


"Wahai Pipit. Maafkan aku. Bisakah kamu menolongku keluar dari sangkar ini? Saat hendak bernyanyi tadi, aku sangat lapar. Agar suaraku tetap merdu dan tetap nyaring, aku harus mencari makanan. Dan, saat aku melihat buah yang ranum di sangkar ini, aku segera masuk memakannya. Tapi, ternyata, aku tak bisa keluar lagi. Tolong aku pipit. Bisakah kamu menolongku agar keluar dari sini? Aku berjanji akan mengajarimu lagu apa saja," rayu Kutilang.


Pipit pun merasa iba. Akhirnya, ia pun berusaha melepaskan kutilang dari sangkar itu. Berulang kali ia mencoba. Namun, karena kurang hati-hati, ia malah ikut terjebak dalam sangkar itu. Kedua burung itu pun berteriak ketakutan.




Sore harinya, saat menjelang matahari terbenam, seorang pencari burung menemukan jebakannya berhasil menangkap dua burung. Satunya kutilang, satu lagi pipit. Namun, karena suara pipit tak semerdu suara kutilang, pipit pun dilepaskannya. Burung pipit terbebas dari sangkar. Kini, kutilang yang sombong hanya bisa menatap kepergian pipit dengan sedih. Kutilang tak sebebas dulu lagi...


Pembaca yang luar biasa...


Setiap makhluk yang diciptakan Sang Mahakuasa pasti mempunyai talentanya masing-masing. Bahkan, orang yang merasa tak punya bakat sekali pun, jika mau menggali dan mencari, serta dengan tekun mengasahnya, pasti memiliki kelebihan yang barangkali tak dimiliki oleh orang lain.


Karena itu, jangan pernah merasa sombong dan tinggi hati karena kita merasa punya kelebihan dibandingkan orang lain. Sebab, bisa jadi, apa yang kita kuasai, tak akan jadi sesuatu yang bermakna tanpa bantuan orang lain. Pemain bulu tangkis berbakat tak kan jadi hebat tanpa polesan pelatih yang tahu kelebihan dan kelemahan sang pemain. Seorang maestro lukisan tak kan jadi pelukis hebat tanpa mendapat kritikan dan masukan dari orang lain.


Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri hanya karena merasa tak punya kelebihan yang menonjol yang bisa dibanggakan. Sebab, bisa jadi, peran kecil dalam kehidupan yang kita jalani, bisa berarti banyak bagi orang lain. Seorang penata lampu di panggung meski tak tampak oleh penonton, ia menjadikan tata lampu pertunjukan jadi lebih indah sehingga penonton lebih terpuaskan. Seorang penyapu jalanan bisa jauh lebih berarti karena ia mampu mencegah sampah bertumpuk yang berpotensi mengundang penyakit dan bahkan banjir.


Mari, syukuri setiap kelebihan dan potensi yang kita miliki. Jangan patah arang jika merasa belum menemukan bakat yang kita miliki. Terus gali dan kembangkan hal apa saja yang bisa kita kuasai. Sebaliknya, jangan pula terjatuh dalam "kubangan" kesombongan layaknya Sang Kutilang, sehingga akan merugikan diri sendiri. Sumber: Andre Wongso

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar