Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2011

Salaf adalah Islam Nusantara , Bukan Wahabi


Ada beda pengertian antara arti salaf seperti yang datang dari Timur Tengah, dan arti Salaf yang lahir dari khazanah dan kekayaan Islam Nusantara



Umat Islam tentu tidak ingin terpecah-pecah. Meski berbeda-beda tapi tidaklah seharusnya membawa perpecahan . NU dan Muhammadiyah misalnya, adalah asset umat Islam Nusantara. Mereka lah pembentuk karakter keislaman tanah air.

Kita tahu dalam sejarah , perjuangan melawan penjajan dilakukan oleh para ulamadan guru-guru agama. Ketika itu organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah ikut dalam perjuangan politik membawa masing- masing aspirasi untuk komunitas dan Jamaahnya, dan juga kemaslahatan untuk bangsa dan Negara.

Tentu, ada gesekan antara keduanya, apalagi dipanas-panasi oleh kemunculan orang-orang berjenggotdari Timur Tengah. Mereka membawa bendera “Salafi”. Sesuai dengan pengertian yang mereka terimadari paham wahabi. Mereka menjadika NU dan Muhammadiyah sebagai target sasaran. Mereka menganggap Muhammadiyah tidak lagi puritan dan ti\idak lagi murni. Sementara NU dianggap oleh mereka banyak melakukan Bid’ah, khurafat dan kemusyrikan.

Dan tidak hanya itu, untuk memperlemah kekuatannya, Nu dan Muhammadiyah diadu-domba. Sehingga mereka bertengkardalam masalah yang sepele, seperti masalah qunut dan Tarowih. Oleh Karen itu kita patut menyambut baik inisiatif yang bagus sekali dari pimpinan NU dan Muhammadiyahyang berupaya menyatukan langkah dalam membela dan melindungi umat. Sadar akan bahaya terhadap masa depan dunia Islam, NU dan Muhammadiyah bertekad menyatukan langkah untuk membangun Indonesia dan Islam yang maju, kuat dan solid.

Ada dua prinsip dasar yang membuat Pak Hasyim Muzadi dan Pak Din Syamsudin bertemu beberapa waktu yang lalu untuk menyatukan langkah tesebut. Pertama, prinsip tegas akan pentingnya menegakan kerukunan social dan kesatuan nasional. Kedua, sikap politik luar negri bangsa kita yang bebas dan aktif serta menolak segala bentuk ketundukan dan campur tangan asing dalam bentuk apapun.

Ikatan persatuan ini pernah diupayakan oleh sejumlah ulama yang mendirikan NU pada tahun 1926. Waktu itu, mereka menghadapi tantangan global; kebangkitan fundamentalisme agama dalam baju wahabi dan puritanisme, serta kolonialisme Belanda yang menjarah kekayaan bangsa muslim serta memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Kelompok pertama mengancam kelestarian dan kelangsungan cara beragamayang berorientasi madzhab, serta merusak keberlangsungan tatanan budaya bangsa yang plural. Sementara yang kedua mengancam kelangsungan umat Islam sebagai sebuah bangsa yang dipersatukan oleh ikatan tanah air tempat mereka lahir dan berpijak.

Oleh karena itu, menghadapi konteks global sekarang ini, dua ormas Islam terbesar di Indonesia menjadi contoh dari dua bentuk paham keagamaan “salafi” yang tetap menjaga persatuan, meski berbeda. NU dikenal dengan kumpulan para ulama dan kiai pesantren yang berwatak nasionalis dan membela bangsa ini. Sementara Muhammadiyah adalah himpunan para arsitek dan menejer professional yang cakap mengurus kegiatan amal sosial.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyairan Islam UIN SUKA Yogyakarta.
READMORE -

Memahami Arti Salaf Secara Arif


Umat Islam jangan cepat tergoda dengan istilah baru. Meski maknanya bagus, tapi justru sering menyesatkan. Seperti istilah salaf yang banyak muncul kini.



Belakangan ini ada kesilap-pahaman dalam memahami makna salaf. Orang biasanya menyamakan dengan tasaluf, berlagak seperti salaf. Misalnya orang-orang yang berlagak mengikuti salaf dengan bersorban, berpakaian serba putih, berjenggot, dan beribadah dengan seketat-ketatnya dan semurni-murninya. Katanya mengikuti umat Islam generasi salaf terdahulu.

Kata salaf secara lughawi semakna dengan kata qobla yang berarti sebelum atau yang lampau. Kata ini sering dilawankan dengan khalaf, yang berarti belakangan. Dalam perkembangannya makna Salaf menyempit untuk menyebut suatu babakan histories tertentu dalam sejarah Islam yang berwenang memberi legitimasi ajaran Islam atas kurun dan sesudahnya.

Menurut Dr. Muhammad Said Ramadan al-Buthi, otoritas tersebut hanyalah melekat pada tiga generasi awal Islam, yakni para Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Pemahaman Muhammad Said Ramadan tersebut mungkin banyak diilhami oleh sabda Nabi, “Sebaik-baik kurun adalah masa saya, kemudian yang mengikutinya, lalu yang mengikutinya.

Pandangan seperti ini cukup mendasar. Soal perioda tersebut memang sangat dekat dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan sumber otoritas doktrin-doktrin Islam yang kemudian dituangkan dalam AlQuran dan Hadits.

Sudah selayaknya jika generasi sahabat pendamping setia Nabi, lebih banyak mendengar langsung ajaran Islam dari beliau. Bahkan menyaksikan langsung segenap derap langkah dan grak-gerik Nabi, sehingga otoritas mereka tidak diragukan lagi. Hal serupa dapat pula kita temukan pada generasi tabiin, dan generasi Tabiit Tabiin.

Namun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, umat Iskam terbelah dalam partai-partai politik atau firoq Al Islamiah. Ini mengarah pada munculnya sekte-sekte dalam teologi. Tragedi ini membawa dampak yang serius bagi karakteristik SALAf. Mau tidak mau fanatisme kelompok dan aliran menjadi pegangan masing-masing individu umat Islam.

Jelas, hal ini mematahkan kadar obyektivitas dan keutuhan mereka dalam menyikapi otoritas salaf. Dalam pandangan kelompok jumhur Ulama, yakni kalangan Sunni generasi Tabiit Tabiin dan para pengikutnya, para khalifah yang empat semuanya memiliki otoritas salaf.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA
READMORE -

Sabtu, 14 Mei 2011

NII VS Dakwah Kampus


Belakangan ini, kasus NII mencuat begitu cepat. Respon masayarakat terhadap kasus ini pun bagaikan rumput yang tumbuh di kala musim hujan, begitu banyak dan cepat. Isu seperti ini menjadi isu dominan di negeri muslim terbesar di dunia, yakni di Indonesia. Ya.. kalau tidak tentang isu terorisme, islam radikal (fundamentalis), aliran sesat, atau tentang pluralisme. Dan ketika di amati dari waktu ke waktu, isu akan berkutat itu-itu saja yang pada akhirnya akan membawa dampak buruk kepada kaum muslim. Lantas ada apa dibalik semua ini ? Ada baiknya untuk kasus NII yang belakangan ini mencuat dilakukan anlisis dimulai dari sisi historis NII di Indonesia.

Awal Mula NII di Indonesia
Negara Islam Indonesia (disingkat NII) juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI yang secara bahasa berarti "Rumah Islam" adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. SM. Kartosuwiryo yang merupakan orang kepercayaan H.O.S Cokroaminto.

Gerakan ini menginginkan Indonesia menjadi negara teokrasi (negara Ketuhanan) dengan agama Islam sebagai dasar negara. NII ini dibentuknya sebagai buah dari usaha untuk merekonstruksi runtuhnya khilafah Islam Turki Usmani pada tahun 1924 akibat penghianatan besar oleh Mustafa Kemal [1]. Gerakan ini menginginkan Indonesia menjadi negara teokrasi (negara Ketuhanan) dengan agama Islam sebagai dasar negara.

Setelah peristiwa itu, tidak ada lagi komando terpusat kepemimpinan islam yang menyatuakan dan menyelaraskan gerak langkah dakwah islam. Ini adalah tonggak dasar bahwa pada detik itu ummat islam berada ditengah-tengah laut yang tidak tahu kapal apa yang ia ada diatasnya dan akan kemana perginya tanpa seorang nahkoda.

Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan dan Aceh, hingga pada akhirnya Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dijatuhkan hukuman mati kepadanya pada pengadilan Mahadper tanggal 16 Agustus 1962 [2]. Paca peristiwa ini pergererakan NII menjadi terpecah-belah.

NII masa kini (KW9)
Dalam proses pencapaian suatu tujuan akan turut terpengaruh oleh orang-orang yang akan membawanya. Inilah sebuah statement yang dirasa pas untuk menanggapi kasus NII belakangan ini. NII yang pada awalya dibentuk dengan tujuan murni yakni menginginkan Indonesia menjadi negara teokrasi (negara Ketuhanan) dengan agama Islam sebagai dasar negara sekarang telah tercampur oleh orang-orang yang ada didalamnya. Dia adalah Abu Toto Panji Gumilang, tokoh utama gerakan ini yang sekarang lebih dikenal dengan NII KW9 (komandemen wilayah 9).

Dalam prosesrekrutmen anggotannya, setiap anggota yang masuk NII KW 9 harus dibaiat dan membayar shodaqoh hijrah dalam jumlah yang telah ditetapkan sebagai pembersih jiwa dan tanda perpindahan kewarganegaraan RI menjadi warga negara NII KW 9. Setelah masuk ke dalam organisasi NII KW 9, setiap anggota diwajibkan menjalankan program, seperti binayah al-aqidah (pembinaan akidah), binayah al-dzarfiyah (pembinaan teritorial), binayah mas'uliyah (pembinaan aparatur), binayah maliyah (pembinaan keuangan), dan binayah al-shiilah wal al-muwashalah (pembinaan komunikasi).

Mereka Jelas Berbeda
Dalam sebuah wawancara antara pihak detik.com dengan Chaidar (mantan NII), Chaidar menyebutkan bahwa NII KW9 adalah program palsu yang memakan banyak korban. Berikut petikan wawancaranya [3]
Detik.com : Anda pernah masuk lingkaran dalam Ponpes Al Zaytun? Dan apakah benar ada doktrinasi NII dalam Al Zaytun?

Chaidar : Iya, seperti misalnya mendoktrin orang di luar itu adalah kafir, menipu boleh, mencuri.

Detik.com : Jadi sebenarnya, tujuannya itu mengumpulkan harta atau benar-benar untuk mendirikan negara Islam?

Chaidar : Ya mengumpulkan harta, tidak berniat untuk mendirikan (negara Islam).

Detik.com : Apa imbauan Anda terhadap masyarakat dan pemerintah agar kasus-kasus NII KW 9 ini berhenti?

Chaidar : Harusnya memang dihentikan program defeksi, palsu, ini karena sangat merugikan masyarakat.

Detik.com : Bagaimana dengan NII Crisis Center yang dibentuk di berbagai kampus?

Chaidar : Iya sebenarnya itu suatu antisipasi yang cukup bagus, cuma saja perlu lebih dikenalkan bahwa ini bukan NII, ini adalah NII palsu karena NII asli nggak menghalalkan segala cara.

Dari petikan wawancara diatas jelas sudah terdapat perbedaan yang besar dan mendasar antara NII saat awal mula dibentuk oleh Kartosoewiryo dengan NII KW9 oleh Abu Toto Panji Gumilang. NII pada awal berdiri benar-benar murni didasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah, sedangkan NII KW9 sekarang telah menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya dan di dalamnya banyak penyimpangan yang terjadi dalam tataran syariat.

Penyimpangan tersebut antara lain dalam hal mobilisasi dana yang mengatasnamakan ajaran Islam yang diselewengkan, penafsiran ayat-ayat Al-Quran yang menyimpang, dan mengkafirkan kelompok di luar organisasi mereka serta dalam zakat fitrah dan kurban [4].

Layaknya analogi pembentukan kekebalan tubuh terhadap suatu virus penyakit. Untuk mendapatkan anti virus dari suatu virus penyakit, maka dapat dilakukan dengan jalan memasukkan virus penyakit tersebut (yang sudah dilemahkan) ke dalam tubuh manusia, sehingga dengan sendirinya sistem yang ada didalam tubuh akan membentuk anti virus dari virus penyakit yang telah dimasukkan.

Jika dianalisis lebih jauh, ini sama halnya kasus NII KW9 yang menumpang dengan embel-embel gerakan islam sengaja dihembuskan dalam sistem masyarakat, sehingga masyarakat dengan sendirinya akan memberikan “sikap antipati” terhadap semua gerakan islam.

Dari sinilah titik balik untuk mendapatkan kesadaran secara penuh, dari petikan dialog dengan mantan NII sendiri diatas sudah sangat tergambar jelas latar belakang NII yang sekarang (KW9). Saat ini telah terjadi konspirasi global yang mencoba untuk melemahkan kubu islam. Mulai dari mengobok-obok internal umat islam seperti isu-isu berbagai aliran sesat dalam tubuh islam, tudingan islam radikal hingga mencemari islam dengan budaya-budaya barat.

Di saat terjadi peristiwa ledakan bom dengan serta merta tudingan itu mengarah kepada pihak islam. Ada sebuah pertanyaan mendasar yang seharusnya dijawab dari sini, ketika paham barat sangat menonjolkan konsep demokrasi, kebebasan berekspresi dan menjunjunga tinggi hak asasi manusia, maka jika dibandingkan dengan skala yang lebih besar lagi seperti serangan Amerika ke Afghanistan, serangan israel ke palestina yang sampai saat ini masih berkelanjutan, ini jelas-jelas sebuah tindak kriminalisme yang lebih besar. Akan tetapi dunia hanya bungkam, konsep demokrasi dan menjunjung tinggi hak asasi manusia yang mereka elu-elukan mereka jawab dengan sebuah pengingkaran.

Dakwah Kampus ?
Dengan adanya isu ini mau tidak mau akan meberikan efek negatif kepada gerakan dakwah kampus. Orang tua akan was-was dan mebatasi anak-anaknya untuk mengikuti kegiatan keagamaan seperi Asistensi Agama Islam atau sekedar kajian keislaman apalagi untuk bergabung dalam sebuah organisasi berlabelkan islam.

Jika dakwah kampus dikatakan sebagai sebuah sistem, dan bisa jadi ada aliran “sesat” yang mencoba untuk menyusupi sistem tersebut, maka solusinya adalah dengan menciptakan imunitas bagi sitem tersebut (dakwah kampus) dan konsep monitoring agar dakwah kampus berjalan sesuai dengan fitrahnya (mengajak kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran dan mengimani pencipta Jagad raya ini), bukan berari sistem itu yang malah ditiadakan.

Dakwah kampus adalah salah satu penopang pendidikan karakter di kampus, peranannya pun sangatlah penting. Jadi isu seperti ini tidaklah dijadikan untuk melemahkannya. Justru dengan adanya isu-isu seperti ini, sudah seharusnya ummat islam lebih giat lagi dalam menuntut ilmu agama dan meningkatkan sikap kritis terhadap segala sesuatu dengan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai landasan dasar berpikir.

Isu-isu miring tentang islam yang sering terjadi ketika disandingkan dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka semuanya akan terjawab sudah. Islam ialah agama langsung dari Tuhan, agama yang paripurna dan memberikan konsep secara lengkap untuk menjawab dialektika kehidupan. Rasulullah SAW pernah bersabda bawasannya “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga, Pen.).” (HR. Imam Malik) Sumber: eramuslim.com

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Jumat, 29 April 2011

Ketika Salafi Mengepung Yaman


Salafisme sebenarnya adalah sebuah konsep yang agak baru di Yaman. Gerakan ini didirikan di Yaman tidak lebih dari 30 tahun lalu seiring kembalinya Syekh Muqbil Bin Haadi Al-Waadi'ee dari Arab Saudi pada awal 1980 ketika terjadi pengepungan Makkah pada 1979, di mana ia dihukum penjara dan deportasi dari Arab Saudi—karena menulis sebuah surat kepada kelompok pengepung.

Dengan kembalinya Syekh Muqbil ke Masqat di kota Sadah pada awal 1980-an, ia mendirikan sebuah komite yang kemudian menjadi tempat kelahiran semua kelompok Salafi di Yaman seperti Al-Hikma, Al-Ihsan, Dammaj yang dipimpin Syekh Yahya Al-Hajuri, dan kelompok Salafi yang dibentuk Syekh Mesir yang dikenal sebagai Abul Hassan Al-Ma'ribi.

Menggunakan istilah "gerakan" terhadap kelompok-kelompok ini lebih merupakan metafora dari kenyataannya, karena kegiatan kelompok-kelompok ini tidak memiliki sense organisasi seperti Ikhwanul Muslimin, Kaum Kiri, dan lainnya. Kegiatan Salafi cenderung serampangan dan tergantung improvisasi. Kegiatan mereka terbatas pada organisasi amal, atau seminar mingguan atau bulanan. Bahkan kegiatan ini terbatas pada mereka yang disebut sebagai "mahasiswa studi Islam".

Setelah kurikulum lembaga pendidikan Salafi diakui pemerintah, kelompok Salafi yang terlibat dalam kegiatan advokasi dan amal, mulai menarik mahasiswa, terutama mereka yang belajar di perguruan tinggi yang mengadopsi kurikulum Islam.

Gerakan dan kurikulum pendidikan tidak secara tegas mendefinisikan kelompok-kelompok ini, dengan pengecualian inisiatif kelompok Al-Ihsan yang mengadopsi kurikulum Ikhwanul Muslim-nya Syekh Mohammed Bin Nayef Suroor dan buku-bukunya, serta karya-karya sastra Sayyid Qutb dan Muhammad Qutb.

Dua Tren Utama Salafi
Mungkin dapat dikatakan bahwa Salafisme Yamani didasari dari dua tren utama. Yang pertama adalah tren pergerakan, sebagaimana ditunjukkan kelompok Al-Ihsan dan Al-Hikma. Kecenderungan kedua adalah apa yang disebut tren "tradisional", seperti kelompok-kelompok Salafi yang dinamai sesuai Syekh pendirinya.

Kelompok-kelompok tren tradisional cenderung menjadi kelompok-kelompok kecil yang elitis, kurang signifikan dan kurang populer karena terisolasi dari masyarakat. Oleh sebab itu, Salafi pergerakan cenderung memiliki lebih banyak pengikut dan lebih populer di Yaman—terutama dua kelompok utama, Al-Ihsan dan Al-Hikma.

Al-Hikma adalah kelompok Salafi pergerakan yang didirikan pada awal 1990-an sebagai pembalasan terhadap pemikiran Salafi ekstrimis yang dimunculkan Syekh Muqbil sehubungan dengan kemustahilan mendirikan organisasi-organisasi amal.

Pada tahap ini, sejumlah mahasiswa Syekh Muqbil kemudian mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Al-Hikma Al-Yamania pada 21 Agustus 1990, sebagai sebuah organisasi yang menyatukan semua Salafi yang tak lagi bisa 'setelanjang' ideologi ekstremis Syekh Muqbil.

Pada awalnya, kurikulum ideologi dan pendidikan kelompok ini, khususnya pada tahap inisiasi, adalah sebagaimana kurikulum yang diajarkan di Arab Saudi, terutama masalah tauhid. Dengan sikap yang demikian, kelompok ini menyebarkan ke negara-negara Sunni terbesar di dunia Islam.

Kantor pusat Asosiasi Al-Hima terletak di Taiz dan Ibb yang dipimpin oleh Syekh Mohammed Al-Mahdi. Kelompok ini juga mendirikan kantor cabang di Hadhramaut yang dipimpin oleh Syekh Ahmed Al-Mualm, serta di Aden, Al-Hudaydah, dan kota-kota lain yang mengikuti sekolah pemikiran Syafi'i.

Kegiatan asosiasi ini terbatas pada advokasi dan amal, di mana mereka memiliki sejumlah pusat perkumpulan pemuda dan secara islami mempersiapkan mereka untuk disebarkan ke masjid-masjid yang mereka bangun atas biaya sendiri untuk menyebarkan "iman yang benar". Yang paling menonjol adalah Institute Al-Furqan di Taiz yang turut merangkum sistem pendidikan negara setelah 2002.

Secara ideologis, asosiasi mungkin yang paling terbuka dibandingkan dengan tren kelompok Islam lainnya seperti Ikhwanul Muslimin. Mereka juga menerima perubahan politik seperti demokrasi yang sebelumnya dianggap tidak islami. Al-Hikma ingin menunjukkan diri sebagai kelompok yang memiliki kepedulian tinggi pada dunia Islam, seperti isu-isu Palestina.

Sedangkan Salafi Al-Ihsan merupakan pecahan Al-Hikma yang membelot pada 1992, dua tahun setelah berdirinya karena adanya konflik internal. Sehubungan dengan alasan konflik yang menyebabkan perpecahan ini, menjadi jelas bahwa semuanya berurusan dengan rezim, terutama rezim-rezim demokratis, karena perbedaan pendapat mereka dalam masalah pemilu. Kebenaran tersembunyi tentang Al-Ihsan adalah bahwa ia merupakan cabang ideologi mantan anggota Ikhwanul Muslimin, Syekh Mohammed Suroor bin Nayef.

Salafi Al-Ihsan mengelola sejumlah organisasi pendidikan dan proyek, yang paling menonjol di antaranya adalah pusat pendidikan Al-Dawa di Sana'a, Universitas Al-Andalus, dan Al-Sadeeq Center. Meskipun kelompok menunjukkan dukungan luas terhadap isu-isu Islam seperti Palestina, dan tegas berdiri di belakang Hamas, namun tidak diketahui secara pasti adanya dukungan nyata mereka terhadap Hamas.

Adapun kelompok Salafi tradisional, adalah semua kelompok Salafi yang dipimpin dan dinamai dengan Syekh pendirinya. Salah satunya yang dipimpin oleh Syekh Abul-Hassan Al-Masri di Ma'rib.

Meskipun demikian, kelompok-kelompok kecil Salafi tradisional yang elitis ini tidak memiliki pengikut yang signifikan dan kurang populer, karena pembelaan diri dan dan kritik mereka terhadap kelompok Islam lain—yang tak lagi dapat digolongkan sebagai konflik ideologis, namun hanya konflik pribadi.

Secara ideologis, kelompok-kelompok ini tidak memiliki toleransi terhadap pikiran dan ide-ide yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Mereka kerap melakukan takfir (menyatakan orang lain kafir), meskipun mengklaim sebagai penentang takfir. Kelompok ini cenderung tidak tertarik terhadap isu-isu politik, ideologi, atau budaya, bahkan pada masalah Palestina sekalipun. Sumber: Islam Online

Heru Cahyono Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2010.
READMORE -

Kamis, 14 April 2011

SEJARAH KERAJAAN SAFAWI


Sejarah Kerajaan Safawi
Oleh : Heru Cahyono (10210104)

Latar Belakang dan Sejarah
Ketika kerajaan Usmani sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Safawi di Persia baru berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Berbeda dengan dua kerajaan besar lainnya yaitu Usmani dan Mughal, kerajaan Safawi menganut mazhab Syi’ah sebagai mazhab Negara. Oleh karena itu, kerajaan ini dapat dianggap sebagai peletak dasar terbentuknya Negara Iran.
Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan Tarekat yang berdiri di Ardabil. Tarekat ini bernama Tarekat safawiyah yang namanya diambil dari nama pendirinya yaitu Safi al-Din. Tarekat ini berdiri hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani.
Safi al-Din merupakan keturunan Imam Syi’ah yang keenam yaitu Musa al-Kazhim. Safi al-Din mendirikan tarekat Safawiyah menggantikan guru sekaligus ayah mertuanya yaitu Syaikh Taj al-Din Ibrahim Zahidi. Tujuan utama didirikannya tarekat ini adalah untuk memerangi orang-orang yang ingkar, kemudian memerangi orang-orang yang disebut sebagai ahli bid’ah. Tarekat ini kemudian berkembang dari tasawuf murni yang bersifat local menjadi gerakan keagamaan yang berpengaruh di Persia, Syiria, dan Anatolia. Di negeri-negeri di luar Ardabil, Safi al-di menempatkan wakilnya yang diberi gelar KHALIFAH.
Suatu ajaran agama yang dipegang secara fanatic biasanya kerap kali menimbulkan keinginan untuk berkuasa. Keinginan memasuki dunia politik ini mendapat kesempatana pada masa kepemimpinana Juneid (1447-1460). Dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Hal ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (dimba hitam). Dalam konflik tersebut, Juneid kalah dan diasingkan kesuatu tempat. Selama pengasingan, Juneid menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi dengan Uzun Hasan. Pada 1459 M, ia berusaha merebut Ardabil,tetapi gagal. Pada 1460 M, ia berusaha merebut Sircassia tetapi gagal dan terbunuh.
Haidar adalah anak Juneid yang resmi menggantikannya pada tahun 1470 M yang kemudian menikah dengan salah satu putri Uzur Hasan. Dari pernikahan inilah akan lahir Ismail yang kelak akan menjadi pendiri Kerajaan safawi di Persia.
Kemenangan AK Koyunlu membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin Haidar sebagai rival politik dalam meraih kekuasaan selanjutnya, padahal AK Koyunlu adalah sekutu Safawi. AK Koyunlu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan Dinasti Safawi. Ali, putra dan pengganti Haidar didesak untuk membalas kematian ayahnya terhadap AK Koyunlu,tetapi pemimpin AK Koyunlu dapat menangkap Ali, Ibrahim dan Ismail di Fars. Mereka dibebaskan dengan syarat membantu Rustam untuk memerangi saudara sepupunya, tetapi kemudian Rustam berkhianat dan membunuh Ali.
Kepemimpinan Safawi selanjutnya berada di tangan Ismail. Selama lima tahun di Gilan, Ismail mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya yang kemudian bersatu membentuk pasukan QIZILBASH (baret merah). Pada 1501 M pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu dan terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK Koyunlu dan berhasil mendudukinya. Disinilah Ismail memproklamirkan diri sebagai raja pertama dinasti Safawi yang kemudian disebut Ismail I. Ia berkuasa selama 23 tahun (1501-1524 M). Dalam waktu sepuluh tahun ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Hanya dalam masa sepuluh tahun wilayah kekuasaannya sudah meliputi Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur. Ambisi politik mendorongnya untuk mengembangkan sayap menguasai daerah-daerah lainnya bahkan ke Turki Usmani. Ismail mengahadapi musuh yang kuat dan membenci golongan Syi’ah. Peperangan antara Safawi dan Turki Usmani terjadi pada 1514 M di Chaldiran dekat Tabriz yang menyebabakan Safawi mengalami kekalahan sehinnga Tabriz dapat dikuasai oleh Turki Usmani.
Kekalahan tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail sehingga ia lebih senang menyendiri, berburu dan hura-hura. Hal ini mengakibatkan terjadinya persaingan segitiga antara suku-suku Turki, pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbash untuk merebut pengaruh dalam memimpin Safawi.
Keadaan ini baru dapat diatasi setelah Safawi dipimpin oleh Raja Abbas I yang memerintah dari tahun 1588-1628 M. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam memulihkan kerajaan Safawi adalah dengan cara :
1. Menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan membentuk pasukan baru yang beranggotakan budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan sircassia.
2. Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara Abbas I berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam ( Abu Bakar, Umar, Usman ) dalam khotbah Jumatnya.
Usaha-usaha tersebut berhasil membuat Safawi kembali kuat. Abbas I kemudian memusatkan perhatiannya untuk merebut kembali daerah kekuasaan yang hilang. Pada masa kekuasaan abbas I merupakan masa kejayaan dinasti Safawi. Kemajuan-kemajuan yang berhasil dicapai antara lain :
1. Secara politik ia mampu mengatasi kemelut didalam negeri yang mengganggu stabilitas Negara dan berhasil merebut wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa sebelumnya.
2. Dalam bidang ekonomi terjadi perkembangan ekonomi yang pesat setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Hal ini dikarenakan Bandar ini merupakan salah satu jalur dagang antaraTimur dan Barat. Selain itu Safawi juga mengalami kemajuan sector pertanian terutama didaerah Bulan sabit subur (fortile crescent).
3. Dalam bidang ilmu pengetahuan. Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa dam mengembangkan ilmu pengetahuan. Beberapa ilmuwan yang hadir di majlis istana antara lain, Baha al-Din (generalis iptek), Muhammad Baqir ibn Muhammad Damad (teolog,filosof,observatory kehidupan laba-laba). Dalam bidang ilmu pengetahuan, Safawi lebih mengalami kemajuan dari pada kerajaan Mughal dan Turki Usmani.
4. Dalam bidang Pembangunan Fisik dan Seni. Para penguasa kerajaan menjadikan Isfahan menjadi kota yang sangat indah. Disana terdapat bangunan-bangunan besar dan indah seperti masjid, rumah sakit, sekolah, jembatan rakasasa di atas Zende Rudd an istana Chilil Sutun. Dalam hal seni, terdapat dalam kemajuan pada arsitektur bangunan yang terlihat pada mesjid Shah yang dibangun pada 1611 M dan mesjid Lutf Allah yang dibangunpada 1603 M. Terlihat pula adanya peninggalan berbentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar, dll.seni lukis mulai dirintis pada masa raja Tahmasp I.
Demikiankah bentuk-bentuk kemajuan yang dicapai kerajaan Safawi hingga kemudian berangsur mengalami kemunduran. Kemajuan yang dicapai Safawi menjadikannya sebagai slah satu kerajaan besar yang disegani lawan politik dan militernya. Kerajaan ini juga telah memberikan kontribusinya dalam mengisi peradaban Islam melalui kemajuan-kemajuan dalam bidang ekonmi, peninggalan seni, dan gedung bersejarah.
Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Sepeninggal Abbas I, Safawi diperintah oleh enam raja berturut-turut tetapi tidak menunjukkan adanya kenaikan yang berarti tetapi menunjukkan kemunduran yang membawa pada kehancuran. Safi Mirza adalah cucu Abbas I yang merupakan pemimpin yang lemah dan sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga jatuh sakit dan meninggal. Sulaiman juga seorang pemabuk.dan bersikap kejam terhadap pembesar yang dicurigainya. Sehingga rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintah. Shah Husein yang menggantikannya memberi kekuasaan yang besar terhadap para ulama Syi’ah untuk memaksakan kehendak terhadap ulama Sunni sehingga menimbulkan kemarahan golongan Sunni Afghanistan sehingga memberontak dan berhasil menghancurkan kekuasaan dinasti Safawi.
Sebab-sebab kemunduran Safawi antara lain :
1. Konflik panjang dengan kerajaan Turki Usmani. Hal ini disebabkan oleh perbedaan mazhab antara kedua kerajaan.
2. Adanya dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin Safawi.
3. Pasukam Ghulam yang dibentuk abbas I tidak memiliki semangat perang seperti Qilzibash yang dikarenakan pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlati dan tidak melalui proses pendidikan rohani.
4. Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Sharqawi, ahmad. 1986. Filsafat Kebudayaan Islam. Bandung : Pustaka
Yatim, Badri. 2004. Sejarah Peradaban Islam dirasah Islamiyah II. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Dr. Badri Yatim M.A. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. 2007.
Ajid Thohir. PERKEMBANGAN PERADABAN DI KAWAAN DUNIA ISLAM Melacak Akar-Akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. 2004.
Moh. Nurhakim. Sejarah dan Peradabab Islam. Malang: Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang. 2004.
Dudung Abdurahman, Siti Maryam (ed). Sejarah Peradaban Islam: dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: Penerbit Fak. Adab. 2002.
READMORE -