Jumat, 27 Mei 2011

Langkah-Langkah Membuat Film


Akhir-akhir ini, banyak yang memprotes para produsen sinetron Indonesia yang dianggap telah kehilangan daya kreatif sehingga akhirnya menyadur film yang diproduksi orang luar. Tapi, sebenarnya, bagaimana sih cara membuat film itu? Posting ini bukan sebuah pembelaan, dan bukan pula sebuah hujatan baru. Hanya ingin menunjukkan… Begini lho, caranya membuat film.

Pada dasarnya, membuat film itu dapat dibagi ke dalam 14 tahapan. Apa saja?

1. IDE

Idealnya, IDE ini harus unik dan original. Tapi, memutuskan untuk menyadur sebuah karya orang lain itu juga termasuk sebuah IDE lho… Untuk mencari IDE, banyak cara yang bisa dilakukan. Melakukan pengamatan terus-menerus, jalan-jalan ke tempat yang aneh dan belum pernah didatangi manusia, nangkring di pohon asem di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan yang lalu lalang, atau bahkan duduk santai di sebuah food court di suatu plaza atau mall. Melamun sendirian di dalam kamar juga bisa mendatangkan ide, kok…

2. Sasaran

Setelah mendapatkan IDE, tentukan sasaran dari film yang akan dibuat. Koleksi pribadi? Murid SMU? Komunitas S&M? Para Otaku? Para Blogger? Siapa yang akan menonton film itu nantinya? Itu juga harus ditentukan dengan jelas di awal. Jangan sampai terjadi, film tersebut ditujukan untuk anak SMU tapi karena tidak disosialisasikan dengan jelas, akhirnya dipenuhi adegan berantem penuh darah ala 300

3. Tujuan

IDE dan Sasaran sudah ditetapkan. Yang harus dipastikan selanjutnya adalah tujuan pembuatan film. Ingin menggugah nasionalisme seperti Naga Bonar? Ingin menyampaikan pesan terakhir sebelum nge-bom? Ingin mendapatkan kepuasan pribadi seperti pembuatan film Passion of the Christ? Apa?

4. Pokok Materi

Berikutnya adalah menyusun pokok materi. Apa sih pesan yang ingin disampaikan? Ungkapan cinta? Sekedar pesan mengingatkan bahaya merokok?

5. Sinopsis

Sinopsis adalah ringkasan yang menggambarkan cerita secara garis besar. Semacam ide awal gitu loh. Dari sinopsis ini, nantinya bisa dikembangkan menjadi cerita yang lebih detil.

6. Treatment

Tahapan ini adalah penggambaran adegan-adegan yang nantinya akan muncul dalam cerita. Tidak mendetil. Contoh treatment itu seperti ini…

Ada seorang perokok yang sedang merokok dengan santainya. Kemudian tiba-tiba dia batuk-batuk dengan hebat dan agak lama. Sebelum beranjak pergi, orang itu membuang rokoknya sembarangan. Tiba-tiba muncul api…

7. Naskah

Naskah adalah bentuk mendetil dari cerita. Dilengkapi dengan berbagai penjelasan yang mendukung cerita (seting environment, background music, ekspresi, semuanya…). Contoh naskah itu, seperti ini…

FS. Ali mengayuh becak. Ais duduk merenung, tidak mempedulikan Ali yang bolak-balik menatapnya.

Ali : Dak usah dipikir lah, Mbak…

Ais : (kaget) Heh? Apa, Bang?

8. Pengkajian

Pengkajian disini, adalah yang dilakukan oleh seorang ahli isi (content) atau ahli media. Yang dikaji, adalah apakah naskahnya sudah sesuai dengan tujuan semula? Dan hal-hal yang mirip seperti itu…

9. Produksi Prototipe

Proses ini dibagi jadi 3 sub-tahap, yaitu pra-produksi (penjabaran naskah, casting pemain, pengumpulan perlengkapan, penentuan dan pembuatan set, penentuan shot yang baik, pembuatan story board, pembuatan rancangan anggaran, serta penyusunan kerabat kerja), produksi (pengambilan gambar sesuai dengan naskah dan improvisasi sutradara), purna-produksi (intinya adalah editing).

10. Uji coba

Uji coba ini dilakukan dengan memutar prototipe di hadapan sekelompok kecil orang. Kalau produsen film besar, biasanya melakukan ini di hadapan para kritikus. Tujuannya adalah untuk mengetahui respon dari calon audiens.

11. Revisi

Setelah ada respon, maka dilakukan perubahan jika diperlukan. Karena itu lah, banyak film yang memiliki deleted scenes. Itu diakibatkan proses uji coba dan revisi ini.

12. Preview

Preview itu adalah pemutaran perdana, di hadapan para ahli isi, ahli media, sutradara, produser, penulis naskah, editor, dan semua kru yang terlibat dalam produksi. Tujuan dari preview ini adalah untuk memastikan apakah semuanya berjalan lancar sesuai rencana atau ada penyimpangan. Bisa dikatakan, bahwa preview ini adalah proses pemeriksaan terakhir sebelum sebuah film diluncurkan secara resmi.

13. Pembuatan Bahan Penyerta

Bahan Penyerta itu adalah poster iklan, trailer, teaser, buku manual (jika film yang dibuat adalah sebuah film tutorial), dan lain sebagainya yang mungkin dibutuhkan untuk mensukseskan film ini.

14. Penggandaan

Tahap terakhir adalah penggandaan untuk arsip dan untuk didistribusikan oleh para Joni (ini terjadi pada jaman dulu kala, waktu format film digital masih ada di angan-angan).

Nah, demikian lah proses produksi sebuah film. Dari awal sampai akhir, siap untuk didistribusikan. Jadi, apa lagi yang ditunggu? Mari kita produksi film-film berkualitas agar tidak dikatakan bahwa sineas Indonesia telah kehilangan kreatifitas dan tidak bisa memproduksi karya orisinil lagi. SEMANGAT!!!

Heru Cahyono, Mahasiswa KPI Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Tips Membuat Film Pendek



Berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus kita perhatikan dalam membuat film pendek. Dengan mengikuti langkah-langkah yang akan diuraikan ini, maka kita dapat mengurangi beberapa hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Meskipun begitu, ini merupakan saran-saran saja, dan dapat dikembangkan berdasarkan keahlian dan pengalaman. Take a look..
1. Apakah film Anda layak ditonton
Sebelum semuanya dimulai, maka selayaknya kita bertanya: apakah semua orang pasti menonton film yang akan kita buat ?. Jawabnya, No!. Artinya tidak semua orang �pasti� akan menonton film kita. Sebelum menulis skenarionya, mari tanyakan kepada diri sendiri terlebih dahulu; mengapa orang harus menonton film yang akan kita buat.
2. Jangan mulai produksi tanpa adanya budget
Film, meskipun sederhana sangat membutuhkan biaya!. Besar biaya memang tidak terbatas, bisa besar bisa kecil. Dengan membuat prakiraan biaya (budget), maka kita akan lebih tahu apa yang harus kita lakukan dengan uang yang dimiliki. Produksi tanpa budget menyebabkan rencana-rencana tidak bisa diprediksi. Apalagi jika uang yang tersedia tidak mencukupi, bisa-bisa film yang sedang dikerjakan tidak selesai-selesai.
3. Minta persetujuan pihak-pihak yang terlibat
Sebelum shooting dilakukan, ada baiknya meminta persetujuan tertulis dari pihak-pihak yang terlibat didalam film, seperti aktor/aktris, music director, artwork, sponsor, atau siapa saja yang ingin berkontribusi. Bereskan dulu semua ini!. Karena kalau memintanya saat shooting dimulai, maka �kemangkiran-kemangkiran� dari pihak-pihak tersebut akan terasa sulit dimintakan pertanggung jawabannya. Maka, do it Now!.
4. Buatlah film pendek memang pendek!
Penulis naskah dan/atau sutradara harus bisa memenuhi standar yang menyatakan bahwa sebuah film adalah film pendek. Bertele-tele dalam penyajiannya akan membuat penonton bosan. Jika itu film pendek..maka harus pendek. Meskipun sulit, tapi memang harus begitu. Standar film pendek adalah maksimal berdurasi 30 menit!.
5. Jika memakai aktor yang tidak professional, maka lakukan casting
Tidak lepas kemungkinan film pendek dibintangi oleh aktor/aktris yang tidak professional (amatir). Ini sih wajar-wajar saja. Apalagi mereka (mungkin) tidak dibayar. Tapi untuk memilih karakter-karakter pemain yang sesuai, wajib melakukan pemilihan peran (casting). Jangan memilih orang sembarangan apalagi casting baru akan lakukan beberapa saat menjelang shooting. Berbahaya!.
6. Tata suara sebaik-baiknya
Tata suara yang buruk pada kebanyakan film pendek (meskipun memiliki konsep cerita menarik) menyebabkan tidak nyaman ditonton. Gunakan perangkat pendukung tata suara seperti boom mike untuk mendapatkan hasil yang baik. Kalau gak punya, beli atau pinjam aja�
7. Yakin OK saat shooting, jangan mengandalkan post-production
Saat ini semua film kebanyakan dikerjakan dengan kamera digital. Maka tidak sulit untuk memeriksa apakah semua hasil shooting sudah memenuhi sarat atau belum dengan melakukan playback. Periksa semua! frame dialog, tata suara, pencahayaan atau apa saja. Apakah sudah sesuai dengan kualitas yang diinginkan ?. Sangat penting; periksa setelah shooting, bukan pada saat paska produksi.
8. Hindari pemakaian zoom saat shooting
Kameraman yang baik adalah yang bisa mengurangi zooming. Kecuali bisa dilakukan dengan sebaik mungkin. Mendapatkan gambar lebih dekat ke objek sangat baik menggunakan dolly, camera glider, atau lakukan cut and shoot!.

