Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2012

Mahasiswa Tidur di Kelas, Salah Siapa?

Kemaren siang saya masuk kuliah jam 12.30 WIB, Kebetulan mata kuliah saat itu Penulisan Naskah. Dosen yang mengampu mata kuliah ini memang sudah cukup tua umurnya. Jujur saja, saya kurang suka dengan metode mengajarnya di kelas. Dia lebih banyak bicaranya dan mahasiswa menjadi pendengar setia. Bagaikan pengajian akbar, yang kita hanya bisa menjadi pendengar tanpa bisa ikut andil, baik dalam memberi masukan, pertanyaan, atau kita juga sumbang saran untuk berbicara. 

Mata kuliah 3 SKS ini membuat beberapa mahasiswa merasa jenuh. Karena selama 2,5 jam kita hanya duduk diam, dan mendengarkan penjelasan dari dosen tersebut. Saya juga tidak tahu, kenapa dosen ini tidak juga capek. padahal dari jam 12 samapai jam 2 ngomong terus, tanpa berhenti sejenak. Kadang tak taulah apa yang dibicarakan. Kesana kemari semuanya disampaikan, dan dijelaskan kepada Mahasiswa.

Jadi tak heran lagi dech beberapa mahasiswi yang duduk dibelakang sudah tertidur pulas, bagaikan di ceritakan dongeng saja ini...


Kemungkinan mahasiswa ini tidur karena sejuknya ruangan kuliah pada siang ini, atau mungkin karena capek. Sehingga dia ketiduran, karena pagi sebelumnya mahasiswi ini dan juga temenku ikut acara upacara peringatan serangan 1 Maret di Depan Patung Serangan 1 Maret, tepatnya di depan Museum Verdeburg Malioboro. Selesainya upacara dilanjutkan dengan berjalan menyusuri kawasan Malioboro dan Pasar Bringharjo untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Tujuan dari edukasi tersebut adalah mengajak masyarakat yang ada di Indonesia, khususnya warga Jogjakarta untuk membeli dan mengunggulkan produk-produk dalam negeri.

Nahh...kemungkinan yang ketiga mahasiswa ini tidur karena jenuh dengan ocehan yang disampaikan oleh dosen "mungkin". Gimana nggak jenuh dan bosen, selama 2 jam hanya duduk diam mendengarkan penjelasan materi kuliah oleh dosen. It's Ok saya juga sudah clongopan....alias ngantuk juga...tapi saya tidak akan tidur. Karena 30 menit terakhir sudah diberikan tugas untuk mengarang. Jadi mata ini langsung melek lagi dech, ngantuknya juga ikut pergi hilang entah kemana.
READMORE -

Kamis, 04 Agustus 2011

Hikmah Puasa Untuk Pendidikan

PUASA Ramadan tengah dijalankan. Di sekolah-sekolah, puasa Ramadan kerap diisi dengan beragam kegiatan. Jam pelajaran biasanya dikurangi. Bagi guru, puasa penuh dijalani. Bagi siswa, mungkin ada yang puasa “mbedug”. Yang jelas, ibadah puasa membuat suasana sekolah cukup hening ketimbang biasanya.

Sebagaimana pesan moral yang sering terdengar, puasa diharapkan bermakna bagi peningkatan keimanan dan ketakwaan. Puasa diharapkan mampu meningkatkan kualitas diri. Puasa adalah media pendidikan, baik rohani maupun jasmani. Puasa bukan sekadar tidak makan dan minum, melainkan juga mengendalikan diri dari perkataan dan perbuatan tercela.

Pada titik ini, puasa sebenarnya merupakan pendidikan dalam membangun kualitas insan pendidikan. Puasa tidaklah sekadar teori, tapi praktek yang langsung dirasakan dan dijalankan. Puasa merupakan salah satu media pendidikan yang dapat mengembangkan potensi siswa untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia.

Maka, puasa memiliki arti penting bagi proses pendidikan. Sekolah memang selayaknya menjadikan puasa Ramadan setiap tahun sebagai agenda program kerjanya. Program-program selama puasa tidak ada salahnya dirumuskan dan dijalankan. Jadi, sekolah tidak hanya menggelar rutinitas kegiatan belajar-mengajar, tapi juga menyemarakkan bulan Ramadan. Pesantren sehari, buka bersama, dan pengajian yang sering dilaksanakan pihak sekolah tentu layak diapresiasi. Itu kegiatan secara formal.

Di sisi lain, penanaman nilai-nilai puasa secara tidak formal bisa ditanamkan. Sebagai misal adalah melatih kejujuran siswa. Boleh jadi dalam bulan puasa ada ulangan harian, siswa melatih dirinya untuk jujur. Dengan puasa, kepekaan sosial siswa juga dilatih sehingga memiliki kepedulian terhadap sesama. Guru pun perlu menanamkan nilai-nilai puasa sehingga ketidakjujuran yang sering mencuat di sekolah dapat dihilangkan.

Ibadah puasa Ramadan pastinya memiliki nilai penting dalam proses pendidikan. Jika saat ini moralitas sering kurang ditanamkan di sekolah yang hanya mengejar pencapaian angka-angka kuantitatif, puasa menjadi alternatif dalam pendidikan moral siswa. Puasa merupakan proses pendidikan dalam membentuk akhlak siswa terhadap Tuhan, sesama, orang tua, guru, dan lingkungan.

Semoga puasa Ramadan tahun ini tidak berlalu begitu saja. Perubahan lebih baik melalui puasa Ramadan diharapkan terjadi pada insan pendidikan di sekolah. Wallahualam.
READMORE -

Selasa, 28 Juni 2011

Pak SBY Pergilah ke Singapura


Mangkirnya Nazaruddin dari panggilan ketiga KPK semakin menegaskan Singapura adalah tempat aman bagi para koruptor Indonesia. Sinyal ”perlawanan” Nazaruddin terhadap institusi pemberantas hukum kita ini menandakan bahwa ia sungguh merasa sangat nyaman bersembunyi di sana. Nazaruddin sangat tahu betul bahwa Indonesia tidak akan bisa berbuat apa-apa dan tidak akan diapa-apakan di Singapura. Karena ia paham benar bahwa para “seniornya” (buronan koruptor) yang sudah duluan kabur hingga sekarang kehidupan mereka tetap bahagia di Singapura.

Singapura memang pantas disebut surga para koruptor Indonesia. Fakta dan data memang menunjukkan hal yang demikian. Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis data bahwa dari 45 koruptor Indonesia melarikan diri ke luar negeri dalam sepuluh tahun terakhir, 20 orang di antaranya memilih Singapura. Singapura menjadi negara yang paling disenangi para koruptor karena sepanjang sejarahnya, tidak ada koruptor yang kabur ke Singapura bisa dibawa kembali ke Tanah Air secara paksa. Mulai pengemplang BLBI hingga pembobol Bank BNI. Kalaupun ada yang bisa diajak pulang itu hanyalah Gayus Tambunan seorang. Pulangnya Gayus pun bukan dipaksa, tapi karena ia berhasil dibujuk rayu oleh Satgas Anti Mafia.

Alasan tidak adanya perjanjian ektradisi selalu menjadi kendala pemerintah kita untuk menyeret para koruptor dari Singapura. Sebenarnya perjanjian i
ni pernah digagas tahun 2007 lalu di Bali. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah membubuhkan tanda tangannya dalam perjanjian tersebut. Namun, anggota DPR kita ketika itu tidak menyetujuinya karena perjanjian itu mengisyaratkan imbalan yang lebih untuk Singapura. Not free lunch, tidak ada makan siang yang gratis, pemerintah Singapura meminta persyaratan tidak masuk akal berupa perjanjian kerja sama pertahanan (DCA). Di mana Singapura minta disediakan pangkalan militer di wilayah teritorial Indonesia. Sesuatu yang mustahil bagi kedaulatan negara kita.

Entah sudah ratusan triliun uang negara kita yang dibawa lari para koruptor ke Singapura. Tentu saja uang haram tersebut sangat berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi mereka. Karena itu wajar bila mereka mensyaratkan hal yang mustahil kepada pemerintah kita jika ingin perjanjian ektradisi dibuat. Menurut sebuah lembaga survei Merril Lynch Capgemini, sepertiga orang paling kaya di Singapura adalah orang Indonesia. Lembaga itu juga menyebutkan total dana orang Indonesia yang disimpan di Singapura, mencapai USD87 miliar atau setara dengan Rp783 triliun. Sebuah angka yang fantastik.

Melihat keuntungan yang begitu besar mereka peroleh, tentu kita mafhum bila Singapura akan lebih memilih tidak menyepakati perjanjian ekstradisi tersebut. Melaksanakan perjanjian ini sama saja bagi mereka membuang peluang atas dana yang masuk untuk menggerakkan roda perekonomian negaranya. Boleh jadi, mereka tidak perlu lagi bersusah-payah mencari investor untuk datang, sebab hampir tiap tahun ada saja para koruptor dari Indonesia yang datang menanamkan investasinya. Mereka sepertinya tidak peduli bahwa uang yang dibawa koruptor itu hanya menambah penderitaan rakyat Indonesia yang memang sudah demikian jauh dari kesejahteraan.

Singapura adalah gambaran keangkuhan sebagai sebuah negara yang bertetangga (jiran). Padahal dari segi wilayah dan penduduk, Singapura bukanlah apa-apanya bagi Indonesia. Wilayahnya tidak lebih luas dan populasi penduduknya tidak lebih banyak dari sebuah kabupaten di Pulau Jawa. Namun tingkah lakunya dari dulu memang tidak pernah menunjukkan aroma persahabatan.

Bangsa kita seperti tidak berharga dalam pandangannya. Betapa banyak kita dengarkan keluhan dari warga Indonesia yang diinterogasi di imigrasi bandara mereka tanpa sebab yang pasti. Betapa banyak TKW kita yang disiksa tanpa kejelasan nasibnya. Mereka seperti sangat paranoid kepada bangsa kita karena merasa sudah menjadi bangsa maju.

Rendahnya martabat bangsa kita di mata Singapura tidak lepas dari kelemahan kita sendiri. Sebagai sebuah bangsa, kita belum berada di batas kemapanan. Mereka tahu bahwa Indonesia sedang berkecamuk dengan berbagai persoalan yang melilit pemimpinnya. Mereka sangat mengerti bahwa bangsa kita di internalnya sendiri sibuk dengan dagelan politik. Mereka paham penegakan hukum kita sangat lemah untuk menangkap para koruptor. Mereka percaya bahwa pemimpin kita selalu ragu dalam mengambil keputusan.

Membiarkan kenyataan ini berlarut-larut hanya menambah kekerdilan kita di hadapan Singapura. Pemimpin kita mestilah menyadari bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar. Berbeda dengan Singapura yang merdeka lebih karena hadiah, bangsa kita didirikan dengan keringat dan darah pejuang. Bumi pertiwi ini memiliki pejuang-pejuang yang tangguh di medan pertempuran. Makanya sangatlah aneh bila pemimpin kita sekarang terkesan diam melihat kezaliman tetangga kecilnya ini.

Pepatah lama kita menyebutkan bahwa lawan jangan dicari, tapi kalau lawan datang kita tidak boleh lari. Orang Jakarta bilang, ”Lu jual gue beli”. Tingkah polah Singapura yang tidak memiliki itikad baik dengan kita untuk memulangkan para koruptor jelas-jelas mengindikasikan perlawanan tersembunyi. Logikanya sederhana: dengan melindungi penjahat-penjahat dari Indonesia, bukankah Singapura sama jahatnya dengan penjahat itu sendiri.

Pak SBY, kita meminta ketegasan Anda pada Singapura. Ketegasan dalam arti yang terukur tentunya. Jika memang mereka tidak bisa ikhlas memberikan perjanjian ektradisi itu, tempuhlah jalan lain yang lebih bermartabat. Lebih baik kita tidak bertetangga daripada kita direndahkan selalu. Terus terang kami sangat tidak ingin bangsa kita sampai mengemis memohon perjanjian ekstradisi itu didapatkan. Karena ribuan koruptor pun tidak bisa ditukar dengan kedaulatan negara kita.

Pak SBY, pergilah ke Singapura. Pergilah ke sana dengan muka yang tegak dan semangat 1945. Tanyakan kepada mereka apa mau mereka sebenarnya. Katakan kepada mereka bahwa kita adalah bangsa yang bermartabat. Katakan kepada mereka sejarah bangsa kita ditulis dengan tetesan darah para pejuang. Yakinkan mereka bahwa kesabaran kita ada batasnya. Tekankan kepada mereka bahwa ada + 270 juta orang yang siap sedia berada di belakang Anda.

Pak SBY, pergilah ke Singapura untuk ”menyeret” para koruptor kembali ke tanah air. Paksalah Singapura untuk menyerahkan mereka segera. Jika itu berhasil dilakukan barulah kami percaya komitmen Anda memberantas korupsi.***
READMORE -

Kamis, 23 Juni 2011

Berlindung Kepada Burung Garuda?


Mengapa Nabi Ibrahim Alaihis sallam disebut sebagai bapak 'monotheisme'? Karena Ibrahim Alaihis sallam benar-benar 'mentauhidkan' Allah Rabbul alamin. Beliau hanya mengesakan Allah Rabbul Alamin. Tidak menyandingkan-Nya dengan apapun.

Nabi Ibrahim Alaihis sallam harus berlawanan dengan ayahnya 'Azar' yang masih menyembah patung (berhala). Di mana di sekeliling Ka'bah patung-patung menjadi sesembahan. Termasuk ayahnya 'Azar' menjadi pelopor yang mengajak kaumnya menyembah patung.

Padahal, patung itu hanya benda mati, yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat. Tetapi, mereka menyakini patung-patung itu, mereka jadikan sebagai 'tuhan'. Mereka menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan. Inilah persoalan yang sangat asas (pokok), terutama bagi kehidupan umat Islam saat ini.

Umat Islam dewasa ini mengulangi episode Nabi Ibrahim Alaihis sallam, di mana umatnya waktu itu, masih menyembah patung yang hakikatnya tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat bagi kehidupan mereka. Episode jahiliyah inilah yang akhirnya membawa kehancuran bagi kehidupan mereka.

Nabi Ibrahim yang mengajak umatnya beriman kepada Allah Rabbul alamin itu, dan bukan hanya menghadapi umatnya yang jahil dan penyembah patung, tetapi beliau menghadapi hukuman. Di mana beliau dibakar oleh Namrud. Dimasukkan ke dalam api. Tetapi, Nabi Ibrahim Alaihis sallam, yang dimasukkan ke dalam api itu, tidak menjadi hangus, karena kobaran api. Nabiullah Ibrahim Alaihis sallam diselamatkan oleh Rabbnya.

Sebuah episode bagi mereka yang dengan keyakinannya, dan selalu hanya berharap pertolongan dari Rabbnya, maka hidupnya diselamatkan dari segala bentuk ancaman, kezaliman, dan siksaan dari para pengikut jahiliyah. Karena itu, Allah Rabbul Alamin, menegaskan,

"Janganlah engkau takut, cemas, dan sedih, bila engkau orang-orang yang mukmin".

Para pembawa dan penjuang penegak kebenaran dan keadilan, pasti selalu diawal perjuangannya, adalah sebagai kelompok minoritas. Tidak akan banyak yang mengikutinya. Mendapatkan permusuhan dari seluruh kelompok jahiliyah. Pasti mereka tidak akan pernah akan memberi ruang kepada mereka yang ingin menegakkan kebenaran dan keadilan.

Mereka adalah kelompok minoritas. Hanya sedikit. Tetapi, mereka orang-orang yang memiliki keyakinan, kesungguhan, komitmen, dan kejujuran terhadap keyakinan yang mereka yakini. Mereka akan terus berjuang dengan segala kesabaran yang tanpa batas. Mereka memiliki keikhlasan yang utuh. Tidak tergoda dengan aksesoris kehidupan dunia yang bersifat artifisial. Itulah prototipe para pengikut Ibrahim Alailhis sallam.

Sekarang di era jahiliyah modern, banyak aktivis Islam, dan aktivis Islam lainnya, meninggalkan keyakinan, komitmennya, kejujurannya, kesungguhannya, khususnya dalam membela dan menegakkan keyakinan mereka, berupa risalah yang diberikan Allah Rabbul alamin. Mereka bukan hanya mengubah jati dirinya dan karakter dasarnya, tetapi sampai mereka berani mengubah keyakinannya. Mereka lebih memilih dan mengejar dukungan manusia, dan rela meninggalkan segala simbol-simbol keislamannya.

Di era jahiliyah modern ini, para aktivis Islam dan gerakannya, lebih memilih menyesuaikan dengan kehidupan masyarakat dan sistem yang ada. Kehidupan masyarakat yang bercorak jahilyah dan sistem "ghoirul Islam", yaitu sistem kufur, justru sekarang para akitivis Islam menyesuaikan dengan kondisi itu.

Mereka yang masuk ke dalam sistem jahiliyah, dahulunya menggunakan pameo "ingin merubah dari dalam". Maksudnya, mereka akan melakukan perubahan ketika masuk ke dalam sistem kufur, dan berada di dalam bi'ah jahiliyah. Tetapi, bukannya mereka berhasil mengubahnya, tetapi mereka justru yang berubah, dan menjadi jahiliyah.

Mereka mengubah prinsip-prinsip (mabadi') Islam dengan sistem sekuler, yang merupakan cerminan dan lambang jahiliyah. Mereka mengakui dan menerima serta menyakini mabadi'ul khamsah, yang disebut dengan Pancasila.

