Akhirnya Aparat kepolisian Klaten berhasil menciduk 12 pelajar SMA Muhammadiyah 1 Klaten yang melakukan konvoi dijalan Ki Hajar Dewantara tepatnya di depan Kampus Universitas Widya Dharma Klaten. Aksi ini sangat mengganggu ketenangan kampus, mengganggu kenyamanan warga masyarakat dan mengganggu lalulintas yang ada dijalan ini.
Selasa, 17 Mei 2011
12 Siswa SMA Muhammadiyah 1 Klaten di Ciduk Aparat
Akhirnya Aparat kepolisian Klaten berhasil menciduk 12 pelajar SMA Muhammadiyah 1 Klaten yang melakukan konvoi dijalan Ki Hajar Dewantara tepatnya di depan Kampus Universitas Widya Dharma Klaten. Aksi ini sangat mengganggu ketenangan kampus, mengganggu kenyamanan warga masyarakat dan mengganggu lalulintas yang ada dijalan ini.
Polisi Gelandang 12 Pelajar SMA Muh 1 Klaten
Klaten, 16 Mei 2011. Kurang lebih 12 Pelajar dari SMA Muhammadiyah 1 Klaten di Gelandang Oleh aparat kepolisian kota Klaten, untuk dimintai keterangan mengenai aksi konvoi yang dilakukan di Jl. Ki Hajar Dewantara tepatnya di depan kampus Universitas Widya Dharma Klaten. Aksi konvoi ini dilakukan dengan mengitari jalan kota Klaten dan masuk ke jalan perkampungan setelah menerima pengumuman kelulusan Ujian Nasional di Sekolahnya.
Mereka diciduk oleh aparat karena motor yang digunakan berkonvoi mengeluarkan suara yang keras, sehingga mengganggu ketenangan kampus dan warga sekitar. Selain itu mereka juga ugal-ugalan dalam mengendarai motor dijalan. Akhirnya polisi yang sedang patroli di kampus UNWIDHA langsung mengejar para pelajar tersebut dan meminta kunci motornya lalu mereka semua di Gelandang ke pos pengamanan yang berada di depan Terminal Klaten.
Dari hasil wawancara saya dengan petugas satlantas, bahwa 12 pelajar ini akan dimintai surat-surat kelengkapan motor dan di introgasi lalu diserahkan ke polres dilanjutkan ke bagian penilangan lalu dibawa ke pengadilan untuk diproses lanjut.
Aparat kepolisian membolehkan konvoi dijalan, asal sopan dan tidak mengganggu lalulintas jalan, tidak ugal-ugalan, dan tidak mengganggu ketenangan warga serta pengguna jalan lainnya.** Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
Minggu, 15 Mei 2011
Analisis Framing
Pada dasarnya, analisis framing atau analisis bingkai merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Gagasan mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1955. Mulanya, frame dimaknai sebagai stuktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas.
Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman 1974, dengan mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behaviour) yang membimbing individu dalam membaca realitas.
G.J Aditjoro mendefiniskan framing sebagai metode penyandian realitas dimana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilah-istilah yang punya konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya.
Pada dasarnya pekerjaan media massa adalah mengkonstruksikan realitas. Isi media adalah hasil para pekerja mengkonstruksikan berbagai realitas yang dipilihnya, diantaranya realitas politik. Pada umumnya, terdapat terdapat tiga tindakan yang biasa dilakukan pekerja media massa, tatkala melakukan konstruksi realitas politik yang berujung pada pembentukan makna atau citra mengenai sebuah kekuatan politik (Hamad,2001) :
Dalam hal pilihan kata (simbol) politik.
Dalam melakukan pembingkaian (framing) peristiwa politik.
Menyediakan ruang adan waktu untuk sebuah peristiwa politik.
Terdapat banyak teori yang dapat menjelaskan kuatnya pengaruh media terhadap publik (kekuatan media massa). Teori agenda setting memeperkuat kembali posisi dan penetrasi media terhadap khalayak. Setelah teori ”jarum hipodermik” digugat Lazarsfeld atas pengaruh langsung media dalam mempengaruhi opini, sikap dan perilaku khalayak, gagasan kuatnya pengaruh media tampil kembali kewat agenda setting. Walaupun pengaruh media tak sehebat yang diganmbarkan ”jarum hipodermik”, namun bukti menunjukan bahwa media menentukan apa yang ”dipikirkan orang.”
Berdasarkan konsepnya, Gamson mendefiniskan framing dalam dua pendekatan, yaitu pendekatan kultural yang menghasilkan framing dalam level kultural dan pendekatan psikologis yang menghasilkan framing dalam level individual. Dalam level kultural, frame pertama-tama dapat dimaknai sebagai batasan-batasan wacana serta elemen-elemen konstitutif yang tersebar dalam konstruksi wacana. Sedangkan asumsi dasar dari framing level individu adalah bahwa individu adalah bahwa individu selalu bertindak atau mengambil keputusan secara sadar, rasional, dan intensional. Individu selalu menyertakan pengalaman hidup, wawasan sosial, dan kecenderungan psikologisnya dalam menginterprestasi pesan yang ia terima.
Sumber referensi : Analisis Teks Media (Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing) / Drs. Alex Sobur, M.Si / Penerbit : Rosda
Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
Tradisi Konvoi
Senin, 16 Mei 2011 pengumuman hasil UN. Sudah menjadi makanan kita bersama setelah pengumuman biasanya anak-anak pelajar SMA/Sederajat melakukan konvoi usai pengumuman UN. Konvoi adalah bentuk rasa senangnya seorang pelajar yang telah Lulus dari Ujian Nasional. Baju seragam disemprot warna merah, hijau, biru, hitam, dan pink. Bentuk coroetan dan tanda tangan di baju seragam itu menunjukkan kesenangan mereka.
Konvoi dengan menggunakan kendaraan bermotor yang beraksi di jalan-jalan kota itu biasanya mengundang tontonan bagi warga sekitar. Mereka mengitari kota yang ada ditempatnya secara bersama-sama dengan rekan pelajar yang lain dan berjingkrak-jingkrak di atas motor.
Terkadang adanya konvoi pelajar ini dapat menyebabkan macetnya jalan raya. Maka dari itu pihak polisi setempat harus siap siaga besuk pagi dan menjaga keamanan di jalan. Agar tidak terjadi tindak kekerasan dari pihak pelajar yang melakukan konvoi tersebut.
Diharapkan agar pelajar yang besuk pagi melakukan konvoi tidak melakukan hal-hal yang tidak baik/malah merugikan orang lain. Serta jangan sampai melakukan tindak kekerasan yang akan menimbulkan kerisuhan antar pelajar.
Selamat buat seluruh pelajar yang LULUS dalam UN tahun ini, dan bagi Pelajar yang BELUM LULUS diharapkan jangan berkecil hati. Tetap sabar dan berusaha terus untuk menuntut ilmu agar kelak bisa lebih baik lagi. Semangat dan Semangat!!!!
Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
HARDIKNAS Dan Obral Janji Pemerintah
Mahasiswa menilai, selama ini pemerintah hanya suka obral janji. Sama halnya dengan para wakil rakyat di DPR, pemerintah dinilai hanya mengobral omong kosong belaka menjamin rakyat miskin bisa juga menikmati dunia pendidikan.
"Silakan lihat di beberapa kolong jembatan, pelosok desa, yang masih banyak generasi bangsa yang tidak sekolah. Di Kota Malang, yang katanya kota pendidikan, ternyata hanya omong kosong juga," kata koordinator aksi, Yuli, dalam orasinya saat menggelar aksi di depan gedung DPRD Kota Malang, Senin (2/5/2011).
Aksi pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) itu dilakukan oleh ratusan mahasiswa Malang yang tergabung dalam Front Mahasiswa Malang Raya (FMMR). Organ tersebut terdiri atas PMKRI, GMNI, SMART, KMB, IMM, IMM Hukum, Front UB, HMI UB, dan Forbas Malang.
"Di hari pendidikan nasional ini masih banyak anak Indonesia, khususnya di Kota Malang, yang tidak sekolah. Karena itu, pemerintah harus segera menyetop komersialisasi pendidikan," kata Yuli.
Ditemui seusai orasi, aksi tersebut menuntut agar tidak ada lagi diskriminasi dan kekerasan dalam dunia pendidikan. Mahasiswa juga menuntut pemerintah mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2010 dan Sistem Badan Layanan Umum (BLU), meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan bantuan operasional sekolah (BOS), menghapuskan ujian nasional (UN), serta menghapus BHMN.
"Saat ini pemerintah segera memberikan dan meningkatkan pendidikan gratis yang berkualitas, realisasikan 20 persen APBN untuk pendidikan. Perhatikan dan tingkatkan kesejahteraan pendidikan. Hapus SBI dan cabut sistem kejar paket," ujarnya.
Yuli menambahkan, pemernitah saat ini, terutama pihak Kementrian Pendidikan Nasional, hanya bisa obral janji kepada rakyat.
"Ini terbukti, pendidikan hanya bisa dinikmati orang yang punya uang. Anak dari keluarga miskin tak bisa merasakannya," katanya.
Aksi para mahasiswa tersebut akhirnya diterima oleh perwakilan dari DPRD Kota Malang, yakni Wakil Ketua DPRD Kota Malang Ahmadi. Di depan mahasiswa, Ahmadi menyatakan, tuntutan mahasiswa tersebut akan dikirim melalui faksimile (fax)ke Kementrian Pendidikan Nasional.
"Apa yang menjadi tuntutan mahasiswa akan kami sampaikan kepada Mendiknas langsung melalui fax. Untuk di Kota Malang, tuntutan ini akan menjadi bahan evaluasi dan pantauan DPRD Kota Malang," kata Ahmadi. Sumber: Kompas.Com
Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
10 Temuan KontraS: TNI AD vs Warga Kebumen
Jakarta - Tim pencari fakta Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) baru saja menyelesaikan investigasinya untuk kasus bentrok antara warga dengan prajurit TNI di Kebumen, Jawa Tengah. Fokus pencarian fakta adalah rangkaian tindak kekerasan pada 16 April 2011 lalu.
Di dalam kerjanya tim menggunakan kerangka kerja yang digunakan hukum positif Indonesia. Yakni UU 39/1999 tentang HAM, UU 26/2000 tentang Pengadilan HAM, UU 5/1998 tentang Ratifikasi Konvensi anti penyiksaan, UU 11/2006 tentang ratifikasi Konvensi Hak Sipil dan Politik.
"Tim juga memperhatikan aturan-aturan terkait hukum militer dan tanggung jawab polisi dalam KHUPM, UU 31/1997 dan UU 2/2002 tentang Polri," kata Koordinator KontraS, Haris Azhar, dalam pengantar surat elektronik yang diterima redaksi detikcom, Minggu (15/5/2011).
Sementara jumlah saksi yang dianggap memenuhi layak diminta keterangannya ada 11 orang. Mereka adalah warga yang melihat langsung dan menjadi korban kekerasan pada saat, sebelum dan sesudah peristiwa terjadi.
Berikut ini 10 butir temuan tim pencari fakta KontraS di desa Setrojenar, Buluspesantren di mana peristiwa kekerasan terjadi;
1. Telah terjadi serang (kekerasan dan stereotype) terhadap warga sipil yang disengaja dilakukan oleh anggota TNI, Sabtu, 16 April 2011.
Sekitar pukul 14.30 – 15.00 WIB, sejumlah anggota TNI AD keluar dari Dislitbang AD II lengkap dengan senjata api laras panjang, stik/ tongkat bergerak mendekati kerumunan warga di perempatan Jl. Diponegoro. Jarak + 20 meter dari warga, anggota TNI AD tersebut mulai melepas tembakan ke arah warga, menyerang, menangkap, menyiksa dan menembaki sejumlah warga. Tindakan ini dilakukan sebagai respon atas aksi warga yang melakukan blokade.
Sekitar pukul 15.00 – 17.00 WIB, anggota TNI AD terus mengejar warga desa hingga ke sekitar menara pantau (arah Selatan) dan juga masuk ke Desa Setrojenar. Di desa Setrojenar, anggota TNI AD melakukan penyisiran terhadap beberapa warga desa. Sementara itu, blokade warga kembali dirusak.
Sekitar pukul 17.00 WIB, di salah satu rumah warga desa Setrojenar, anggota TNI AD mendobrak pintu depan rumah dan pintu kamar bahkan memberondong tembakan di dalam kamar tersebut.
Sekitar pukul 22.00 WIB, sejumlah anggota TNI AD kembali rumah tersebut hanya untuk membersihkan selongsong peluru. Dalam rangkaian tindakan kekerasan tersebut sempat terjadi ancaman kekerasan secara verbal berupa ucapan, “Mati Kau!..Mati Kau!”; “Biarin..Biarin Mati, Dasar Kamu PKI” yang dilontaskan anggota TNI selama peristiwa tersebut terjadi.
2. Terjadi tindakan tidak manusiawi yang dilakukan anggota TNI di dalam penyerangan terhadap sejumlah warga sipil (13 warga mengalami luka-luka berat dan dirawat di RSUD Kebumen, 6 diantaranya mengalami luka tembak sementara lainnya mengalami luka lebam di wajah dan beberapa bagian tubuh lainnya akibat tendangan, injakan, dan pemukulan dengan tongkat dan popor senjata bahkan salah seorang korban mengalami retak tulang kaki kiri).
3. Terjadi tindak kekerasan berupa pemukulan dengan tongkat, tendangan, diinjak terhadap sejumlah individu yang melakukan pendokumentasian terhadap rangkaian peristiwa kekerasan.
4. Telah terjadi pengerusakan rumah wisata/ dagang warga di sekitar pantai Urut Sewu dan salah satu rumah akibat penyisiran anggota TNI AD.
5. Telah terjadi penangkapan sewenang-wenang (tanpa bukti dan tidak tertangkap tangan melakukan kejahatan dan pelanggaran) terhadap sejumlah orang yang dilakukan oleh anggota TNI.
6. Sejumlah anggota TNI melakukan patroli diwilayah warga masyarakat dengan cara menyisir sekitar desa Setrojenar pada dini hari (03.00 – 04.00 WIB) paska peristiwa terjadi dalam kurun 2-3 hari.
7. Terjadi pembiaran penyerangan TNI terhadap warga masyarakat oleh anggota Kepolisian (Marti dan Bambang, keduanya adalah intel Polres Kebumen)
8. Kondisi masyarakat masih banyak yang mengalami ketakutan dan trauma atas peristiwa kekerasan.
9. Banyak warga masyarakat terutama yang laki-laki menjadi target teror (terutama warga yang aktif di FPPKS dan tokoh masyarakat desa Setrojenar) dan potensial dikriminalkan.
10. Ditemukan puluru tajam dengan type kaliber 7,62 dan 7,60 mm (untuk senjata laras panjang) serta 9 mm (untuk senjata laras pendek/ pistol) disekitar lokasi peristiwa (perempatan Jl. Diponegoro). Selain itu juga ditemukan selongsong peluru karet di dalam rumah salah satu warga desa Setrojenar (rumah tersebut diberondong tembakan saat penyisiran di sore hari setelah peristiwa).
Sumber: Detiknews
Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
Sabtu, 14 Mei 2011
Profesional? Harus!
PERSEPSI masyarakat tentang sosok mahasiswa sering berlebih. Mahasiswa dianggap berstrata lebih tinggi, dengan jalan hidup jelas, dan berakhir dengan kesuksesan. Kenyataannya, tak semua seperti itu.
Mahasiswa juga dianggap agen perubahan. Karena itu, masyarakat menunggu aktualisasi peran mahasiswa. Masyarakat menganggap mahasiswa agen perubahan jika mereka menerapkan gagasan dan tak sekadar omong kosong.
Jadi profesional dapat menjadi jalan untuk menunjukkan mahasiswa tak hanya bisa bicara. Profesional di bidang masing-masing. Sikap total dalam berusaha dan tak setengah-setengah bekerja merupakan wujud bakti mahasiswa. Bukan cuma untuk masyarakat, melainkan juga bangsa dan negara.
Menggunakan kemampuan intelektual secara maksimal, lalu berupaya menerapkan gagasan secara total merupakan sikap profesional sebagai mahasiswa. Totalitas itu harus dijaga dengan tak melalaikan tugas kuliah.
Mahasiswa tak bisa mengkritik tatanan di masyarakat, sementara mereka melalaikan tugas kuliah. Jangan sampai mahasiswa hanya mengkritik, tetapi tak bisa melakoni peran dengan baik.
Bersikap profesional sebagai mahasiswa juga diwujudkan dengan menjaga moral. Degradasi moral di kalangan mahasiswa dapat menurunkan kepercayaan masyarakat. Mereka kerap dianggap hanya bisa bicara. Moral yang baik dapat meyakinkan masyarakat bahwa mahasiswa mampu menerapkan ilmu dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar teori.
Kiprah itu hendaknya ditunjukkan bukan hanya ketika masih mahasiswa. Namun juga setelah lulus dan bekerja. Jangan sampai bersikap idealis ketika masih jadi mahasiswa, lantas asal-asalan setelah lulus. Tak salah jadi profesional kapan saja dan di mana saja. Sebab, jadi profesional adalah pembuktian.
Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
Nalar Kritis Mahasiswa
DI dunia akademik, mengkritik atau dikritik adalah lumrah. Ilmuwan, peneliti, dosen, mahasiswa, dan akademisi lain mengkritik dan dikritik untuk melahirkan temuan dan pengetahuan baru yang lebih baik dari masa ke masa.
Mengkritik berarti menanggapi dengan perspektif tertentu, diikuti pernyataan solutif sebagai masukan atas kekurangan yang ada. Tanggapan tanpa saran konstruktif bagai teori yang tak didukung dalil ilmiah yang valid.
Diskusi rutin bagi mahasiswa merupakan wujud pengembangan tradisi “mengkritik” secara sistematis. Dalam proses pembelajaran, diskusi penting sebagai stimulus kemajuan pemikiran mahasiswa. Mahasiswa yang pasif, jarang diskusi, cenderung berwawasan dan pengetahuan dangkal dan tidak komprehensif. Dampaknya, pola pikir mereka pun rigid dan stagnan.
Jadi Sorotan
Kepasifan mahasiswa berdiskusi memunculkan pertanyaan: ke mana rasa ingin tahu mereka mengenai ilmu pengetahuan baru? Tak pelak, kematian minat kaum intelektual muda itu jadi sorotan tersendiri.
Paling tidak ada dua faktor yang mendasari problema itu. Pertama, kondisi akademik yang tak kondusif. Diakui atau tidak, pengaruh lingkungan berdampak cukup besar. Suasana yang tak mendukung sering berpengaruh negatif terhadap perkembangan inteligensia mahasiswa. Sebagai contoh, teman-teman di tempat tinggal mahasiswa jarang melakukan diskusi, debat, kajian ilmiah, dan membentuk klub studi. Lama-kelamaan mahasiswa itu terbawa arus kemunduran. Lalu, semangat belajarnya pun meluntur.
Kedua, faktor dosen. Sebagai pengajar, dosen berperan besar dalam mengarahkan mahasiswa saat proses transfer ilmu pengetahuan. Ibarat kendaraan, dosen adalah supir yang memegang kendali sepenuhnya atas keselamatan penumpang. Pada awal masa kuliah, mahasiswa mencari “jati diri” dan dosenlah yang membantu mereka menemukan “jati diri”.
Tenaga ahli terdidik seperti dosen tak hanya bertugas menyampaikan materi kuliah. Mereka dituntut menanamkan semangat dan berbagi pengalaman. Yang tak kalah penting, dosen harus komunikatif dan atraktif sehingga tercipta dialog aktif dengan mahasiswa. Jangan jadi “dosen killer” yang membuat mahasiswa takut menyuarakan pendapat.
Kritis yang Etis
Mahasiswa identik dengan ide brilian yang memberikan sumbangsih bagi perubahan. Gerakan mereka terorganisasi rapi. Solidaritas tinggi didukung kedewasaan berpikir membuat mereka dijuluki agen perubahan.
Sejarah mencatat peran mahasiswa dalam melahirkan era baru reformasi tahun 1998. Seolah-olah tak kenal lelah mereka terus menyuarakan kata “reformasi” dan “reformasi” sampai akhirnya rezim Soeharto tumbang. Tak berhenti di situ. Secara kritis mereka terus mengawasi pemerintahan baru di bawah BJ Habibie. Sekelumit peristiwa itu jadi bukti sifat kritis dan kepedulian mahasiswa terhadap kondisi bangsa dan negara.
Sikap kritis dan progresif merupakan fitrah mahasiswa. Esensi sifat itu berasal dari rasa ingin tahu dan tanggap keadaan sekitar. Lazimnya mahasiswa yang menemukan kejanggalan dalam bentuk apa pun, baik dalam pembelajaran di bangku kuliah maupun kehidupan nyata, akan mengeluarkan suara hati secara terbuka.
Namun terkadang kedua sikap itu tak terterapkan dengan baik. Acap mereka menyampaikan pendapat secara frontal dan kurang etis. Egoisme cukup tinggi dibarengi semangat muda yang masih berkobar membuat mahasiswa kurang mampu mengendalikan emosi.
Diskusi etis dapat diwujudkan melalui penyampaian kritis suatu permasalahan tanpa intonasi tinggi dan berkesan mengedepankan amarah. Sebagaimana ilmu padi yang makin merunduk tatkala berisi, makin berilmu seorang mahasiswa seharusnya menjadi rendah hati.
Terutama saat berdiskusi dengan dosen yang notabene telah mengajarkan banyak ilmu pada mereka. Pada sisi ini, dosen tak hanya diposisikan layaknya pemateri. Mereka adalah guru sekaligus orang tua mahasiswa di perguruan tinggi.
Opsi kedua dalam penyampaian diskusi yang etis adalah lewat tulisan. Cara itu boleh dikatakan sebagai media adu argumen yang merepresentasikan intelektualitas mahasiswa. Debat lewat tulisan jauh lebih efektif dan “mengena” ketimbang lewat perantara lisan. Penyebabnya tak lain karena tulisan didahului pematangan isi dari segi kualitas dan bahasa. Dalam proses penulisan, mahasiswa bisa lebih selektif menggunakan diksi yang tepat. Selanjutnya, tulisan jadi lebih santun dan menghasilkan diskusi yang lebih menekankan aspek pertukaran pemikiran, tanpa mengurangi substansi dan kualitas.
Diskusi dengan nilai ketimuran yang sarat moralitas hendaknya tetap ditanamkan pada diri mahasiswa. Pribadi berilmu nan santun jauh lebih terhormat daripada memiliki sejuta ilmu tanpa akhlak mulia.
Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)