9. Hindari pemakaian efek yang tidak perlu
Sebuah film pendek banyak mengandalkan efek-efek seperti; memulai film dengan alarm hitungan mundur (ringing alarm clock), transisi yang berlebihan seperti dissolves/wipe, dan credit titles yang panjang. Pikirkan dengan baik, apakah hal-hal ini perlu ditampilkan atau tidak. Pilihan yang sangat bijak jika semua itu tidak terlalu berlebihan.
10. Hindari shooting malam di luar ruang
Suasana gelap adalah musuh utama kamera (camcorder). Pengambilan gambar diluar ruang pada malam hari sangat membutuhkan cahaya. Apabila tidak menggunakan lighting yang cukup maka hasilnya akan jelek sekali. Meskipun dapat melakukan color correction pada saat editing, tapi sudah pasti dapat menyebabkan noise dan kualitas gambar menjadi drop. Paling baik adalah merubah skenario menjadi suasana siang hari. Tidak akan mengganggu cerita toh?.

Heru Cahyono, Mahasiswa Prodi KPI Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Semangat Sang Juara



klinting/// bunyi ada sms masuk di HPQ
"ru kamu dapet juara satu photo, Q yg wakilin, ada amplopnya juga....from..+6281226922..."

saya tahu sms ini dari Eka temen kampus saya, karena dia panitia Acara Gebyar KPI 2010. Tadi sebelum pulang dari kampus saya berpesan dengan Eka, kalau saya tidak bisa mengikuti acara puncak Gebyar KPI 2011, maka saya minta tolong ke Eka kalo nanti saya dikabarin hasil pengumuman lomba yang saya ikuti.

Habis sholat maghrib hp saya bunyi lagi dan langsung segera ku buka..ternyata pesan itu dari Bu Evi (Kajur KPI)"Jurusan KPI mengucapkan SELAMAT kepada HERU CAHYONO atas prestasinya sebgai Juara I Lomba Fotografi dalam Gebyar KPI 2011. Semoga menjadi fotografer handal dan Profesional..from: Bu Evi"

Puji Syukur langsung saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kekuatan dan hasil karya sehingga mendapatkan juara I dalam Gebyar KPI 2011. Temen-temen saya semua dari komunitas Akeroluh, temen-temen semua KPI angkatan 2010. Saya ucapkan banyak terimakasih atas dukungannya selama ini.

Ini menumbuhkan semangat saya untuk berkarya lagi dan lagi...dari sinilah semangat saya berkobar-kobar dan ingin sekali membuat karya lagi yang banyak dan dapat dinikmati banyak orang serta berbagai kalangan.

Ya Allah bimbinglah hambamu ini ke jalanmu dan bimbinglah saya untuk menggapai segala cita-cita dan angan-angan saya selama ini. Amien...

Heru Cahyono, Mahasiswa Prodi KPI Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

SUKSES BESAR GEBYAR KPI 2010


Yogyakarta, 27 Mei 2010. Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta telah SUKSES menggelar Gebyar KPI 2010, dengan perjuangan dan tekad Panitia pelaksana telah dibuktikan di hari puncak Gebyar ini telah hadir dan muncul bibit-bibit unggul dari berbagai karya mahasiswa KPI dari karya Jurnalistik, Fotografi, Audio Visual, dan Modeling.

Acara ini sangat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan prosedur yang direncanakan. Dari pembukaan dengan diadakannya Diskusi Panel yang diikuti semua mahasiswa KPI khususnya angkatan 2010. Lomba Presenter yang diikuti dari angkatan 2008-2010 kurang lebih 25 peserta lomba. Lomba Fotografi yang diikuti kurang lebih 80 karya foto dari mahasiswa KPI dari berbagai angkatan. Pameran Video Audio Visual dari mahasiswa yang diikuti oleh 20 mahasiswa dan 15 karya. Pameran Karya Jurnalistik berupa opini, puisi, cerpen, dll yang diikuti oleh 110 mahasiswa. Serta Lomba modeling baju muslim yang diikuti lebih dari 15 Mahasiswa.

Selamat buat para Juara Lomba Gebyar KPI 2010. Sukses buat kalian semua. Amien...

Heru Cahyono, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

KPI 2010 Goes To Museum Affandi


Yogyakarta, 14 Mei 2010. Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan kunjungan di Museum Affandi dalam rangka study ilmiah pada mata Kuliah Filsafat Ilmu yang di Bimbing Oleh Bpk. Andi Darmawan, mari kita saksikan rekaman dokumenter di Museum Affandi.

Disk 1



Disk 2

READMORE -

Senin, 23 Mei 2011

MENYUSUN MATERI PRESENTASI ATAU PIDATO


Sebagai staf Humas, Anda mungkin sekali waktu akan ditugaskan melakukan presentasi di depan audiens tertentu, sehingga Anda harus menyiapkan presentasi tersebut, baik dari segi konten maupun format penyampaiannya. Presentasi atau pidato tentu mengharuskan Anda bicara dan mengekspresikan diri di depan audiens.
Setiap orang sebetulnya memiliki gaya berbicara dan berekspresi yang berbeda-beda, terutama dalam percakapan secara spontan. Meski demikian, baik dalam berbicara langsung kepada audiens ataupun dalam menyusun naskah pidato untuk dipresentasikan, kita harus menyesuaikan diri pada audiens.
Adaptasi ke Audiens Anda
Ada sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab:
1. Apa yang diharapkan audiens dari presentasi Anda?
2. Apakah Anda akan menyajikan presentasi formal, dengan setting yang mengesankan, serta dilengkapi dukungan visual yang diproduksi secara profesional?
3. Atau, apakah Anda hanya akan bicara dalam lingkup rapat kantoran atau situasi kerja biasa?

Apapun jawabannya, Anda harus menyesuaikan cara pendekatan, agar cocok dengan situasi dan audiens.

Yang mempengaruhi cara presentasi Anda adalah: jumlah audiens, materi yang mau disampaikan, tujuan presentasi, jumlah anggaran yang tersedia untuk presentasi, dan waktu yang tersedia untuk persiapan presentasi.

Jika Anda bicara di depan kelompok kecil, khususnya orang-orang yang sudah Anda kenal, Anda boleh menggunakan gaya presentasi yang biasa saja (casual), yang mendorong partisipasi audiens.
Jika Anda bicara di depan audiens yang jumlahnya besar dan acara presentasi itu sangat penting, Anda tampaknya membutuhkan suasana dan pendekatan yang lebih formal. Gaya resmi ini cocok untuk acara yang mengumumkan tentang merger atau akuisisi, produk-produk baru, pencapaian finansial, dan masalah bisnis penting lainnya.

Menyusun Materi Presentasi

Materi presentasi terdiri dari tiga bagian utama: introduksi (pengenalan), tubuh (body), dan penutup.
Introduksi yang baik membangkitkan minat audiens pada topik yang Anda sampaikan, membangun kredibilitas Anda, dan mempersiapkan audiens pada materi berikutnya, yang akan Anda sampaikan.

I. Introduksi
Membangkitkan Minat Audiens
Beberapa topik secara alamiah lebih menarik ketimbang yang lain. Jika Anda akan mempresentasikan topik yang menyangkut kepentingan setiap audiens dan akan berdampak pada mereka, besar kemungkinan mereka akan memperhatikan presentasi Anda, apapun cara Anda memulainya. Yang perlu Anda lakukan hanyalah mengumumkan topik yang akan disampaikan.

Untuk topik-topik lain, membutuhkan semacam imajinasi untuk menarik minat audiens. Misalnya, bagaimana cara menarik perhatian para karyawan baru, untuk mendengarkan presentasi tentang program pensiun, yang masih lama akan mereka nikmati. Apalagi para karyawan baru itu masih dalam masa percobaan, dan belum pasti diangkat jadi karyawan tetap. Bahkan, dalam satu-dua tahun mendatang, bisa jadi mereka akan pindah ke perusahaan lain.

Cara lain untuk menarik minat audiens adalah dengan meminta pendapat dan komentar dari mereka, di sepanjang berlangsungnya presentasi. Tentu saja, teknik seperti ini lebih efektif pada audiens yang berjumlah sedikit, dan kurang efektif untuk audiens berjumlah besar. Apalagi jika massa yang berjumlah besar itu bersikap tidak ramah pada Anda, atau tidak Anda kenal.

Membangun Kredibilitas Anda

Selain untuk menarik minat audiens, introduksi juga harus membangun kredibilitas Anda. Jika Anda adalah seorang pakar, dan penguasaan Anda terhadap materi yang mau disampaikan juga sudah diketahui audiens, Anda tidak perlu repot lagi membangun kredibilitas. Tetapi jika Anda bicara pada audien yang tidak mengenal Anda, atau Anda harus bicara tentang topik yang di luar bidang kepakaran Anda, Anda perlu membangun kredibilitas.

Membangun kredibilitas itu perlu dilakukan secara cepat, karena dalam beberapa menit audiens cenderung sudah memutuskan, apakah presentasi Anda layak didengarkan atau tidak.

Teknik membangun kredibilitas bisa bervariasi, tergantung pada apakah Anda mau memperkenalkan diri sendiri, atau membiarkan pembawa acara (MC) atau pihak lain, yang memperkenalkan Anda pada audiens.

Sebenarnya lebih menguntungkan, jika orang lain yang menyebutkan kelayakan Anda sebagai pembicara, agar Anda tidak terkesan membual. Bagaimanapun, pastikan agar orang yang memperkenalkan Anda itu tidak melebih-lebihkan kualifikasi Anda, karena akan kontradiktif dan menimbulkan reaksi negatif dari audiens.
Mempreview Pesan Anda

Sebagai tambahan dari membangkitkan minat audiens dan membangun kredibilitas Anda, introduksi yang baik juga dapat mempersiapkan audiens, terhadap materi utama yang akan disampaikan dalam presentasi. Introduksi ini membantu audiens untuk mendapat gambaran tentang struktur dan konten dari pesan Anda.

Untuk laporan tertulis, gambaran tentang struktur dan konten itu diperoleh lewat daftar isi. Sedangkan dalam presentasi lisan, gambaran itu diperoleh lewat preview. Preview itu harus merangkum gagasan utama dari pesan Anda, menunjukkan butir-butir pendukung utama, dan menandai urutan di mana Anda akan mengembangkan butir-butir gagasan tersebut.

II. Tubuh Pesan (Body)
Bagian terbesar dari pidato atau presentasi Anda diarahkan untuk mendiskusikan butir-butir utama dari materi yang mau disampaikan. Ada dua hal yang perlu Anda pastikan, yaitu: (1) pengorganisasian presentasi sudah jelas; dan (2) presentasi itu dapat mengikat perhatian audiens.

Menghubungkan Gagasan-gagasan Anda

Dalam dokumen tertulis, Anda dapat menunjukkan bagaimana gagasan–gagasan itu berhubungan lewat berbagai tanda: heading, indensi paragraf, ruang putih, dan daftar. Sedangkan dalam presentasi lisan, khususnya ketika tidak didukung oleh bantuan peralatan visual, Anda sepenuhnya tergantung pada kata-kata untuk menghubungkan berbagai bagian dan gagasan.

Setiap Anda menggeser ke topik berikutnya, pastikan untuk menggarisbawahi koneksi atau hubungan antara gagasan-gagasan yang disajikan. Rangkumlah apa yang sudah disampaikan, dan berikan bayangan tentang apa yang mau Anda sampaikan.

Misalnya, dengan ucapan seperti: ”Tadi kita sudah melihat betapa pentingnya arti komputer dalam kehidupan modern. Berikutnya, saya akan menjelaskan bahwa keberadaan teknologi informasi seperti komputer juga memberi risiko tersendiri pada kehidupan manusia modern.”

Semakin panjang presentasi Anda, transisi-transisi semacam ini pun semakin penting. Jika Anda menyajikan terlalu banyak gagasan, audiens mungkin bingung dalam menyerap gagasan itu, atau dalam melihat hubungan antara satu gagasan dengan gagasan yang lain.



Menguasai Perhatian Audiens

Sebagai bagian penting dari menghubungkan audiens dengan gagasan-gagasan Anda, adalah dengan menguasai perhatian mereka dari awal sampai akhir presentasi.
Sebagai tambahan dari tantangan tersebut, ada fakta lain yang tak bisa Anda hindari, yaitu bahwa audiens dapat berpikir dan membaca lebih cepat daripada kecepatan Anda bicara.

Jika Anda tidak cukup kuat mengikat pikiran mereka, audiens akan mulai memikirkan hal-hal lain, membaca lebih jauh lembaran tertulis atau makalah yang sudah mereka pegang, memeriksa e-mail atau SMS di handphone, atau apapun kegiatan yang lain kecuali presentasi Anda.

Ada beberapa tip agar audiens tetap memperhatikan pesan Anda:
Hubungkan materi yang Anda sampaikan dengan kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai audiens. Orang umumnya akan tertarik pada hal-hal yang mempengaruhi kehidupan mereka secara pribadi.

Antisipasi pertanyaan-pertanyaan audiens. Cobalah perkirakan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan muncul di benak audiens, dan tanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dalam tubuh presentasi Anda. Anda mungkin juga perlu menyiapkan atau mencadangkan bahan, untuk digunakan dalam sesi tanya-jawab, seandainya audiens meminta penjelasan lebih rinci.

Gunakan bahasa yang jelas dan gamblang. Audiens cenderung cepat bosan jika mereka tidak mengerti apa yang Anda bicarakan. Jika presentasi Anda melibatkan ide-ide yang abstrak, tunjukkan bagaimana abstraksi itu memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari. Gunakan kaya-kata yang akrab, kalimat-kalimat pendek, dan contoh-contoh konkret.

Perjelas hubungan antara materi Anda dengan gagasan-gagasan lain, yang sudah diakrabi oleh audiens. Tunjukkan bagaimana topik Anda berkaitan dengan ide-ide yang sudah dimengerti audiens, dan berikan cara pada audiens untuk mengkategorikan, memilah, dan mengingat butir-butir gagasan Anda.

Mintailah pendapat audiens, atau cobalah sesekali memberi jeda pada presentasi, untuk menanggapi pertanyaan dan komentar. Umpan balik dari audiens dapat membantu Anda untuk menentukan, apakah audiens sudah betul-betul mengerti gagasan utama Anda, sebelum Anda masuk ke penyampaian topik berikutnya. Umpan balik juga memberi peluang pada audiens untuk bergeser, dari sekadar mendengarkan menjadi ikut berpartisipasi, yang membantu mereka terlibat pada pesan yang Anda sampaikan dan mengembangkan rasa kebersamaan.

Ilustrasikan gagasan-gagasan Anda dengan bantuan visual. Aspek visual bisa membantu menghidupkan pesan Anda, dan membantu Anda berhubungan dengan audiens, serta membantu audiens dalam mengingat pesan Anda.

III. Penutup

Penutup pidato atau presentasi bersifat kritis karena dua hal:
Pertama, perhatian audiens cenderung memuncak pada titik ini, karena mereka sudah mengantisipasi untuk pindah ke aktivitas lain pada hari sibuk mereka.
Kedua, audiens akan meninggalkan sesi ceramah Anda dengan kata-kata akhir Anda membekas di telinga mereka.

Sebelum menutup presentasi, beritahulah audiens bahwa Anda akan mengakhiri presentasi itu, sehingga mereka akan mengupayakan usaha terakhir untuk tetap memperhatikan.

Gunakan kata-kata seperti ”sebagai kesimpulan,” atau ”sebagai rangkuman dari semua hal yang sudah saya paparkan.” Anda ingin audiens tahu bahwa ini adalah segmen terakhir dari presentasi Anda.
Pastikan agar kata-kata akhir Anda membesarkan hati, memberi semangat, dan dapat diingat audiens.

Sumber:
Disadur secara bebas dari Bovee, Courtland L., dan John V. Thill. 2005. Business Communication Today. Eight Edition. Pearson Education International.

*Jurnalis Serabutan_________________Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Minggu, 22 Mei 2011

Perencanaan Peliputan Untuk Media Cetak


Pengantar

Aktivitas utama bidang keredaksian (editorial) di suatu media pemberitaan adalah melakukan peliputan. Peliputan ini melibatkan anggaran operasional yang cukup besar, apalagi jika harus melakukan peliputan ke luar kota atau ke luar negeri.

Berbagai bentuk peliputan khusus juga membutuhkan komitmen sumberdaya manusia, waktu, dan anggaran yang berkesinambungan. Liputan investigatif, liputan perang, atau liputan di daerah bencana (tsunami, gempa bumi, kecelakaan nuklir, dan sebagainya) adalah jenis liputan khusus semacam itu.

Berdasarkan berbagai pertimbangan di atas, diperlukan suatu perencanaan peliputan. Tujuan utama adanya perencanaan peliputan adalah memperoleh hasil peliputan yang berkualitas, layak diberitakan, dan syukur-syukur memperoleh perhatian besar dari khalayak media bersangkutan, yang ujungnya tentu berimplikasi pada iklan dan pemasukan keuangan.

Tujuan kedua yang juga penting adalah media dapat melakukan perencanaan anggaran, sebagai bagian dari langkah efisiensi operasional. Ini menjadi penting karena perusahaan media bukan cuma menjalankan fungsi sosial, tetapi --sebagai sebuah industri-- ia juga memerlukan profit untuk bertahan hidup dan berkembang. Di tengah iklim persaingan antarmedia yang semakin ketat, efisiensi anggaran merupakan langkah krusial.

Liputan yang Dijadwalkan dan Tidak Dijadwalkan

Ada dua macam jenis liputan. Pertama, liputan peristiwa yang bisa dijadwalkan dan bisa direncanakan. Kedua, liputan peristiwa yang tak bisa dijadwalkan dan tak bisa direncanakan.

Liputan peristiwa yang bisa dijadwalkan ada banyak jenis. Jika media Anda memperoleh undangan konferensi pers, peluncuran produk baru dari sebuah perusahaan, peliputan festival musik tertentu, atau undangan mengikuti lawatan Presiden ke daerah, itu adalah jenis liputan yang bisa dijadwalkan.

Sedangkan liputan peristiwa yang tak bisa dijadwalkan, misalnya: bencana alam (gempa bumi, tsunami, tanah longsor), kecelakaan (pesawat terbang jatuh, kereta api terguling, kapal tenggelam), kriminalitas (perampokan, pencurian, pemerkosaan), aksi terorisme, dan sebagainya.

Karena semua peristiwa ini tak bisa direncanakan (kecuali Anda seorang peramal jitu atau justru seorang penjahat yang merencanakan aksi kejahatan), yang bisa dilakukan media hanyalah menyiapkan jurnalis atau desk khusus, yang selalu bersiaga untuk mengantisipasi kejadian-kejadian dadakan.

Selama tidak ada kejadian yang luar biasa, jurnalis atau desk khusus ini bukan lantas menganggur, tetapi mereka disuruh membantu melakukan liputan rutin biasa. Atau, bisa juga mereka didedikasikan untuk melakukan liputan investigatif, yang memang butuh waktu lama.

Perencanaan Peliputan Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Dari segi waktu, perencanaan peliputan mengenal perencanaan jangka pendek dan jangka panjang. Perencanaan liputan untuk seminggu atau sebulan ke depan, termasuk perencanaan jangka pendek. Sedangkan perencanaan peliputan untuk setahun ke depan, merupakan perencanaan jangka panjang. Rentang setahun ini sudah maksimal.

Mengapa tidak direncanakan untuk dua tahun, atau bahkan lima tahun ke depan? Berbeda dengan rancangan APBN (Anggaran Pembelian dan Belanja Negara), yang menyangkut prediksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi beberapa tahun ke depan, yang bisa dihitung dalam angka persen, liputan berita terlalu dinamis dan terlalu tak terduga, untuk bisa direncanakan sampai lebih dari setahun ke depan. Perencanaan liputan semacam itu juga tidak praktis dan tidak efektif, karena pasti akan mengalami banyak revisi, perubahan, dan pergeseran.

Perencanaan Peliputan Berdasarkan Momen Hari Besar

Perencanaan peliputan dapat dilakukan dengan mengacu pada momen-momen tertentu, yang sudah diketahui sebelumnya. Misalnya, liputan yang terkait dengan hari-hari besar dan hari libur nasional. Perencanaan liputan untuk bulan puasa dan Idul Fitri, Natal, Tahun Baru, Imlek, dan sebagainya sudah bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, karena hari-hari besar itu sudah tertera di kalender.

Ada juga momen-momen lain yang lebih khusus, seperti: Hari Wanita Internasional (8 Maret), Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni), HUT Kota Jakarta (22 Juni), Hari Bhayangkara (1 Juli), HUT TNI (5 Oktober), Hari Guru (25 November), dan Hari Hak Asasi Manusia (10 Desember).

Bahkan media bisa menyiapkan liputan khusus untuk mengenang atau melakukan refleksi atas momen-momen istimewa, seperti bencana tsunami Aceh, revolusi Mei (jatuhnya rezim Soeharto), hari kelahiran Bung Karno, kasus bom Bali, dan sebagainya.
Di bawah ini adalah daftar (sebagian) tanggal, yang terkait dengan momen, peringatan, atau peristiwa tertentu, meski mungkin tidak harus dianggap sebagai hari besar nasional:

1 Januari Hari Perdamaian Dunia
5 Januari HUT Korps Wanita Angkatan Laut
25 Januari Hari Gizi
25 Januari Hari Kusta Internasional
9 Februari Hari Pers Nasional
1 Maret Hari Kehakiman Indonesia
6 Maret Hari Kostrad
8 Maret Hari Wanita Internasional
10 Maret Hut PARFI
23 Maret Hari Metereologi Sedunia
30 Maret Hari Film Indonesia
1 April HUT Bank Dunia
6 April Hari Nelayan Indonesia
7 April Hari Kesehatan Indonesia
9 April Hari Penerbangan Nasional
19 April Hari HANSIP
21 April Hari Kartini
24 April Hari Angkutan Nasional
27 April Hari Lembaga Pemasyarakatan Indonesia
1 Mei Hari Buruh Internasional
2 Mei Hari Pendidikan Nasional
5 Mei Hari Lembaga Sosial Desa
8 Mei Hari Palang Merah Internasional
11 Mei Hari POM TNI
17 Mei Hari Buku Nasional
20 Mei Hari Kebangkitan Nasional
1 Juni Hari Lahirnya Pancasila
3 Juni Hari Pasar & Modal Indonesia
5 Juni Hari Lingkungan Hidup Sedunia
21 Juni Hari Krida Pertanian
22 Juni HUT Kota Jakarta
24 Juni Hari Bidan Indonesia
29 Juni Hari keluarga Nasional
1 Juli Hari Bhayangkara
5 Juli Hari Bank Indonesia
9 Juli Hari Peluncuran Satelit Palapa
12 Juli Hari Koperasi Indonesia
22 Juli Hari Kejaksaan
23 Juli Hari Anak Nasional
8 Agustus Hari ASEAN
10 Agustus Hari Veteran Nasional
14 Agustus Hari Pramuka
17 Agustus Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
18 Agustus Hari Konstitusi Indonesia
19 Agustus Hari Departemen Luar Negeri
21 Agustus Hari Maritim Nasional
24 Agustus HUT TVRI
1 September Hari POLWAN
4 September Hari Pelanggan Nasional (mulai 2003)
8 September Hari Aksara
8 September Hari Pamong Praja
9 September Hari Olahraga Nasional
11 September Hari Radio Republik Indonesia
17 September Hari Perhubungan Nasional
24 September Hari Agraria Nasional / Hari Tani
28 September Hari Kereta Api
29 September Hari Sarjana
30 September Hari Pemberontakan PKI
1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila
5 Oktober HUT Tentara Nasional Indonesia
9 Oktober Hari Surat Menyurat Internasional
14 Oktober Hari Pangan Sedunia
16 Oktober Hari Parlemen RI
24 Oktober HUT PBB
28 Oktober Hari Sumpah Pemuda
30 Oktober Hari Keuangan
10 November Hari Pahlawan
12 November Hari Kesehatan Nasional
14 November Hari BRIMOB
21 November Hari Pohon
25 November Hari Guru / HUT PGRI
1 Desember Hari AIDS sedunia
4 Desember Hari Artileri
9 Desember Hari Armada RI
10 Desember Hari HAM
12 Desember Hari Transmigrasi
15 Desember Hari Infantri
22 Desember Hari Ibu
22 Desember Hari Sosial
22 Desember Hari Korps Wanita Angkatan Darat

Perencanaan Peliputan Berdasarkan Isu yang Berkembang

Staf redaksi harus peka dan kritis mengamati isu-isu yang berkembang dalam masyarakat. Jika ada isu atau tren yang penting dan mempengaruhi kehidupan masyarakat banyak, maka staf redaksi harus sigap dalam mengarahkan peliputan. Bahkan, jika perlu harus siap mengubah prioritas pemberitaan, karena ada isu-isu yang dipandang lebih mendesak.

Kasus penculikan anak yang tiba-tiba marak, banyaknya kasus tenaga kerja Indonesia yang disiksa atau terancam hukuman mati di luar negeri, kasus terorisme yang memakan korban besar, terungkapnya korupsi besar di lingkungan pejabat istana, kasus penggelapan dana nasabah di sebuah bank asing besar, dan lain-lain, semua itu bisa mengubah arah pemberitaan.

Oleh karena itu, harus dipahami bahwa perencanaan peliputan tidak selalu mengikuti garis linear, seperti rencana peliputan berdasarkan momen hari besar nasional. Justru “ketidakteraturan” dan adanya “unsure kejutan” inilah yang membuat dunia jurnalistik sangat dinamis, menantang, dan menarik diterjuni.


Perencanaan Peliputan Berdasarkan Pertimbangan Sirkulasi

Bagi media cetak seperti Koran Jakarta, Kompas, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Koran Tempo, dan sebagainya, tak bisa tidak jika ingin memperbesar sirkulasinya maka mereka harus memperbesar cakupan wilayah, yang menjadi sasaran utama distribusi medianya.

Wilayah yang menjadi sasaran itu tentunya adalah wilayah yang memiliki potensi pembaca cukup besar, baik dilihat berdasarkan populasi ataupun daya belinya. Agar media cetak itu diapresiasi dan dikonsumsi di wilayah bersangkutan, media perlu mengangkat isu-isu atau pemberitaan yang terkait dengan kepentingan atau minat pembaca di wilayah bersangkutan.

Jika sebuah media cetak nasional ingin memperluas sirkulasi di wilayah Jawa Timur, misalnya, media itu tentu harus memperbanyak porsi berita yang terkait dengan Jawa Timur. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya.

Harian Kompas pernah bersaing ketat dengan Jawa Pos, yang sebagai koran lokal memiliki basis sangat kuat di Jawa Timur. Untuk mengatasi dominasi Jawa Pos di Jawa Timur, Kompas menyediakan halaman khusus berisi berita-berita yang terkait dengan Jawa Timur. Pembaca Kompas di wilayah Jawa Timur akan menemukan sisipan halaman khusus tersebut. Kelompok Kompas-Gramedia kemudian juga mendirikan koran lokal Surya, yang berbasis di Surabaya, sebagai pesaing Jawa Pos.

Perencanaan Peliputan Berdasarkan Pertimbangan Iklan (Marketing)

Tren yang menguat dalam bisnis media, yang diwujudkan dalam mekanisme kerja newsroom (keredaksian) pada beberapa tahun terakhir ini, adalah semakin tipisnya sekat atau batas antara bidang keredaksian dan bidang usaha/bisnis (mencakup pemasaran dan iklan). Terdapat koordinasi atau sinergi yang semakin erat antara kedua bidang tersebut, yang sebelumnya seolah-olah jalan sendiri-sendiri dan enggan bersinggungan.

Sebagai contoh, sejumlah suratkabar memiliki rubrik yang tampil berkala, katakanlah, setiap dua atau tiga minggu sekali. Tak jarang untuk rubrik itu disediakan beberapa halaman khusus. Halaman khusus itu, misalnya, berisi mengenai otomotif, teknologi informasi, pendidikan, wisata, dan sebagainya.

Jadi, sudah dimasukkan dalam perencanaan peliputan bahwa pada hari Kamis, minggu ketiga bulan depan, akan ada rubrik dan halaman khusus otomotif. Sejumlah staf redaksi pun ditugaskan untuk menyiapkan liputan yang terkait dengan isu-isu otomotif.

Misalnya: liputan dampak tsunami dan rusaknya fasilitas produksi otomotif di Jepang terhadap pertumbuhan industri otomotif (mobil-mobil Jepang) di Indonesia. Untuk kepentingan para pengguna mobil Jepang di Indonesia, yang prihatin pada ketersediaan suku cadang bagi mobilnya, juga disiapkan artikel tersendiri soal suku cadang. Ada juga artikel tentang peluang industri lokal, dalam membuat suku cadang pengganti untuk mobil-mobil merek Jepang.

Pada saat yang sama, bagian pemasaran dan iklan di media bersangkutan giat mencari iklan, yang terkait dengan industri otomotif, untuk dimuat di halaman khusus otomotif tersebut. Mulai dari iklan mobil, ban, pelumas mesin, asesoris mobil, dan sebagainya.

Tak jarang, pemilihan tanggal untuk kemunculan halaman khusus ini juga dikaitkan dengan event besar tertentu, seperti akan diselenggarakannya Pameran Otomotif Nasional 2011, atau Pameran Komputer dan Teknologi Informasi 2011, dan hal-hal lain semacam itu. Bedanya dengan event hari besar nasional yang sudah diuraikan sebelumnya, event yang dimaksud di sini adalah event yang bersifat komersial.

Di sini terlihat bahwa pilihan topik dan isi liputan memang sengaja dilakukan berkoordinasi dengan bagian pemasaran/iklan, meski liputan itu tetap menggunakan kaidah jurnalistik yang biasa (bukan iklan terselubung). Tetapi, tidak terhindarkan, bisa terjadi konflik kepentingan internal, di mana staf bagian pemasaran/iklan akan sangat berkeberatan jika pihak redaksi ingin memuat artikel, yang kritis terhadap industri otomotif tertentu.

Artikel kritis dikhawatirkan akan merusak peluang iklan otomotif di media bersangkutan. Padahal, keberhasilan staf pemasaran/iklan diukur dari seberapa banyak iklan dan pemasukan keuangan yang bisa ia dapatkan. Sedangkan, staf redaksi dan para reporter beranggapan, integritas mereka sebagai jurnalis harus ditunjukkan dengan sikap kritis dan independen dalam pemberitaan. Mereka tak mau semata-mata menjadi corong pemasang iklan.

Kita bisa bicara dan berdebat panjang lebar tentang pengaruh iklan pada pemberitaan media, dan tarik-menarik antara aspek idealisme jurnalistik dan aspek komersial industri media. Tetapi hal itu membutuhkan pembahasan tersendiri dan sudah di luar kapasitas tulisan ini.

Simulasi dan Latihan:
Diskusi Kelompok dan Presentasi

1. Sebagai simulasi membuat perencanaan peliputan, cobalah dari seluruh peserta pelatihan dibentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok memilih ketuanya sendiri.
2. Salah satu atau dua anggota kelompok berperan sebagai staf pemasaran/iklan, yang berkepentingan untuk mencari peluang iklan.
3. Masing-masing kelompok diminta membuat perencanaan peliputan untuk periode katakanlah dua bulan ke depan, berdasarkan kriteria yang telah diuraikan sebelumnya (aspek momen hari besar nasional, isu-isu yang sedang hangat dan berkembang di masyarakat, pengembangan sirkulasi untuk wilayah tertentu, dan pertimbangan potensi iklan yang bisa diraih untuk halaman khusus).
4. Sesudah tiap kelompok berdiskusi selama sekitar 15 menit dan merumuskan hasilnya, ketua kelompok mempresentasikan hasil pemikiran kelompoknya di depan kelompok-kelompok lain untuk dikritisi, dikomentari, atau diberi masukan.
5. Kelompok terbaik adalah yang dapat menghasilkan perencanaan peliputan, yang bukan saja kuat, berkualitas, dan layak dari sisi jurnalistik, tetapi juga berpotensi memberi pemasukan iklan yang signifikan. Selamat bekerja!

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Tekhnik Wawancara


Apakah yang dinamakan wawancara itu? Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah. Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan berita yang disiarkan dalam media massa. Namun wawancara juga dapat dilakukan oleh pihak lain untuk keperluan, misalnya, penelitian atau penerimaan pegawai.

Orang yang mewawancarai dinamakan pewawancara (interviewer) dan orang yang diwawancarai dinamakan pemberi wawancara (interviewee) atau disebut juga responden. Seperti percakapan biasa, wawancara adalah pertukaran informasi, opini, atau pengalaman dari satu orang ke orang lain.

Dalam sebuah percakapan, pengendalian terhadap alur diskusi itu bolak-balik beralih dari satu orang ke orang yang lain. Meskipun demikian, jelas bahwa dalam suatu wawancara si pewawancara adalah yang menyebabkan terjadinya diskusi tersebut dan menentukan arah dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.


Tujuan Wawancara

Tujuan seorang reporter melakukan wawancara adalah mengumpulkan informasi yang lengkap, akurat, dan adil (fair). Seorang pewawancara yang baik mencari sebuah pengungkapan atau wawasan (insight), pikiran atau sudut pandang yang menarik, yang cukup bernilai untuk diketahui. Jadi bukan sesuatu yang sudah secara umum didengar atau diketahui.

Perbedaan penting antara wawancara dengan percakapan biasa adalah wawancara bertujuan pasti: menggali permasalahan yang ingin diketahui untuk disampaikan kepada khalayak pembaca (media cetak), pendengar (radio), atau pemirsa (televisi). Namun berbeda dengan penyidik perkara atau interogator, wartawan tidak memaksa tetapi membujuk orang agar bersedia memberikan keterangan yang diperlukan.

Dalam proses wawancara, si pewawancara atau wartawan bersangkutan benar-benar harus meredam egonya, dan pada saat yang sama harus melakukan pengendalian tersembunyi. Ini adalah sesuatu yang sulit. Pernahkah Anda melihat dalam suatu acara talkshow di televisi, di mana si pewawancara malah bicara lebih banyak dan seolah-olah ingin kelihatan lebih pintar daripada orang yang diwawancarai? Ini adalah contoh yang menunjukkan, si pewawancara gagal meredam egonya dan dengan demikian memperkecil peluang bagi orang yang diwawancarai untuk mengungkapkan lebih banyak.

Dalam proses wawancara, si pewawancara memantau semua yang diucapkan oleh dan bahasa tubuh dari orang yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana santai dan tidak-mengancam, yakni suasana yang kondusif bagi berlangsungnya wawancara.

Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul di benak si pewawancara ketika wawancara sedang berlangsung. Seperti: Apa yang harus saya tanyakan lagi? Bagaimana nada bicara orang yang diwawancarai ini? Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah terlihat ia bicara jujur atau mencoba menyembunyikan sesuatu?


Sifat Wawancara

Seorang pewawancara secara sekaligus melakukan berbagai hal: mendengarkan, mengamati, menyelidiki, menanggapi, dan mencatat. Kadang-kadang ia seperti seorang penginterogasi, kadang-kadang secara tajam ia menyerang dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan orang yang diwawancarai, kadang-kadang ia mengklarifikasi, kadang-kadang pula ia seperti pasif atau menjadi pendengar yang baik. Seberapa sukses suatu wawancara tergantung pada kemampuan melakukan kombinasi berbagai keterampilan yang ini secara pas, sesuai dengan tuntutan situasi dan orang yang diwawancarai.

Sifat wawancara bermacam-macam, tergantung dari informasi apa yang diinginkan si pewawancara dan bagaimana situasi serta kondisi yang dihadapi orang yang diwawancarai. Sifat wawancara bisa sangat bervariasi, dari yang biasa-biasa saja sampai yang antagonistik. Dari yang mempertunjukkan luapan perasaan sampai yang bersifat defensif dan menutup diri.

Jika seorang wartawan mewawancarai seorang pejabat pemerintah tentang keberhasilan salah satu programnya, tentu si wartawan akan mendapat tanggapan yang baik dan panjang-lebar. Namun jika si wartawan mencoba mengungkap praktek korupsi yang diduga dilakukan oleh pejabat bersangkutan, tentu si pejabat akan bersikat defensif bahkan tertutup.

Wartawan yang baik harus mengerti bagaimana cara “memegang” orang yang diwawancarai dan menangani situasi. Wartawan harus bisa merasakan, apa yang harus dilakukan pada momen tertentu ketika berlangsung wawancara –kapan ia harus bersikap lembut, kapan harus ngotot atau bersikap keras, kapan harus mendengarkan tanpa komentar, dan kapan harus memancing dengan pertanyaan-pertanyaan tajam.


Persiapan Wawancara

Banyak orang sering meremehkan tahapan awal ini, padahal tanpa persiapan yang baik wawancara tidak akan menghasilkan sesuai harapan. Persiapan teknis, seperti tape recorder untuk merekam wawancara, notes, kamera, dan sebagainya. Wartawan umumnya menggunakan catatan tertulis (notes) dan tidak boleh terlalu tergantung pada alat elektronik. Tapi alat elektronik seperti tape recorder cukup penting untuk mengecek ulang, apabila ada yang terlupa atau ada informasi yang meragukan, sehingga dikhawatirkan bisa salah kutip.

Di Indonesia, banyak kasus di mana pejabat pemerintah mengingkari lagi pernyataan yang diberikan kepada wartawan, sesudah pernyataan yang dimuat media massa itu menimbulkan reaksi keras di masyarakat. Wartawan disalahkan dan dituding “salah kutip,” bahkan diancam akan diperkarakan di pengadilan.

Untuk menghindari risiko ini, banyak gunanya jika wawancara itu direkam dan setiap saat dibutuhkan bisa diputar kembali. Rekaman elektronik memang belum bisa menjadi alat bukti di pengadilan, namun bisa menjadi indikator tentang siapa yang benar dalam kontroversi tuduhan “wartawan salah kutip” tadi.

Selain persiapan teknis, yang harus diingat pertama kali dalam liputan investigasi adalah kita tidak memulai wawancara tentang suatu masalah dari nol. Sebelum mengatur waktu dan tempat pertemuan dengan narasumber untuk wawancara, wartawan sendiri harus jelas tentang beberapa hal:

Persoalan apa yang mau ditanyakan? Apakah persoalan itu menyangkut korupsi yang diduga dilakukan seorang pejabat pemerintah, atau tentang pencemaran lingkungan yang diduga dilakukan sebuah perusahaan pertambangan, si wartawan harus memiliki pemahaman dasar tentang permasalahan tersebut. Bila pemberi wawancara melihat wartawan itu tidak menguasai permasalahan, ia mungkin enggan memberi informasi lebih lanjut.


Menentukan Nara Sumber

Setelah wartawan yakin telah menguasai permasalahan, langkah berikutnya adalah menentukan siapa sumber yang akan diwawancarai. Orang dapat bermanfaat sebagai pemberi wawancara karena sejumlah alasan. Pemberi wawancara yang ideal adalah yang memenuhi semua faktor ini. Untuk proyek peliputan yang panjang, faktor-faktor ini menjadi penting:

Kemudahan diakses (accessibility). Apakah wartawan dengan mudah dapat mewawancarai orang ini? Jika tidak mudah dihubungi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menghubungi? Apakah wawancara harus dilakukan lewat telepon atau tertulis, ketimbang bertemu muka langsung? Jika narasumber ini bersifat vital bagi peliputan, wartawan harus realistis tentang prospek wawancara ini.

Reliabilitas (reliability). Apakah orang ini bisa dipercaya sebelumnya? Apakah informasi yang diberikan bisa dibuktikan benar oleh sumber-sumber independen lain? Apakah narasumber ini pakar yang betul-betul mengetahui permasalahan? Apa latar belakang kepentingannya sehingga ia bersedia diwawancarai? Wartawan harus hati-hati, karena ia akan terlihat bodoh jika melaporkan isu atau desas-desus yang belum jelas kebenarannya.

Akuntabilitas (accountability). Apakah orang ini secara langsung bertanggungjawab atas informasi yang diinginkan wartawan atau atas tindakan-tindakan yang sedang diinvestigasi? Apakah ada sumber lain yang lebih punya otoritas tanggungjawab langsung ketimbang orang ini? Berapa orang sebenarnya yang diwakili oleh seseorang yang menyebut diri sebagai juru bicara?

Dapat-tidaknya dikutip (quotability). Mewawancarai seorang pakar yang fasih dan punya informasi lengkap mungkin dapat mengembangkan tulisan, seperti seorang pejabat publik yang blak-blakan dan suka membuat pernyataan-pernyataan kontroversial. Para tokoh masyarakat atau selebritis biasanya sudah tahu, ucapan macam apa yang suka dikutip wartawan. Sedangkan orang awam biasanya tidak ahli dalam “merekayasa” komentar yang bagus buat dikutip wartawan.


Mengatur Waktu dan Tempat Wawancara

Sesudah jelas materi yang mau ditanyakan dan orang yang akan diwawancarai, ditentukanlah waktu dan tempat untuk wawancara. Wawancara bisa dilakukan di rumah atau kantor nara sumber. Jika di rumah, suasananya akan lebih santai dan informal. Jika di kantor, suasananya akan lebih formal.

Namun seringkali, rumah atau pun kantor bukanlah empat yang pas untuk wawancara investigatif. Jika narasumber akan memberikan informasi yang sifatnya rahasia, maka kemungkinan besar ia tidak ingin diketahui oleh publik atau atasannya telah menyampaikan informasi tersebut kepada pers. Hal itu karena bisa berisiko pada keselamatan dirinya, keluarganya, jabatannya, atau karir politiknya. Maka harus diatur pertemuan di tempat dan waktu tertentu secara khusus.

Pengaturan waktu dan tempat di atas berlangsung dalam kondisi “normal”, artinya nara sumber memang sudah bersedia diwawancarai. Namun ada kalanya narasumber sengaja menghindar, mungkin karena merasa terancam keselamatannya atau ia sendiri mungkin terlibat dalam permasalahan. Dalam kondisi demikian, wartawanlah yang harus aktif melacak lokasi keberadaan narasumber, mengejar, mencegat narasumber tersebut untuk diwawancarai.

Wartawan jangan mudah patah semangat dan jangan mundur menghadapi penolakan, perlakuan tidak ramah, atau sikap dingin dari sumber berita. Perlakuan semacam ini kadang-kadang diberikan oleh seorang pejabat pemerintah kepada wartawan baru.

SM. Ali, mantan Redaktur Pelaksana Bangkok Post yang berasal dari Banglades menyatakan, berdasarkan pengalamannya mewawancarai sejumlah pejabat dan pemimpin nasional di Asia, selalu ada kesempatan pertemuan lain. Banyak pejabat yang pada pertemuan pertama sama sekali tidak komunikatif, tetapi mereka kemudian luar biasa ramahnya pada pertemuan-pertemuan berikutnya.


Narasumber yang Enggan Diwawancarai

Namun ada juga narasumber yang memang betul-betul tidak ingin diwawancarai, walaupun mereka tidak terang-terangan mengatakan “tidak.” Yang mereka lakukan adalah menghindar dengan cara tidak menjawab telepon, atau meminta sekretarisnya untuk mengatakan “Bapak sedang ke luar kantor,” jika ada permintaan wawancara dari wartawan. Sehingga wartawan merasa dipermainkan atau diremehkan.

Jika wartawan menghadapi narasumber yang enggan diwawancarai, padahal sumber itu sangat vital bagi peliputan yang sedang dilakukan, wartawan tersebut punya tiga pilihan: Pertama, menuliskan hasil liputan tanpa wawancara itu. Kedua, menuliskan hasil liputan dengan tambahan keterangan bahwa setelah berusaha dihubungi berulang kali, narasumber tetap tidak menjawab panggilan telepon, pesan fax, atau surat permintaan wawancara. Ketiga, meyakinkan narasumber untuk bersedia diwawancarai.

Orang yang tak mau diwawancarai mungkin menolak wawancara karena beberapa alasan, seperti:

1. Waktu. Calon pemberi wawancara, yang mengatakan “Saya tak punya waktu untuk wawancara,” sebenarnya ingin memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sesuatu yang lain ketimbang diwawancarai oleh wartawan. Mereka memperkirakan lama waktu yang dihabiskan untuk wawancara, dan menghitung manfaat wawancara itu dibandingkan dengan jika waktunya dipakai untuk kepentingan lain.

2. Rasa bersalah. Orang mungkin tak mau diwawancarai karena takut kelepasan bicara, mengakui telah melakukan suatu kesalahan, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin mereka ungkapkan.

3. Kecemasan. Seorang pemalu mungkin takut pada pengalaman diwawancarai. Ketakutan pada sesuatu yang belum dikenal membuat mereka cenderung menolak risiko pengalaman baru diwawancarai.

4. Perlindungan. Orang mungkin menolak diwawancarai karena ingin melindungi keluarga, teman, atau orang lain yang dicintai, atau orang lain yang diketahui melakukan perbuatan salah. Calon pemberi wawancara mungkin juga takut dikaitkan dengan pernyataan atau komentar yang bisa mempermalukan atau mengecam pihak lain.

5. Ketidaktahuan. Calon pemberi wawancara bisa jadi menolak wawancara, karena tak mau mengakui bahwa dia tidak tahu apa-apa atau hanya tahu sedikit sekali tentang masalah yang dijadikan fokus wawancara.

6. Mempermalukan. Orang mungkin menolak wawancara karena masalah yang mau dipertanyakan itu membuat dirinya merasa malu, risih, atau dianggap terlalu intim dan pribadi sifatnya.

7. Tragedi. Orang yang baru mengalami musibah berat mungkin tidak ingin mengungkapkan masalahnya itu kepada umum. Padahal wartawan dengan tulisannya akan mengubah masalah yang bersifat pribadi itu menjadi konsumsi publik.