Para pemimpin aktivis Islam itu menyerukan kepada pengikutnya, kadernya menghafal, memahami, butiri-butir dalam mabadi'ul khamsah itu. Mereka para elite aktivis Islam itu, juga menyerukan kadernya memahami preambule mabadi'ul khamsah. Mereka tidak lagi menyakini tentang risalah yang telah diberikan oleh Allah Rabbul alamin sebagai minhajul hayah, tetapi menggantinya dengan mabadi'ul khamsah. Inilah pergeseran yang nyata-nyata.

Mereka berlindung, meminta pertolongan, serta keamanan kepada mabadi'ul khamsah itu, yang dalam bentuknya "burung garuda". Mereka meniadakan adanya Rabbul alamin. Padahal, bagi orang-orang mukmin, hanya disuruh meminta pertolongan kepada Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin. Bukan kepada sistem, filsafah, dan benda yang merupakan bikinan manusia. Wallahu'alam.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta.
READMORE -

Rabu, 01 Juni 2011

Tabah Menghadapi Cobaan


Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan tuntunan di dalam Al Quranul Karim, yang artinya :

“Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah‑buahan. Namun gembirakanlah orang‑orang yang shabar. Yaitu orang‑orang yang bila di timpa malapetaka (musibah) diucapkannya “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Merekalah orang‑orang yang mendapat berkat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka pulalah orang‑orang yang mendapat petunjuk”

(QS.2,Al‑Baqarah,ayat 155‑157).



Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan satu ketentuan yang amat pasti di dalam kehidupan manusia yakni keyakinan akan adanya musibah disamping nikmat, siang sesudah malam, jugaadanya rugi disamping laba, sakit dan senang, bahkan hidup dan mati. Sunnatullah ini akan di lalui secara bergantian.



Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan supaya manusia selalu menjaga kesehatan sebelum sakit datang, dan supaya senantiasaberhati‑hati sewaktu kaya karena miskin bisa mendera,dan selalu pula berhati‑hati dikala hidup sebelum mati datang menjelang, serta berhati‑hati pula sewaktu muda sebelum tua datang menghadang.



Begitulah bimbingan Agama Islam, yang pada hakekatnya menanamkan satu sikap hidup yang positif, yaitu “kehati‑hatian” serta berpantang menyerah. Setiap insan Muslim di ajarkan hidup di dalam sikap optimistis yang tinggi. Inilah ajaran agama yang haq.



Musibah, dalam pandangan agama adalah sesuatu padanan di dalam hidup. Di dalam musibah terkandung makna yang dalam artinya. Diantaranya mengingatkan kembali kepada manusia, bahwa dirinya berada di dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa, sebagai inti dari ajaran tauhid.



Musibah, tidak selamanya bernilai azab. Adakalanya hanya sebatas ujian belaka. Dan di balik ujian itu tersedia sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Matematika seperti ini kadang kala tidak terangkat oleh bingkai rasionil semata. Namun berada di dalam ‘wilayah’ keyakinan.



‘Asaa an takrahu syai‑an wa huwa khairun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syai‑an wa huwa syarrun lakum. Wallahu a’lamu wa antum laa ta’lamun.



Artinya, mungkin saja, yang engkau benci itu di baliknya ada sesuatu yang paling engkau senangi. Dan mungkin pula di sebalik yang engkau senangi itu ada pula yang sangat engkau benci. Dan Allah semata yang Maha Tahu, sementara engkau sendiri tidak berpengetahuan (mengenai rahasia di balik semua peristiwa). Begitulah bimbingan wahyu Al Quran.



Musibah atau cobaan dalam kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat, sebenarnya mengandung ajakan untuk melakukan suatu koreksian (introspeksi).Bila pada masa sebelumnya terlakukan suatu kelalaian, maka sesudah itu harus tumbuh sikap kesungguhan untuk memperbaiki situasi itu kearah yang lebih baik.



Dan bila pada masa‑masa sebelumnya yang tersua senyatanya hanya kebaikan, maka ada kewajiban meningkatkan kebaikan itu menjadi lebih sempurna. Sehingga dengan setiap kali datangnya musibah (ujian) manusia senantiasa meningkat taraf kedudukannya kepada suatu tingkat yang lebih tinggi.



Cobaan tidak menjadikan manusia berputus asa. Cobaan tidak semestinya menjadikan manusia hilang kepercayaan diri.

Kepercayaan diri akan lenyap dikala manusia melupakan Tuhannya, serta membelakangi ajaran agamanya.



Satu‑satunya benteng agama yang dianugerahkan untuk setiap

manusia di dalam menghadapi sebarang musibah adalah sabar, yaitu tegar dan tabah, di iringi oleh segenap ikhtiar yang lebih baik dalam kemasan bekerja dan berdo’a.Segera kembali kepada Allah dengan mematuhi semua ajaran‑ajaran Nya, dan menjauhi setiap larangan‑Nya adalah hakekat sabar yang sebenarnya.



Semoga semua kita yang tertimpa musibah hari ini (kekeringan, tiada hujan, kabut dan asap, kecelakaan, kelaparan, musnahnya ikan di karamba Maninjau, naiknya harga, bertambahnya jumlah kemiskinan, langkanya BBM dan lain seumpama itu), dapat mengambil iktibar yang mendalam dari bentuk cobaan Allah ini, supaya kita bersegera kembali kepada Nya, dan ber‑istighfar memohon ampun atas segala kesalahan baik yang di ketahui, ataupun yang tidak.



Kembali beribadah, hidupkan fikiran dan gerakkan tenaga, cari apa yang di redhai Allah, supaya Allah senantiasa meredhai usaha‑usaha kita.



Sekali‑kali jangan berputus asa terhadap rahmat dan lindungan ALLAH. Begitulah hendaknya, Amin.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
READMORE -

Sabtu, 21 Mei 2011

Potret Mahasiswa Dulu dengan Sekarang


TAK dipungkiri lagi, pergerakan mahasiswa akhir-akhir ini mulai surut di ranah civitas academica. Bahkan, tak menampakkan batang hidungnya sebagai sosok garda depan dalam mengawal perubahan bangsa.

Hal ini merupakan PR besar bagi kita (baca: mahasiswa) untuk mengurai permasalahan krusial dewasa ini. Dan, faktor tersebut tentunya tak lepas dengan keadaan kampus era sekarang.

Mengapa demikian? Karena kampus saat ini tengah dikepung dengan kerumunan dunia virtual. Hadirnya internet dewasa ini memberikan dampak yang cukup luas bagi mahasiswa. Baik negatif maupun positif. Maka wajar bila zaman dulu dianggap sebagai zaman jadul dikarenakan belum adanya teknologi canggih semacam internet.

Melihat hal di atas, setidaknya kita bisa mengidentifikasi mengapa mahasiswa saat ini sangat minim melakukan pergerakan sosial. Sebab, dengan adanya teknologi cangggih semacam ponsel dan internet, mahasiswa lebih cenderung memilih jalur cepat, dan serba instan. Tinggal klik atau pencet. Langsung tepat sasaran.

Oleh sebab itu, mahasiswa yang awal mula gemar mensosialisasikan pergerakan atau sibuk dengan kegiatan kampus, saat ini mulai gemar berselancar di dunia maya. Hal inilah yang menjadikan mahasiswa mulai ogah melakukan pergerakan atau menghidupkan kampus.

Sehingga, permasalahan ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi generasi muda sekarang, terlebih bagi mahasiswa. Di samping itu juga, menjamurnya gaya hidup hedonis di sekeliling kita adalah cobaan bagi segenap generasi bangsa. Bila kita cermati, pergerakan mahasiswa sudah mulai tertimbun dengan gaya hidup (life style) pemuda sekarang. Lihat saja, betapa bangganya mahasiswa jika menenteng Black Berry dari pada memiliki intelegensi tinggi. Sungguh ironis bukan?

Terlepas dari itu, lalu, PR yang harus kita selesaikan adalah, bagaimana mengembalikan kejayaan kampus seperti dulu. Yaitu kampus yang penuh dengan nuansa diskusi di tiap sudut kelas. Dan, pemandangan mahasiswa yang mondar-mandir untuk melakukan orasi turun ke jalan demi menyuarakan hak-hak rakyat yang tertindas atas kebijakan pemerintah.

Setidaknya, atas dasar kesadaran bersama oleh mahasiswa, akan mengingatkan kembali bahwa kita mempunyai tanggung jawab yang besar di masyarakat. Sehingga, gelar agen sosial of change tidak sekadar simbol ansich. Namun, dapat mewujud dengan tindakan nyata. Dengan demikian, mau tidak mau saat ini kita harus menghidupkan atau nguri-nguri (bahasa jawa) kampus agar pergerakan mahasiswa tidak dianggap mati. Hidup Mahasiswa!

Heru Cahyono, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga 2010.
READMORE -

Selasa, 17 Mei 2011

Kepemimpinan Kharismatik Osama bin Laden Tetap Ada!!


KEBERHASILAN militer Amerika Serikat (AS) dalam operasi militer membunuh Osama bin Laden beberapa waktu lalu disambut bahagia oleh rakyat AS. Pasalnya mereka menganggap dengan kematian Osama bin Laden maka semangat para pengikutnya Osama akan padam dan dengan sendirinya serta akan melunturkan kepercayaan akan perjuangan mereka.

Kepemimpinan kharismatik mungkin sebutan itulah yang pantas disematkan pada perilaku kepemimpinan Osama bin Laden. Suatu kepemimpinan yang menurut Max Weber merupakan bentuk pengaruh yang didasarkan pada persepsi para pengikut bahwa pemimpin tersebut dikaruniakan kemampuan-kemampuan yang luar biasa.
Karisma yang muncul saat terjadi krisis sosial layaknya yang tengah terjadi di dunia Arab kini.

Kepemimpinan kharismatik merupakan kepemimpinan yang dapat tumbuh dengan subur atas pekerjaan yang memiliki kebutuhan ideologis tinggi layaknya perjuangan yang kini tengah dilakukan oleh Osama bin Laden dan pengikutnya. Kepemimpinan kharismatik menyuplai harapan yang tinggi akan kinerja dan hasil dari kinerja tersebut. Maka kepemimpinan Osama bin Laden membawa rasa percaya diri yang besar atas para pengikutnya.

Namun kepemimpinan jenis ini seringkali merupakan fenomena yang bersifat sementara sebab ia lebih bergantung kepada identifikasi pribadi sang pemimpin. Sisi gelap dari kepemimpinan jenis ini kerap kali menjebak organisasi sehingga sulit menemukan figur pengganti yang cocok dan sepadan dengan sang pemimpin. Maka ketika sang pemimpin pergi, kasus yang seringkali terjadi adalah pekerjaan menjadi mandeg karena tak ada lagi pasokan motivasi dan kepercayaan diri.

Maka tak salah ketika Osama bin Laden dikabarkan telah tewas, AS sangat puas dan berbangga hati. Sebab tak ada lagi ikon perjuangan yang menimbulkan antusiasme di antara para pengikut Osama bin Laden. Namun prediksi tentu tidak sesederhana yang dikira. Pemimpin kharismatik tentu memikirkan kemungkinan bahwa dia harus pergi dari para pengikutnya layaknya Osama bin Laden kini.

Untuk itu sang pemimpin biasanya melakukan suatu proses yang dapat menjamin perjuangan akan terus berlanjut meski tanpa dirinya, yakni melalui ‘rutinisasi kharisma’. Proses ini merupakan proses untuk merekrut dan mengkader orang-orang baru untuk kemudian dibentuk kharismanya layaknya pemimpin sebelumnya.

Bila proses ini berjalan lancar maka kemanapun sang pemimpin pergi, pindah ataupun meninggal para pengikut akan tetap setia mengamalkan setiap nilai dan motivasi yang didapatnya.

Proses ini telah terbukti dengan sosok Imam Hasan Al-Banna di Mesir, sang pembaharu yang memiliki kharisma yang amat kuat. Meskipun dia mati di usia sangat muda, namun pengaruhnya terus bertahan hingga kini. Begitulah ketika ruh jihad dikombinasikan dengan pemimpin kharismatik, maka akan sulit untuk menumbangkannya.

Seperti halnya Hasan Al-Banna, dapat dipastikan bahwa Osama bin Laden pun telah melakukan ‘rutinisasi kharisma’ dalam rangka menjaga jalannya perjuangan. Oleh sebab itu AS sepertinya belum bisa bernafas lega, sebab masih ada Osama-osama lain yang akan bermunculan untuk kemudian menjaga dan memperjuangkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh Osama bin Laden.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUnan Kalijaga Yogyakarta 2010.
READMORE -

Demonstran Bermental Bebek Perusak Citra Mahasiswa


MAHASISWA atau mahasiswi adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas, Politeknik, Sekolah tinggi, akademi dan lain-lain. Menjadi mahasiswa merupakan sebuah kebanggan tersendiri karena tidak semua orang bisa mendapatkannya atau katakanlah menempuh pendidikan sampai dengan perguruan tinggi. Walaupun tidak semua perguruan tinggi itu mahal tetapi citra yang berkembang sudah sedemikian rupa.

Menjadi mahasiswa hakikatnya harus ikhlas, harus tabah, harus berjuang, karena kita (mahasiswa) adalah pemimpin Indonesia kelak. Menjadi mahasiswa berarti menjadi orang yang dihadapkan dengan berbagai persoalan hidup. Persoalan yang pada umumnya disikapi adalah persoalan sosial dan politik. Rasa tanggung jawab yang tinggi memperjuangkan rakyat, pribadi, dan watak yang terbentuk, kritis, idealis, bahkan apatis sekali pun, karena hidup ini adalah pilihan.

Demonstrasi (aksi) sering kali dijadikan sarana untuk menyampaikan aspirasi baik itu suara rakyat ataupun suara golongan yang sarat kepentingan di dalamnya. Beberapa bulan terakhir ini kita dihadapkan dengan banyaknya aksi massa yang turun ke jalan menyuarakan kebenaran, keadilan, dan penegakan hukum. Walaupun tidak semua demonstrasi itu dilakukan dengan anarkis tetap saja patut kita pertanyakan arti sebuah demonstrasi itu.

Mahasiswa adalah insan yang cerdas, insan yang mandiri, insan yang kritis, insan yang ”Hijau”, kecuali mahasiswa yang sudah mendapatkan doktrin dari partai politik atau elemen-elemen ekstraparlementer.

Eep Syaifulloh Fatah mengatakan, banyak aktivis (demonstran) musiman di negara ini. Menarik apa yang dikatakan beliau, karena ada unsur-unsur ketidakpahaman dalam berdemonstrasi (aksi). Berteriak lantang tanpa makna, tanpa solusi, tanpa etika. Andai saja boleh ditanyakan ke semua peserta demonstrasi, “Kamu tau gak lagi aksi apa?" Atau, "Coba kamu jelaskan duduk permasalahan kasus aksi hari ini (analisis isu) ?" Atau, "Coba jelaskan kronologis kejadian isu ini, hingga kamu berani aksi?" Dan yang paling penting, tanyakan, ”Menurut kamu solusi terbaiknya apa? Kenapa?"

Sudah bisa dijamin tentunya, tipikal mahasiswa "bebek" tidak akan mampu menjawab pertanyaan ini. Tidak bermaksud mendiskreditkan aktivis mahasiswa yang rajin turun ke jalan. Namun ada baiknya jangan jadi mahasiswa bertipikal "bebek" yang hanya bisa ikut-ikutan saja. Daripada cuma berprinsip "yang penting Aksi, yang penting turun ke jalan, yang penting menyanyikan lagu perjuangan, yang penting masuk media, yang penting teriak-teriak", lebih baik solusinya adalah mahasiswa bertipikal ”bebek” ini tidak usah ikut aksi saja, karena merusak hakikat aksi dan merusak citra aktivis-aktivis yang benar-benar serius dan fokus atas isu yang diaksikan.

Tanpa mengurangi rasa hormat, seyogyanya sebelum aksi dilakukan, peserta atau partisipan aksi dites terlebih dahulu, atau dididik dahulu sebelum aksi. Ini penting agar mereka memahami isu, punya solusi konkret, dan jelas beretika. Salut dan hormat buat elemen ekstraparlementer yang sudah mendidik peserta aksi sebelum aksi.

Isu yang berkembang dewasa ini adalah disorientasi gerakan mahasiswa. Penyebabnya banyak, di antaranya mahasiswa sudah tidak tertarik lagi dengan diskusi-diskusi politik, aksi massa, mengkritik kebijakan pemerintah baik lokal ataupun internasional. Mahasiswa sudah apatis dengan kegiatan-kegiatan kampus, mahasiswa sudah tidak berjiwa organisatoris lagi.

Bahkan isu berkembang yang paling menarik adalah pola berpikir mahasiswa sekarang layaknya seorang pedagang. Alasannya sederhana, banyak mahasiswa yang mengikuti kegiatan-kegiatan entreprenuership yang menurut mereka lebih menjanjikan masa depan dan kemandirian selama menjadi mahasiswa. Tapi hal ini dianggap tidak merepresentasikan mahasiswa.

Suatu pelabelan yang buruk sekali. Apa salahnya menjadi entrepreneur? Jika kita berpikir sedikit pragmatis, apa menjadi demonstran menjanjikan kemandirian (uang)? Aneh sekali pemikiran-pemikiran sebagian pihak di lingkaran mahasiswa yang berani memberi label ke mahasiswa lain. Apa hak mereka?

Iklim ilmiah yang semakin meningkat di lingkungan mahasiswa juga dianggap sebagai strategi pemerintah (dalam hal ini Ditjen Dikti) untuk melemahkan gerakan mahasiswa. Kompetisi LKTI, LKTM, PKM, sampai dengan PIMNAS dianggap sebagai alat pelemah gerakan mahasiswa.

Aneh sekali pemikiran-pemikiran seperti ini. Semua mahasiswa yang masih rasional dan logis pasti sepakat jika gerakan mahasiswa bukan hanya aksi turun ke jalan, teriak-teriak, bakar ban, dan memacetkan lalu lintas. Gerakan mahasiswa bukan hanya diskusi-diskusi politik atau NgomPol (Ngobrol Politik). Gerakan mahasiswa bukan hanya bahasan-bahasan strategi politik. Identifikasi Mahasiswa sebagai insan kritis bukan hanya diaplikasikan lewat demonstrasi (aksi), tetapi lebih jauh lagi dengan karya-karya tulis yang lebih sistematis dalam cara berpikir, yang lebih ilmiah dalam mengkritik, yang lebih elegan dalam mencari solusinya.

Gerakan mahasiswa dewasa ini harus mengikuti perkembangan zaman. Karena ”perang” yang dilancarkan negara-negara lain terhadap Indonesia sudah lebih jauh, dan lebih kejam dari pada perang fisik. Banyak perang yang dilancarkan, mulai perang intelektual, perang gagasan, perang argumentasi, perang akademik, perang prestasi-prestasi dunia yakni prestasi mahasiswa di bidang ilmiah, olahraga, seni, dan budaya.
Mahasiswa harus berubah. Generasi 1998 dan sebelumnya memberi banyak pelajaran kepada mahasiswa tentang perjuangan mahasiswa. Darah yang tumpah di medan juang itu harus dibalas, harus dijawab dengan prestasi-prestasi, serta karya nyata mahasiswa seperti pengembangan desa-desa mandiri oleh mahasiswa, pengembangan IPTEK oleh mahasiswa, penelitian ilmiah mahasiswa, dan usaha mandiri mahasiswa. Turun ke jalan adalah pilihan, silakan turun ke jalan setelah ”paham” isu dan masalah.

Pendewasaan dan peningkatan mutu mahasiswa bukan hanya lewat diskusi-diskusi politik, aksi massa, dan lain-lain. Tetapi bisa lewat kompetisi rencana bisnis, LKTI, LKTM, PIMNAS, PEKSIMINAS, dan pagelaran lomba olahraga mahasiswa.

Memberi label kepada mahasiwa yang tidak sepikiran, yang tidak sejalan, yang tidak satu visi dan misi hendaknya dihindarkan. Karena pemberian label apatis, bermental pedagang, tidak organisatoris, perasaan jadi peneliti (sok ilmiah) sangat menciderai hak-hak asasi mahasiswa, menciderai semangat sportivitas mahasiswa, menciderai semangat juang mahasiswa, dan tentunya menciderai Tri Dahrma Perguruan Tinggi.

Akhirnya, Aksi itu banyak kawan: aksi mahasiswa sayang lingkungan, aksi mahasiswa sayang saudara, aksi mahasiswa peduli sosial masyarakat, aksi mahasiswa cinta dan peduli seni dan budaya indonesia, aksi mahasiswa jaya di bidang olahraga, aksi ilmiah mahasiswa, aksi IPTEK mahasiswa, serta aksi mahasiswa sayang dan ingat amanah dari orangtua dan rakyat Indonesia. Salam Perjuangan Mahasiswa.

Hidup Mahasiswa Indonesia!!!

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2010.
READMORE -

Sabtu, 02 April 2011

Perbedaan: Penting/Tidak?


Perbedaan sepertinya masih menjadi kosa kata yang asing diterima. Ia bagai momok dan terkadang ancaman dalam keseragaman. Ia terkadang ditolak: diasingkan dari pikiran-pikiran yang selalu mengatakan kebenaran itu tunggal.

Di negeri ini, perbedaan masih rumit untuk mendapatkan tempat yang tepat. Ruangnya terkadang digedor oleh individu, kelompok, golongan yang selalu mengatasnamakan ‘kebenaran’. Ia dipinggirkan karena mengancam. Ia ditindas karena tak ‘seiman’. Ia dicaci dan dimaki karena dinilai mengotori ‘kebenaran’.

Mengapa kita masih mempersoalkan perbedaan?
Perbedaan pendapat dan keyakinan sesungguhnya naluri. Ranahnya pada hati dan pikiran dan memang, sesungguhnya tak ada isi pikiran dan hati manusia itu sama. Pepatah Arab menyusunnya: "kullu ro`sin ro`yun" (setiap kepala mempunyai pendapat).

Pergolakan perbedaan pendapat, sekalipun itu pada wilayah keyakinan, sejujurnya adalah persoalan interaksi dan komunikasi manusia. Ia dipersoalkan karena disumbat sehingga tak ada ruang untuknya dimaklumi. Ia seringkali diberangus lantaran tak seia- sekata. Ia bahkan dinilai membahayakan pikiran dan keyakinan.

Di negeri ini, tak ‘seragam’ dalam pandangan dan keyakinan pun masih dianggap mengancam. Orang atau kelompok yang mengkritisi kebijakan, salah-salah bisa saja dinilai pengancam. Orang atau kelompok yang berbeda keyakinannya dalam mempraktekkan dogmanya, sewaktu-waktu bisa saja dinilai menodai agama.

Peristiwa kekerasan untuk menolak perbedaan, baik itu mengatasnamakan agama, ideologi, ataupun atas nama ‘fanatisme’ kelompok seperti yang terjadi belakangan ini, adalah potret betapa kita sesungguhnya masih menjadi bangsa yang suka mempersoalkan ketidakseragaman berpikir dan hati.

Persoalan pendapat dan keyakinan adalah masalah pikiran dan hati. Tentu tak ada yang sama isi persepsi yang dimiliki masing-masing manusia. Kalau ada kesepahaman, itu dikarenakan adanya tempat dialog perbedaan yang diberikan: bukan karena paksaan harus ‘seragam’.

Menyumbat perbedaan hanya akan menimbulkan keterpaksaan dalam ‘mengimani’ makna kebenaran yang dipersepsikan. Sebab it, perbedaan dalam ruangnya, di mana pun adanya, harusnya mendapat tempat untuk dilindungi, dijaga, dan tidak dipaksakan untuk harus sama.

Dalam tradisi keilmuan agama Islam, misalnya. Perbedaan pendapat yang terjadi pada wilayah bersifat ijtihadi (pendapat) dianggap sebagai hal yang sangat wajar. Semisal, pada masalah-masalah fiqh (pemikiran), perbedaan dan ragamnya pendapat ternyata bukan persoalan asing. Bahkan, perbedaan pendapat dalam kitab-kitab fiqh menjadi sumber khasanah yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Sedangkan, pada ranah aqidah (keyakinan), prinsip perbedaan dipetakan dengan jelas: Untukmu, agamamu, dan untukkulah, agamaku (QS al-Kaafiruun [109]: 6).

Perbedaan bukanlah ‘kerusakan’ yang dimaknai penyimpangan. Ia ada, tumbuh, dan berkembang dari pergumulan pikiran dan keyakinan manusia. Membungkam, apalagi hingga menghalalkan kekerasan terhadap individu, kelompok, golongan yang tak ‘seragam’ tentu sangatlah ironis.

Bukankah kita sejak awal, asal, dan penciptaan berbeda-beda. Jadi, untuk apa kita mempersoalkan perbedaan?

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta
READMORE -

Pendidikan Belum Bisa Memanusiakan Manusia


Tak terbantahkan, bahwa dunia pendidikan kita acapkali diwarnai dengan kekerasan. Belum lagi hilang dari ingatan kita, pelbagai kasus smack down ala siswa, pemukulan dan penganiayaan oknum "guru" terhadap peserta didiknya. Bahkan kematian sejumlah mahasiswa IPDN, yang diakibatkan oleh tindak kekerasan senioritas terhadap juniornya.

Kini kita kembali dikejutkan dengan kejadian serupa, yaitu "guru" memukuli peserta didiknya. Kejadian ini berlangsung di Jambi. Disinyalir pemukulan ini terjadi, akibat si anak tidak bisa mengerjakan tugas matematika dari sang guru (Baca: media, 5/2/2008). Inikah wajah buram pendidikan kita? Haruskah ada kekerasan dalam pendidikan? Tidakkah pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia?

Parakdoksal memang, ditengah hiruk-pikuknya negara, stakeholder pendidikan dan LSM memperjuangkan pendidikan humanis, malah tak sedikit peserta didik yang menuai kekerasan. Bukankah sejatinya pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia (humanisasi)? Dalam konteks ini, idealnya pendidikan lebih berorientasi untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri peserta didik, sehingga ia mampu menjadi manusia berkualitas. Manusia berkualitas tentunya tidak hanya identik dengan tingginya intelektualitas. Namun sejauhmana peserta didik tersebut bisa menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mampu menciptakan kreasi-kreasi dalam hidupnya, sehingga ia mampu menghadapi pelbagai perubahan dikemudian hari.

Tindak kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan, biasanya diakibatkan karena adanya kesalahan yang diikuti dengan hukuman fisik. Misalnya peserta didik yang tidak mengerjakan PR. Atau terlambat datang, lantas dihukum berdiri di depan kelas sampai jam peserta didikan berakhir. Bahkan tak sedikit dari mereka harus berlari mengelilingi lapangan, atau malah sampai kena pukul.

Dulu model hukuman (punishment) seperti ini memang seringkali dilakukan oleh sang guru. Tujuannya, tak lain hanya memberikan efek jera kepada sang murid. Namun dalam konteks kekinian, model hukuman semacam ini sudah tak relevan lagi dipraktikkan. Sebab proses pendidikan tidak harus dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Pendidikan saat ini lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Dimana posisi peserta didik, bukan lagi sebagai obyek tapi sebagai subyek (Baca: setara dengan guru).
Perlu diingat, pemberian hukuman dengan kekerasan hanya akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikis peserta didik. Pemberian hukuman tersebut juga tidak akan menimbulkan efek jera. Bahkan dapat menimbulkan kebencian yang berbuntut pada rasa dendam.

Tidak menutup kemungkinan, maraknya tawuran antar peserta didik dewasa ini akibat dari akumulasi kecengkelan mereka. Sehingga emosi peserta didik akan mudah tersulut dan berkobar.
Di zona inilah diperlukan model pendidikan yang humanis, dimana manusia dengan manusia lainnya memiliki peran yang sama. Alih kata, guru dan peserta didik mempunyai kedudukan yang sama dalam proses belajar mengajar, dimana nilai-nilai kemanusiaan lebih diutamakan. Pendidikan yang humanis sendiri bertujuan untuk membentuk pribadi yang cerdas, baik itu nalar, emosional ataupun spiritual.

Seorang guru dalam pendekatan humanis bukanlah seorang raja, yang bisa menghukum dengan cara apapun. Akan tetapi guru lebih bersifat sebagai fasilitator, mengakomodir segala kepentingan peserta didik. Selain itu, guru pun tidak boleh sewenang-wenang dalam mengajar, karena guru dan siswa merupakan mitra dialog yang sejajar. Sebagai mitra dialog yang sejajar, guru haruslah menghargai hak-hak peserta didik, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, pelbagai bentuk kekerasan (baca: kekerasan) atas nama pendidikan merupakan kejahatan yang harus dimusnahkan. Karena kekerasan dalam pendidikan hanya akan melahirkan peserta didik yang berjiwa "preman." Bukankah seharusnya, pendidikan melahirkan generasi yang berjiwa suci dan berbudi luhur? Oleh karena itu, proses belajar-mengajar pun harus dijalankan dengan praktik-praktik yang luhur pula. Semoga para guru kita, mampu mempraktikkannya.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta.
READMORE -