Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Januari 2012

Susahnya Akses Web Fakultas

Setelah selesai ujian semester ganjil, akhirnya mahasiswa mulai disibukkan dengan aktifitas untuk pembayaran SPP, selain itu mahasiswa juga harus mempersiapkan regristrasi dan memasukkan KRS. Ini dia yang sering terjadi dan menjadi masalah bagi mahasiswa. Sering kali web site fakultas tidak bisa di akses. Ini apakah di sengaja dari pihak fakultas, atau memang gangguan dari webnya itu sendiri. Saya tidak tahu, yang mana yang benar. Namun ini sangat tidak nyaman bagi mahasiswa seperti saya, ketika ingin melihat hasil ujian semester ganjil kemaren.

Saya harap, ketika ada gangguan dari web atau ada masalah, mohon pihak fakultas atau yang memegang web ini menginformasikan kepada mahasiswa. Agar mahasiswa tidak kecewa dengan layanan web ini. Terimakasih, Semoga kampus bisa memberikan solusi yang terbaik buat ini semua.
READMORE -

Rabu, 27 Juli 2011

Klaten Lagi Belajar Menghafal Qur'an

Klaten, 24/07/11. Lebih dari 1000 umat muslim Kabupaten Klaten mengikuti acara Do'a dan Tausyiah yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten. Dengan menghadirkan pembicara Ust. Yusuf Mansyur yang selama kurang lebih 60 menit membawakan tausyiahnya tentang Al-Qur'an sebagai awal dari segala hal dalam kehidupan/pedoman hidup.


Acara ini juga sekalian peresmian pondok pesantren penghafal alqur'an yang ada di Klaten. Diharapkan setelah peresmian ini santriwan dan santriwati yang ada dipondok ini semakin banyak, dan juga kepada masyarakat Kabupaten Klaten juga turut untuk ikut dalam program penghafal Qur'an. Secara resmi Ust. Yusuf M ini meresmikan Klaten Menghafal Qur'an. Besuk langsung saja pasang spanduk "Klaten Lagi Menghafal Qur'an" "one day one ayat". 


Coba sekarang jamaah menghafalkan surat yasin...ust. mengajak ayat pertama untuk di ucapkan....jamaahpun menyambutnya dengan mengucapkan yaasiiin...para jajaran pemerintahpun yang duduk di belakang Yusuf juga ikut mengucapkannya. Dah satu itu dah hafalkan? silahkan pulang....para jamaah langsung tertawa serempak...hehehe...


Banyak sekali kisah-kisah yang diceritakan Ust. ini tentang pengamalan-pengamalan beberapa surat dalam al-Qur'an salah satunya membaca surat yasin sebanyak 1000 x untuk mempercepat melunasi hutang yang di tanggungnya. Surat Al- Kahfi untuk memperlancar rezeki dan merubah nasib agar mendapat kebaikan dan keberuntungan. Dan surat-surat lainnya yang juga bisa membawa kebaikan jika diamalkan dengan baik.


Dalam penutupan ceramahnya jamaah diajak untuk mensodakohkan sebagian rezekinya untuk para santri-santri penghafal Qur'an ada yang memberikan uangnya dan ada juga yang memberikan cincin yang ada di tangannya. Bagi yang memberikan cincinnya diberikan doa khusus oleh Yusuf Mansyur agar keinginannya bisa cepat terkabulkan. Setelah hitungan mundur dari 10-1 ternyata banyak juga jamaah yang memberikan cincin itu kepada santri-santri yang ada di pondok pesantren penghafal Al-Qur'an. Dia juga melelang siapa yang sanggup memberikan uang sebesar 500 rb kepada pondok pesantren melalui DSH dengan pembayaran 20 rb perbulan untuk diberikan langsung kepada pondok pesantren, dengan begini Yusuf Mansyur mengajak kepada masyarakat untuk belajar bersodakoh sebagian rezekinya kepada yang memerlukannya. Hampir sebagian besar jamaah ikut dalam program 1 bulan 20 rb untuk anak yatim piatu yang menghafal Qur'an, semoga Allah membalas semua amal kebaikan umat muslim semuanya yang mau membagikan rezekinya. amien.....


Begitu penutupan tausyiah Ust. Yusuf Mansyur dalam kajian kemaren. Semoga bermanfaat.
Heru Cahyono, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta
READMORE -

Selasa, 12 Juli 2011

KPI Mencetak Jurnalis Profesional


UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 12 Juli 2011. Demi mencetak jurnalis-jurnalis profesional UIN Sunan Kalijaga Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam hari ini melaksanakan Pelatihan Jurnalistik Selama 3 hari dari tanggal 12-14 Juli 2011. Pelatihan ini diikuti oleh Mahasiswa dan Mahasiswi KPI Semester 6 (Wajib) kurang lebih sebanyak 80 Mahasiswa dan untuk semester 2 sebanyak 10 Mahasiswa.

Acara yang dimulai pada pukul 08.15 WIY (Waktu Indonesia Yogyakarta) dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah Bpk. Bakhri ini disambut meriah oleh peserta yang sangat antusias memperhatikan apa yang disampaikan oleh bapak Dekan ini. Dalam sambutan beliau pada pembukaan pelatihan Jurnalistik ini diharapkan peserta mengikuti sampai selesai dan bersungguh-sungguh dalam menjalainya agar nantinya peserta dapat menjadi Jurnalis yang diinginkan yaitu menjadi jurnalis profesional dan berkompeten dalam bidangnya.

Berbagai penghargaan dan kekaguman beliau kepada Mahasiswa-mahasiswa yang sudah memiliki karya sehingga mengangkat nama baik dirinya sendiri dan kampus. Penting sekali bagi mahasiswa yang mengikuti pelatihan jurnalistik ini untuk membuktikan kemampuan dan kreatifitasnya dalam memaksimalkan potensinya di dalam bidang yang akan ditekuni ini. Agar mahasiswa bisa benar-benar dapat menjalankan profesinya di dalam maupun di luar kampus.

Dengan tema "memaksimalkan potensi mahasiswa menjadi jurnalis profesional" Acara Pelatihan Jurnalistik di Buka,,,dok dok....prok prok prok....riuh gemuruh tepuk tangan peserta disambut riang gembira dalam pembukaan pelatihan jurnalistik ini.

Heru Cahyono, Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta.
READMORE -

Jumat, 27 Mei 2011

Semangat Sang Juara



klinting/// bunyi ada sms masuk di HPQ
"ru kamu dapet juara satu photo, Q yg wakilin, ada amplopnya juga....from..+6281226922..."

saya tahu sms ini dari Eka temen kampus saya, karena dia panitia Acara Gebyar KPI 2010. Tadi sebelum pulang dari kampus saya berpesan dengan Eka, kalau saya tidak bisa mengikuti acara puncak Gebyar KPI 2011, maka saya minta tolong ke Eka kalo nanti saya dikabarin hasil pengumuman lomba yang saya ikuti.

Habis sholat maghrib hp saya bunyi lagi dan langsung segera ku buka..ternyata pesan itu dari Bu Evi (Kajur KPI)"Jurusan KPI mengucapkan SELAMAT kepada HERU CAHYONO atas prestasinya sebgai Juara I Lomba Fotografi dalam Gebyar KPI 2011. Semoga menjadi fotografer handal dan Profesional..from: Bu Evi"

Puji Syukur langsung saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kekuatan dan hasil karya sehingga mendapatkan juara I dalam Gebyar KPI 2011. Temen-temen saya semua dari komunitas Akeroluh, temen-temen semua KPI angkatan 2010. Saya ucapkan banyak terimakasih atas dukungannya selama ini.

Ini menumbuhkan semangat saya untuk berkarya lagi dan lagi...dari sinilah semangat saya berkobar-kobar dan ingin sekali membuat karya lagi yang banyak dan dapat dinikmati banyak orang serta berbagai kalangan.

Ya Allah bimbinglah hambamu ini ke jalanmu dan bimbinglah saya untuk menggapai segala cita-cita dan angan-angan saya selama ini. Amien...

Heru Cahyono, Mahasiswa Prodi KPI Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

SUKSES BESAR GEBYAR KPI 2010


Yogyakarta, 27 Mei 2010. Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta telah SUKSES menggelar Gebyar KPI 2010, dengan perjuangan dan tekad Panitia pelaksana telah dibuktikan di hari puncak Gebyar ini telah hadir dan muncul bibit-bibit unggul dari berbagai karya mahasiswa KPI dari karya Jurnalistik, Fotografi, Audio Visual, dan Modeling.

Acara ini sangat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan prosedur yang direncanakan. Dari pembukaan dengan diadakannya Diskusi Panel yang diikuti semua mahasiswa KPI khususnya angkatan 2010. Lomba Presenter yang diikuti dari angkatan 2008-2010 kurang lebih 25 peserta lomba. Lomba Fotografi yang diikuti kurang lebih 80 karya foto dari mahasiswa KPI dari berbagai angkatan. Pameran Video Audio Visual dari mahasiswa yang diikuti oleh 20 mahasiswa dan 15 karya. Pameran Karya Jurnalistik berupa opini, puisi, cerpen, dll yang diikuti oleh 110 mahasiswa. Serta Lomba modeling baju muslim yang diikuti lebih dari 15 Mahasiswa.

Selamat buat para Juara Lomba Gebyar KPI 2010. Sukses buat kalian semua. Amien...

Heru Cahyono, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Selasa, 17 Mei 2011

12 Siswa SMA Muhammadiyah 1 Klaten di Ciduk Aparat




Akhirnya Aparat kepolisian Klaten berhasil menciduk 12 pelajar SMA Muhammadiyah 1 Klaten yang melakukan konvoi dijalan Ki Hajar Dewantara tepatnya di depan Kampus Universitas Widya Dharma Klaten. Aksi ini sangat mengganggu ketenangan kampus, mengganggu kenyamanan warga masyarakat dan mengganggu lalulintas yang ada dijalan ini.
READMORE -

Polisi Gelandang 12 Pelajar SMA Muh 1 Klaten


Klaten, 16 Mei 2011. Kurang lebih 12 Pelajar dari SMA Muhammadiyah 1 Klaten di Gelandang Oleh aparat kepolisian kota Klaten, untuk dimintai keterangan mengenai aksi konvoi yang dilakukan di Jl. Ki Hajar Dewantara tepatnya di depan kampus Universitas Widya Dharma Klaten. Aksi konvoi ini dilakukan dengan mengitari jalan kota Klaten dan masuk ke jalan perkampungan setelah menerima pengumuman kelulusan Ujian Nasional di Sekolahnya.

Mereka diciduk oleh aparat karena motor yang digunakan berkonvoi mengeluarkan suara yang keras, sehingga mengganggu ketenangan kampus dan warga sekitar. Selain itu mereka juga ugal-ugalan dalam mengendarai motor dijalan. Akhirnya polisi yang sedang patroli di kampus UNWIDHA langsung mengejar para pelajar tersebut dan meminta kunci motornya lalu mereka semua di Gelandang ke pos pengamanan yang berada di depan Terminal Klaten.

Dari hasil wawancara saya dengan petugas satlantas, bahwa 12 pelajar ini akan dimintai surat-surat kelengkapan motor dan di introgasi lalu diserahkan ke polres dilanjutkan ke bagian penilangan lalu dibawa ke pengadilan untuk diproses lanjut.

Aparat kepolisian membolehkan konvoi dijalan, asal sopan dan tidak mengganggu lalulintas jalan, tidak ugal-ugalan, dan tidak mengganggu ketenangan warga serta pengguna jalan lainnya.** Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Minggu, 15 Mei 2011

Tradisi Konvoi


Senin, 16 Mei 2011 pengumuman hasil UN. Sudah menjadi makanan kita bersama setelah pengumuman biasanya anak-anak pelajar SMA/Sederajat melakukan konvoi usai pengumuman UN. Konvoi adalah bentuk rasa senangnya seorang pelajar yang telah Lulus dari Ujian Nasional. Baju seragam disemprot warna merah, hijau, biru, hitam, dan pink. Bentuk coroetan dan tanda tangan di baju seragam itu menunjukkan kesenangan mereka.

Konvoi dengan menggunakan kendaraan bermotor yang beraksi di jalan-jalan kota itu biasanya mengundang tontonan bagi warga sekitar. Mereka mengitari kota yang ada ditempatnya secara bersama-sama dengan rekan pelajar yang lain dan berjingkrak-jingkrak di atas motor.

Terkadang adanya konvoi pelajar ini dapat menyebabkan macetnya jalan raya. Maka dari itu pihak polisi setempat harus siap siaga besuk pagi dan menjaga keamanan di jalan. Agar tidak terjadi tindak kekerasan dari pihak pelajar yang melakukan konvoi tersebut.

Diharapkan agar pelajar yang besuk pagi melakukan konvoi tidak melakukan hal-hal yang tidak baik/malah merugikan orang lain. Serta jangan sampai melakukan tindak kekerasan yang akan menimbulkan kerisuhan antar pelajar.

Selamat buat seluruh pelajar yang LULUS dalam UN tahun ini, dan bagi Pelajar yang BELUM LULUS diharapkan jangan berkecil hati. Tetap sabar dan berusaha terus untuk menuntut ilmu agar kelak bisa lebih baik lagi. Semangat dan Semangat!!!!

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

10 Temuan KontraS: TNI AD vs Warga Kebumen



Jakarta - Tim pencari fakta Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) baru saja menyelesaikan investigasinya untuk kasus bentrok antara warga dengan prajurit TNI di Kebumen, Jawa Tengah. Fokus pencarian fakta adalah rangkaian tindak kekerasan pada 16 April 2011 lalu.

Di dalam kerjanya tim menggunakan kerangka kerja yang digunakan hukum positif Indonesia. Yakni UU 39/1999 tentang HAM, UU 26/2000 tentang Pengadilan HAM, UU 5/1998 tentang Ratifikasi Konvensi anti penyiksaan, UU 11/2006 tentang ratifikasi Konvensi Hak Sipil dan Politik.

"Tim juga memperhatikan aturan-aturan terkait hukum militer dan tanggung jawab polisi dalam KHUPM, UU 31/1997 dan UU 2/2002 tentang Polri," kata Koordinator KontraS, Haris Azhar, dalam pengantar surat elektronik yang diterima redaksi detikcom, Minggu (15/5/2011).

Sementara jumlah saksi yang dianggap memenuhi layak diminta keterangannya ada 11 orang. Mereka adalah warga yang melihat langsung dan menjadi korban kekerasan pada saat, sebelum dan sesudah peristiwa terjadi.

Berikut ini 10 butir temuan tim pencari fakta KontraS di desa Setrojenar, Buluspesantren di mana peristiwa kekerasan terjadi;

1. Telah terjadi serang (kekerasan dan stereotype) terhadap warga sipil yang disengaja dilakukan oleh anggota TNI, Sabtu, 16 April 2011.

Sekitar pukul 14.30 – 15.00 WIB, sejumlah anggota TNI AD keluar dari Dislitbang AD II lengkap dengan senjata api laras panjang, stik/ tongkat bergerak mendekati kerumunan warga di perempatan Jl. Diponegoro. Jarak + 20 meter dari warga, anggota TNI AD tersebut mulai melepas tembakan ke arah warga, menyerang, menangkap, menyiksa dan menembaki sejumlah warga. Tindakan ini dilakukan sebagai respon atas aksi warga yang melakukan blokade.

Sekitar pukul 15.00 – 17.00 WIB, anggota TNI AD terus mengejar warga desa hingga ke sekitar menara pantau (arah Selatan) dan juga masuk ke Desa Setrojenar. Di desa Setrojenar, anggota TNI AD melakukan penyisiran terhadap beberapa warga desa. Sementara itu, blokade warga kembali dirusak.

Sekitar pukul 17.00 WIB, di salah satu rumah warga desa Setrojenar, anggota TNI AD mendobrak pintu depan rumah dan pintu kamar bahkan memberondong tembakan di dalam kamar tersebut.

Sekitar pukul 22.00 WIB, sejumlah anggota TNI AD kembali rumah tersebut hanya untuk membersihkan selongsong peluru. Dalam rangkaian tindakan kekerasan tersebut sempat terjadi ancaman kekerasan secara verbal berupa ucapan, “Mati Kau!..Mati Kau!”; “Biarin..Biarin Mati, Dasar Kamu PKI” yang dilontaskan anggota TNI selama peristiwa tersebut terjadi.


2. Terjadi tindakan tidak manusiawi yang dilakukan anggota TNI di dalam penyerangan terhadap sejumlah warga sipil (13 warga mengalami luka-luka berat dan dirawat di RSUD Kebumen, 6 diantaranya mengalami luka tembak sementara lainnya mengalami luka lebam di wajah dan beberapa bagian tubuh lainnya akibat tendangan, injakan, dan pemukulan dengan tongkat dan popor senjata bahkan salah seorang korban mengalami retak tulang kaki kiri).


3. Terjadi tindak kekerasan berupa pemukulan dengan tongkat, tendangan, diinjak terhadap sejumlah individu yang melakukan pendokumentasian terhadap rangkaian peristiwa kekerasan.


4. Telah terjadi pengerusakan rumah wisata/ dagang warga di sekitar pantai Urut Sewu dan salah satu rumah akibat penyisiran anggota TNI AD.


5. Telah terjadi penangkapan sewenang-wenang (tanpa bukti dan tidak tertangkap tangan melakukan kejahatan dan pelanggaran) terhadap sejumlah orang yang dilakukan oleh anggota TNI.


6. Sejumlah anggota TNI melakukan patroli diwilayah warga masyarakat dengan cara menyisir sekitar desa Setrojenar pada dini hari (03.00 – 04.00 WIB) paska peristiwa terjadi dalam kurun 2-3 hari.


7. Terjadi pembiaran penyerangan TNI terhadap warga masyarakat oleh anggota Kepolisian (Marti dan Bambang, keduanya adalah intel Polres Kebumen)


8. Kondisi masyarakat masih banyak yang mengalami ketakutan dan trauma atas peristiwa kekerasan.


9. Banyak warga masyarakat terutama yang laki-laki menjadi target teror (terutama warga yang aktif di FPPKS dan tokoh masyarakat desa Setrojenar) dan potensial dikriminalkan.


10. Ditemukan puluru tajam dengan type kaliber 7,62 dan 7,60 mm (untuk senjata laras panjang) serta 9 mm (untuk senjata laras pendek/ pistol) disekitar lokasi peristiwa (perempatan Jl. Diponegoro). Selain itu juga ditemukan selongsong peluru karet di dalam rumah salah satu warga desa Setrojenar (rumah tersebut diberondong tembakan saat penyisiran di sore hari setelah peristiwa).

Sumber: Detiknews

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Sabtu, 14 Mei 2011

Mahasiswa Harus Miliki Jiwa Enterpreneurship


[BANDAR LAMPUNG] Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menegaskan, para mahasiswa harus memiliki jiwa kewirausahaan atau enterpreneurship supaya generasi muda bangsa ini bisa mandiri sekaligus bisa menciptakan lapangan pekerjaan di kemudian hari.

"Jangan berpikir bahwa bisnis itu harus memiliki modal atau uang, hilangkan pikiran seperti itu, jangan pernah ragu untuk memulai bisnis karena tak ada modal," tandas Ical memberikan semangat di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Lampung (Unila), Jum'at (13/5) saat menjadi dosen tamu tentang motivasi berwirausaha.

Menurut dia, yang utama dalam berbisnis itu adalah ide, karena ide itu sangat mahal harganya, terus kembangkanlah ide-ide kreatif sebab sebuah ide kreatif sangat menarik bagi sebuah bisnis. Ia yakin, mahasiswa memiliki banyak ide.

Pada bagian lain, Ical mengemukakan bahwa masa depan suatu bangsa serta potesi kemampuan sebuah negeri itu sangat tergantung pada kualitas generasi muda, termasuk di dalamnya adalah para mahasiswa sebagai penerus sekaligus pelopor pembangunan. "Apabila generasi muda bangsa Indonesia ini berkualitas dan memiliki jiwa kewirausahaan tentunya kedepan bangsa ini akan menjadi sebuah bangsa yang besar dan mandiri," ucap pengusaha sukses tersebut.

Pada bagian lain Ical juga menceritakan pengalaman hidupnya bahwa ia mulai mengenal bisnis sejak dari mahasiswa dengan berdagang tas dan kaos, bahkan dalam mengarunggi dunia usaha ia tidak selalu berjalan mulus, bahkan terkadang juga pernah gagal dan terperosok.

Akan tetapi ia senantiasa mengingat pesan orang tuanya bahwa kegagalan itu justru akan tumbuh menjadi kuat. "Pelajari setiap kegagalan karena kegagalan adalah langkah untuk memperoleh keberhasilan," ujarnya.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan
READMORE -

KPI 2010 Grebeg Museum Affandi



Yogyakarta, Sabtu 14 Mei 2011. Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam angkatan 2010 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan Grebeg Museum Affandi. Grebeg disini bukan karena Museum Affandi ada hal-hal yang tidak baik, tetapi Grebeg disini maksudnya studi lapangan dan penganalisaan tentang karya yang diciptakan oleh Affandi.

Kurang lebih 114 Mahasiswa datang ditempat ini untuk mengadakan studi lapangan pada mata kuliah Filsafat Ilmu. Disini mahasiswa diwajibkan untuk mengambil satu gambar/lukisan Affandi dan dikomentari serta dituliskan apa nilai-nilai yang terdapat di Lukisan/Gambar itu. Selain mengamati berbagai lukisan yang ada di ruang museum pertama dan kedua serta ketiga. Mahasiswa juga diperlihatkan video proses pembuatan lukisan diruang ketiga.

Tak mau kehilangan moment hampir semua mahasiswa berfoto-foto dilokasi ini. Ada yang berfoto diruangan dekat Lukisan, ada yang di taman dan ada juga diruang-ruangan peninggalan pada masa Affandi hidup seperti Mushola.

Makam Affandi tidak jauh dari lokasi museum ini, letaknya di antara ruang pertama dan kedua tepatnya di taman sebelah kanan pintu masuk ruang museum pertama. Setelah seluruh mahasiswa menyelesaikan dan mengumpulkan tugas mereka langsung bergegas pulang untuk meninggalkan museum ini.



Museum ini masih dikelola pihak swasta, jadi biaya perawatan dan karyawan ini tergantung oleh pemasukan uang dari para pengunjung dan donatur orang-orang yang memberikannya ke museum ini. Maka dari itu saya mengajak anda sekalian untuk turut serta mengayomi museum ini.Agar museum ini tetap hidup dan ada disepanjang masa. Semoga bermanfaat,..

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Rabu, 11 Mei 2011

Komunikasi Untuk Toleransi KPI 2010



Yogyakarta, Sabtu 07 mei 2011. Mahasiswa Prodi KPI Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Angkatan 2010 telah usai melaksanakan Studi Lapangan di Vihara Candi Mendhut dan dilanjutkan Wisata di Candi Borobudur untuk melihat dan mendalami relief yang ada di Candi tersebut.

Acara Studi Lapangan ini dilaksanakan untuk memenuhi materi dan tugas mata kuliah Sejarah Agama-agama yang dibimbing oleh Dra. Evi Septiani Tavip Hayati, M.Si. Pelaksanaan acara ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya perjuangan dari panitia pelaksana dan teman-teman mahasiswa yang menjadi sebagai peserta Studi. Maka dari itu kami selaku panitia menucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga berjalannya acara ini. Sekretaris Panitia**

Dalam studi ini, kita mengadakan dialog bersama bante Jodidamo dari Vihara Candi Mendhut. Disana kita dijelaskan apa itu Agama Budha dan bagaimana agama Budha bisa ada "Sejarah Budha". Selesainya penjelasan dari Bante Jodidamo, antusias peserta dalam menanggapi dan menyampaikan pertanyaan kepada bantenya sangat meriah dan berebut untuk dapat berdialog dengan bante secara langsung.

Selesainya berdialog, pemberian cindera mata dan kenang-kenangan kepada Bante selesai. Maka sesi yang ditunggu oleh temen-temen untuk berfoto ria dengan bante dilaksanakan. Alhamdulillah berjalan dengan lancar walau bergilir tiap kelompok/kelas. Ada yang berfoto bareng di dalam vihara, dan ada juga di taman.

Candi Borobudur adalah tujuan tempat berikutnya setelah selesai melaksanakan dialog di Vihara Candi Mendhut. Kurang lebih 15 menit perjalanan sampai di tempat dari Candi Mendhut. Sampainya di tempat loket mahasiswa masuk dengan antri satu persatu dan akhirnya semuanya didalam dan langsung menaiki Candi Borobudur yang tinggi nan megah itu.

Banyak sekali aktifitas yang dilakukan oleh temen-temen KPI disana. Ada yang foto narsis, foto bareng bule dan ada juga foto kelompok. Saya lihat mereka sangat menikmati acara ini. Itu terlihat dari sikap dan tingkah laku mereka yang sangat menikmati lokasi dan bersenang.

Semoga Acara Studi Lapangan ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan semoga ilmu yang didapat dari dialog dengan Bante bisa diterapkan terutama dalam menjalani hidup yang tidak meninggalkan syari'at Islam dan mau bertoleransi dengan sesama walaupun beda agama.**

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi KPI, UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Kamis, 05 Mei 2011

Kapan Pendidikan di Indonesia Murah?


Demo ataupun unjuk rasa yang dilakukan oleh sebagian Mahasiswa yang ada di Indonesia menuntut kepada Pemerintah untuk dapat meminimalisir beaya pendidikan murah, agar rakyat mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Tidak usah tinggi-tinggi pendidikan tingkat SD aja masih banyak yang belum mengenyamnya. Kenapa? salah siapa? dan mengapa bisa terjadi? Kalau kita mau melihat ke bawah bahwa rakyat di Indonesia terutama bagi keluarga yang tidak bisa menyekolahkan anaknya, bahkan putus dalam pendidikan itu hal biasa yang terjadi. Alasannya hanya 1 konkrit yaitu ekonomi.

Masalah ekonomi keluarga inilah yang menjadikan bomerang bagi segala kalangan yang memang peduli dengan masyarakat yang kurang mampu untuk merasakan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan melihat kejadian seperti ini tentu yang bisa disalahkan bisa dari Pemerintah dan juga keluarga. Tapi kali ini yang lebih dominan karena kesalahan pemerintah. Kenapa?

Ingat saat pemilihan calon pemimpin negara? salah satu janjinya kepada seluruh rakyat Indonesia adalah pendidikan murah bahkan gratis. Itu yang disampaikan. Tapi realita kenyataannya pendidikan hingga saat ini masih mahal. Sehingga pendidikan hanya bisa dinikmati oleh sebagian orang yang mampu. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang tidak bisa sekolah?

Kita lihat saja saat pergi ke kantor, kuliah, jalan-jalan. Pasti kita melewati lampu lalu lintas. Biasanya di area seperti ini banyak sekali anak-anak muda dan ada pula yang berumuran belasan tahun ada di pinggir jalan untuk meminta-minta uang demi kehidupannya agar ia bisa makan. Lalu ada anak-anak segerombolan "PUNK" sering orang menyebutnya. Biasanya kumpulan anak punk ini masih berumur belasan tahun.

Lalu solusinya gimana, agar anak-anak yang terlantar dan tidak bisa mengenyam pendidikan bisa ikut merasakan pendidikan seperti halnya yang dirasakan oleh kalangan orang-orang mampu? Ya jawabannya adalah Pendidikan MURAH dan GRATIS!!!!

Kita tunggu bukti omongan dan janji-janji pemerintah waktu itu..

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2010.
READMORE -

Rabu, 27 April 2011

Ajaran NII; Menghaspus Dosa dengan Uang?


Bermula dari perkenalannya dengan Rudi yang mengajak berdiskusi tentang sebuah seminar, Andi pun diajak untuk mengenali ajaran sebuah kelompok, Negara Islam Indonesia. Suatu malam, ia diajak ke suatu tempat dan menjalani prosesi pembaiatan. Kelompok Negara Islam Indonesia memang memberlakukan sumpah setia atau baiat kepada para calon anggotanya. Seperti yang dituturkan Andi (nama samaran), alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, yang sempat dibaiat NII saat memasuki tahun pertama kuliah sekitar tahun 2006. Namun, Andi tidak terjerumus hingga menjadi anggota NII karena menilai adanya kejanggalan pada ajaran-ajaran NII. Apa saja ajaran yang dinilainya janggal?

Menurut Andi, di setiap kesempatan, anggota NII yang berupaya merekrutnya menjanjikan keuntungan-keuntungan materi kepadanya. Ia dijanjikan akan mendapatkan penghasilan tanpa harus bekerja dan segala kebutuhan hidupnya akan terjamin.

"Pokoknya di sini (di NII) hidup terjamin, selalu dapat uang," kata Andi kepada Kompas.com, Selasa (26/4/2011).

Lebih anehnya lagi, kata Andi, NII mengajarkan anggotanya untuk tidak perlu melaksanakan ibadah shalat lima waktu. Menurut ajaran NII, shalat hanya dilakukan dua waktu. "Shalat besar dan shalat kecil," kata Andi.

Akan tetapi, ia mengaku lupa mengenai apa yang dimaksud dengan shalat besar dan shalat kecil. Seingatnya, yang dimaksud shalat kecil adalah mengajak orang lain untuk bergabung. "Mengajak orang masuk NII itu ibadah," ucapnya.

Lalu, jika anggota NII melakukan dosa, kata Andi, cukup dibayar dengan sejumlah uang. Setelah membayar, dosa-dosanya diyakini akan hilang. "Itu tidak masuk akal," ucap Andi.

Lainnya, setiap anggota NII, menurut Andi, diwajibkan membayar iuran kepada negara. Untuk mencari uang, dihalalkan cara apa pun, termasuk mencuri. "Terus, uangnya dimasukin ke kas negara untuk membiayai negara," tuturnya.

Menurut Andi, tiap anggota dijanjikan akan mendapat bagian dari uang yang disetorkannya. Andi lupa berapa persen bagian yang akan didapatkan seorang anggota dari setoran yang dimasukkan. Setoran kepada negara tersebut, lanjut Andi, mulai dibayarkan di awal menjadi anggota. Setelah dibaiat, Andi mengaku dimintai iuran berkisar Rp 400.000-Rp 500.000. Iuran-iuran tersebut disetorkan kepada seseorang yang berwenang, tidak melalui transfer rekening.

Mengetahui adanya sejumlah iuran yang harus dibayarkan, Andi mengaku tidak memiliki uang untuk itu. Namun, Rudi, orang yang merekrutnya, kemudian membujuk dengan menawarkan diri untuk membayarkan sementara kewajiban Andi.

"Mereka pintar, mereka bilang, 'Gw bayarin dulu, asal lo yakin'," kata Andi menirukan ucapan Rudi saat itu.

Berusaha lepas dari bujukan Rudi, Andi berkilah bahwa ia merasa tidak yakin dengan ajaran NII. Menanggapinya, lagi-lagi Rudi mengerahkan kemampuan komunikasinya untuk meyakinkan Andi. "Kalau masalah enggak yakin, kamu lihat saja dulu, masalah yakin enggak yakin belakangan," kata Andi menirukan Rudi.

Pascabaiat, Andi pulang ke rumah. Ia menuturkan, karena merasa ragu dengan ajaran NII, Andi kemudian membaca-baca Al Quran lengkap dengan terjemahan yang ada di rumahnya. Dari situlah Andi sadar bahwa ayat-ayat Al Quran yang disampaikan anggota NII kepadanya telah ditafsirkan secara berbeda.

"Saya baca ayatnya, ternyata penafsirannya beda, pintar banget dia (orang NII), pakai ayat Al Quran," ungkapnya.

Selanjutnya, Andi semakin yakin untuk meninggalkan NII ketika mendengar nasihat temannya. "Kata teman saya, cara orang menyembah Tuhan berbeda-beda. Enggak perlu sampai pindah negara segala," tuturnya.

Apalagi, setelah Andi mengikuti seminar tentang NII yang kebetulan digelar di kampus tidak lama setelah ia dibaiat. Andi juga menceritakan, meskipun tidak merasa yakin dengan NII, ia tidak dilepaskan begitu saja. Pasca-dibaiat, anggota NII terus berupaya menghubunginya. Anggota NII juga sempat mendatanginya ke kampus.

"Dari awal dia ngancem sih, kalau keluar bakal kena musibah besar. Namun, buktinya sampai sekarang saya enggak kenapa-kenapa," ungkapnya.

Andi pun memilih untuk mengganti nomor ponselnya demi menghindari "gangguan" para anggota NII. "Dua minggu kemudian, sudah enggak dihubungi lagi," katanya.

Meskipun demikian, setelah dibaiat, Andi mengaku sempat diperkenalkan dengan anggota NII lainnya yang sekampus dengannya. "Ternyata di UI banyak, di bawah tanah, enggak keliatan, ada anak Komunikasi 2005 juga, anak FISIP, dan anak FIB," ungkapnya.

Bahkan, ada seorang anggota NII yang merupakan senior Andi, sejurusan dengan Andi di Departemen Ilmu Komunikasi. Andi juga mengungkapkan, menurut para anggota NII yang sempat dikenalnya, saat itu Presiden NII adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi UI.
Sumber: Kompas.com
READMORE -

Kamis, 21 April 2011

TNI AD VS Masyarakat Kebumen




Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta
READMORE -

Minggu, 27 Maret 2011

Suara Ketikan Di Tengah Malam

Sudah dua hari ini saya begadang hingga pagi hari. Begadangku ini tidak karena main komputer, baca buku atau sebagainya. Saya begadang karena jadwal kerjanya pada sift malam. Depan komputer dan berkacamata tangan selalu di atas keyboard, untuk menekan beberapa huruf menuju kelink-link yang diinginkan.

Di kesendirianku ini membuat saya ingin mengetahui segala sesuatu yang ada di dunia maya ini. Banyak hal yang bisa di dapat ketika kita berada di depan komputer. Apalagi ada line-nya untuk mengakses internet. Hanya suara ketikan keyboard dan alunan lagu Kitaro yang menunjukkan aktifitasku di malam hari.


Diluar sana bunyi kendaraan yang berlalu lalang mulai sepi. Bunyi tokek yang berada di belakang pintu kadang-kadang bunyi dengan keras. Aktifitas dalam keseharian dalam bekerja hanya duduk dan melayani orang yang datang di tempat ini. Senyum sapa selalu kami berikan kepada mereka, berharap agar mereka senang berada ditempat ini.


Perlu diketahui juga ketika bekerja di malam hari rasa capeknya memang bukan main. Pegel-pegel yang kurasakan di badan, haus laper sudah membaur dalam segala aktifitasku. Hanya dengan berusaha dan yakin bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan bermanfaat kelak dan semoga apa yang menjadikan cita-cita kita dapat cepat terwujud dengan baik. Amin

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta
READMORE -

Selasa, 04 Januari 2011

Rendahnya Sikap Pemerintah Atas Seks Bebas

Sikap pemerintah terhadap bahaya seks bebas cenderung rendah dibandingkan dengan bahaya narkoba. Sampai-sampai pemerintah mendiamkan semaraknya promosi dan kemudahan jual-beli alat kontrasepsi di tengah masyarakat. Padahal dampak negatif dari perilaku seksual bebas sama-sama menghancurkan masa depan generasi muda.

Saya sungguh sangat prihatin, akan seperti apa kelak bangsa ini kalau generasi mudanya seperti ini. Pemerintah menganggap bahwa persoalan seks bebas ini tidak segenting dengan narkoba. Karena faktor dari seks bebas yang ada di masyarakat ini tidak terlalu bahaya akibatnya di bandingkan dengan narkoba. Akibatnya pemerintah beserta jajarannya tidak menangani masalah ini dengan serius  sebagaimana dalam menangani kasus narkoba.

Kalaupun ada penanganan, itu cenderung sesaat, tidak menyeluruh dan tidak terintegrasi secara baik. Penanganan tersebut pun sangat bergantung pada kondisi ada atau tidak adanya dana dari pihak luar, seperti organisasi dunia. Dengan demikian, ini bermakna intervensi pemerintah terhadap persoalan seks bebas ini sangat terlambat dan tidak serius.

Contoh lain ketidakseriusan itu yakni dibebaskannya media massa cetak dan elektronik memuat atau menayangkan berita-berita yang bernuansa promosi seks bebas. Bahkan media massa cetak ditolerir untuk memuat gambar atau foto-foto perempuan setengah telanjang. Beberapa waktu lalu, ada pengaduan soal
pornografi di media massa cetak. Tapi kelanjutannya, tidak jelas.

Sungguh, saya sudah bosan dan muak dengan kenyataan ini. Selama ini saya memang dekat dengan dunia televisi. Tapi kini saya alergi dengan dunia televisi yang mengeksploitir seksual. Dan saya menduga, suatu saat di layar televisi akan muncul perempuan yang benar-benar telanjang. Sekarang ini memang baru setengah telanjang saja.

Peran Orang Tua
Saya berharap, orangtua di rumah lebih meningkatkan perhatiannya terhadap persoalan seks tersebut. Jangan sampai anak mengalami kekeliruan dalam menyikapi persoalan seksual, sehingga terperosok pada "lembah hitam".

Ketahuilah, seks itu merupakan sesuatu yang menarik dan perlu dicoba. Karenanya, sering terjadi anak-anak kecil dan remaja tertarik dengan persoalan seks, lalu mencoba menikmatinya di jalan haram. Untuk itu, orangtua perlu berperan dengan cara memperhatikan dan berdialog dengan anak soal seks. Beberapa hasil penelitian di sejumlah negara, anak-anak dan remaja akan terhindar dari keterlibatan seks bebas, apabila mereka bisa membicarakan seks dengan orang tuanya. Oleh: Heru Cahyono, Mahasiswa UIN SUKA Yogyakarta.
READMORE -

Kembali Menulis

Menulis...
Salah satu hobby saya adalah menulis. Terakhir saya menulis adalah bulan September 2010, yang mana kesibukan saya ketika memasuki perkuliahan awal di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu yang membuat saya tidak menyempatkan lagi untuk menulis. Tetapi kali ini saya ingin bangkit dan bersemangat lagi untuk menulis. Menulis apapun, intinya menulis-menulis dan menulis....
Teman sejati saat saya lagi sendirian dan termenung adalah buku dan Al-Qur'an. Mereka yang bisa menemani dan memberikan banyak arti dalam hidupku. Semangat ini muncul karena saya ingin menjadi penulis yang baik. Mengapa saya ingin menjadi penulis yang baik, karena saya ingin bisa menyelesaikan tugas-tugas mata kuliah dengan baik. Loh ada sangkut pautnya apa kok malah ada hubungannya dengan tugas kuliah.
Yups... begini ceritanya: setiap tugas kuliah tidak lepas dari yang namanya membuat makalah atau resensi. Nah modal dan kemampuan saya ini lah saya manfaatkan. Ketika saya sering menulis saya yakin otak saya akan terasah dengan baik. Tidak akan rugi ketika kita selalu menulis. Karena menulis banyak sekali manfaatnya baik diri sendiri dan untuk orang lain.
Saya berharap dengan modal kemampuan saya ini, kelak saya bisa menjadi dosen. Itulah cita-cita yang ingin saya kejar dan capai. Karena menjadi seorang dosen adalah kebanggaan bagi saya dan keluarga saya. Menjadi dosen sama seperti menjadi guru yang ada di sekolah-sekolah. Hanya saja ilmu dan kajian yang disampaikan pasti berbeda antara dosen dan guru.
Do'akan saya teman-teman dan para pembaca yang budiman agar apa yang menjadi cita-cita saya menjadi kenyataan. karena saya ingin membahagiakan orang tua dan orang-orang yang saya cintai dan sayangi dalam hidup ini. Terimakasih.... Heru Cahyono Mahasiswa UIN SUKA Yogyakarta, Fak. Dakwah, Prodi KPI.
READMORE -