Pelaksanaan Wawancara

Pertama yang harus dilakukan oleh wartawan adalah memberi rasa aman kepada narasumber, agar ia merasa santai, tenang, dan mau terbuka memberi informasi. Wartawan harus memberi keyakinan kepada narasumber bahwa wartawan tersebut dan medianya itu bisa dipercaya, dan mampu menyimpan rahasia (terutama jika narasumber tak ingin identitasnya dimuat di media massa).

Kepercayaan dari pemberi wawancara ini sangat penting. Kalau pewawancara tidak memperoleh kepercayaan dari sumber berita, maka informasi yang ia peroleh tidak akan lebih dari keterangan rutin, ulangan beberapa fakta yang sudah sering dimuat, pernyataan normatif yang sudah tidak perlu diperdebatkan, atau jawaban yang sifatnya mengelak belaka.

Sesudah penciptaan suasana kondusif itu, dimulailah wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka. Pertanyaan pembuka ini sifatnya masih memberi rasa aman dan kepercayaan pada narasumber. Pertanyaan inti dan tajam, yang berisiko merusak suasana wawancara, harus disimpan dan baru dilontarkan pada momen yang tepat. Dari tanya-jawab awal, wartawan sudah bisa meraba bagaimana kondisi mental dan emosional narasumber, sehingga wartawan bisa memilih momen yang tepat untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci tersebut.

Pewawancara mengikuti arah pertanyaannya sampai yakin tidak ada yang dapat digali lagi. Selama wawancara, pertanyaan sebaiknya disusun dalam kalimat-kalimat yang pendek dan cermat. Hindarkan pertanyaan yang tidak langsung berhubungan dengan masalah yang ingin diinvestigasi, dan jangan bertele-tele.

Untuk meluaskan komentar dan pernyataan dari orang yang diwawancarai, wartawan dapat mengajukan pertanyaan terbuka (open-ended). Sedangkan untuk memperoleh informasi yang spesifik dan rinci tentang sesuatu hal, harus diajukan pertanyaan tertutup (closed-ended).
Pertanyaan terbuka –biasanya pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”—memungkinkan pemberi wawancara berspekulasi, untuk menawarkan opini, pengamatan, atau deskripsi.

Pewawancara yang mengajukan pertanyaan terbuka berarti menawarkan peluang bagi komentar dan arah dari pemberi wawancara. Pertanyaan terbuka itu, misalnya, “Bagaimana pandangan Anda tentang tuduhan bahwa pabrik Anda mencemarkan lingkungan?” atau “Mengapa Anda begitu yakin bahwa pabrik Anda tidak mencemarkan lingkungan?”

Pertanyaan terbuka mengundang tanggapan yang lebih lengkap dari pemberi wawancara, yang bisa memilih seberapa panjang dan bagaimana isi jawabannya. Pertanyaan terbuka ini mengundang kerjasama dan partisipasi dari pemberi wawancara. Pemberi wawancara yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terbuka mungkin juga bersedia memberi informasi lebih jauh dengan sukarela. Jawaban pertanyaan terbuka, selain lebih spekulatif, juga akan mencerminkan kepribadian pemberi wawancara.

Sedangkan pertanyaan tertutup berusaha mengarahkan pemberi wawancara ke jawaban yang spesifik. Misalnya, “Apakah Anda merasa gembira atau sedih dengan terungkapnya kasus kebocoran limbah pabrik ini?” atau “Berapa kali kebocoran tangki penyimpan limbah ini pernah terjadi sebelumnya?” Dengan pertanyaan semacam ini, pewawancara mengisyaratkan sebuah pilihan atau harapan bagi kesimpulan yang bisa dikuantifikasikan (diukur secara numerik).

Pertanyaan tertutup dapat menghemat waktu karena lebih spesifik. Pertanyaan semacam ini biasanya menghasilkan jawaban-jawaban pendek, lebih berjarak dari pemberi wawancara, dan kurang memberi peluang partisipasi. Pertanyaan tertutup berguna untuk memperoleh informasi faktual. Informasi presisi itu merupakan hasil dari pertanyaan yang bisa dikuantifikasikan, yang dapat memberikan angka spesifik atau statistik yang otoritatif dan dapat digunakan dalam penulisan.

Pewawancara, yang membutuhkan anekdot untuk tulisan tentang profil seseorang, akan lebih berhasil jika menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka. Wawancara memang akan berlangsung lebih lama, namun pemberi wawancara akan merasa lebih percaya dan lebih bersedia memberikan anekdot khas dan pengamatannya.

Sedangkan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan tertutup lebih cocok untuk penulisan berita yang cepat atau untuk situasi di mana wartawan membutuhkan jawaban spesifik pada periode waktu yang singkat. Pewawancara yang baik dapat mengkombinasikan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan tertutup, untuk membuat tulisan dengan rincian spesifik, tetapi juga diwarnai oleh anekdot pemberi wawancara.


Sifat Wawancara

Di dalam lingkungan pers internasional dikenal wawancara yang sifatnya berbeda-beda. Antara lain:
On the Record. Nama dan jabatan pemberi wawancara dapat digunakan sebagai sumber, dan keterangannya boleh dikutip langsung serta dimuat di media massa. Ini adalah bentuk wawancara yang terbaik dan paling umum dilakukan di media massa.

Off the Record. Pemberi wawancara tidak dapat digunakan sebagai sumber dan keterangannya sama sekali tidak boleh dimuat di media massa. Jurnalis harus berusaha keras menghindari situasi seperti ini.

Background. Boleh menggunakan kutipan langsung atau menyiarkan keterangan apapun yang diberikan, tetapi tanpa menyebutkan nama dan jabatan pemberi wawancara sebagai sumbernya. Misalnya, digunakan istilah “menurut sumber di departemen/badan...” menurut persyaratan yang disepakati dengan pemberi wawancara. Kadang-kadang disebut juga “not for attribution”.

Deep Background. Informasi bisa dimuat, tetapi tidak boleh menggunakan kutipan langsung atau menyebut nama, jabatan, dan instansi pemberi wawancara.

Reporter harus memberitahu redaktur tentang sifat wawancara yang dilakukannya. Apapun bentuk kesepakatan yang telah dicapai dengan pemberi wawancara, itu harus dihormati dan terwujud dalam pemberitaan. Kalau pemberi wawancara tidak ingin disebut namna dan jabatannya, misalnya, nama dan jabatannya itu tegas tidak boleh dimuat. Redaktur perlu diberitahu karena begitu berita hasil wawancara itu dimuat, tanggung jawab atas isi berita tidak lagi terletak di pundak reporter, tetapi menjadi tanggungjawab institusi media bersangkutan.

Meskipun pemberi wawancara berhak menyembunyikan identitasnya, wartawan sedapat mungkin harus meyakinkan pemberi wawancara agar bersedia disebutkan identitasnya. Sebab, apabila terlalu banyak sumber berita yang tidak jelas identitasnya, kredibilitas wartawan dipertaruhkan. Tingkat kepercayaan pembaca terhadap isi tulisannya juga semakin besar, seolah-olah isi tulisan itu hanya berdasarkan gosip, isu, kabar angin atau bahkan “karangan” wartawan belaka.

Keraguan ini muncul bisa jadi karena adanya praktek pelanggaran kode etik yang dilakukan sejumlah wartawan Indonesia. Misalnya, sejumlah artis mengeluh karena ditulis begini dan begitu, padahal artis ini tidak merasa pernah diwawancarai wartawan bersangkutan. Namun karena posisi artis yang sangat membutuhkan publisitas dan dukungan media massa, para artis ini tidak mau ribut-ribut ke Dewan Pers atau pengadilan mengadukan masalahnya.


Referensi:

Biagi, Shirley (1986). Interviews That Works: A Practical Guide for Journalists. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.

Gil, Generoso J. (1993). Wartawan Asia: Penuntun Mengenai Teknik Membuat Berita. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Pakpahan, Roy (ed.) (1998). Penuntun Program Jurnalistik Terpadu Bagi Kalangan LSM. Jakarta: INPI-Pact-SMPI.

Reddick, Randy, dan Elliot King (1996). Internet untuk Wartawan. Internet untuk Semua Orang. (Penerjemah: Masri Maris). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -