Sabtu, 02 April 2011

Aperture dan Shutter Priority



Aperture priority dan shutter priority adalah modus semi otomatis yang biasanya ditanamkan pada kamera saku tingkat advance dan entry level pada kamera DSLR. Tapi seperti biasa, para pengguna kamera pada umumnya lebih memilih feature full otomatis agar mereka tidak usah terlalu banyak mikir tinggal bidik dan jepret. Beres.

Padahal dengan sedikit kreatifitas dan pemilihan pada kedua modus ini anda bisa menghasilkan foto yang tidak biasa-biasa saja. Memang diperlukan banyak latihan agar anda bisa menguasai modus ini, tapi semua itu sepadan.

Berikut pengertian dari kedua modus ini :

Aperture Priority ( Av )
Jika modus ini dipilih, anda tinggal mengatur setelan diafragma ( f ). Lalu shutter speed atau bukaan rana secara otomatis disesuaikan menurut keadaan obyek foto. Modus ini digunakan untuk menciptakan ruang tajam sehingga latar belakang maupun latar depan obyek foto menjadi buram. Lebih kecil angka diafragma, lebih sempit ruang tajam yang dihasilkan.

Shutter Priority ( Tv )
Pada modus ini kita tinggal mengatur setelan kecepatan rana atau shutter speed. Kemudian besaran diafragma secara otomatis diatur oleh kamera. Modus ini digunakan ketika kita ingin memotret obyek yang berkaitan dengan kecepatan atau olah raga. Misalnya, memotret sebuah pertandingan bulu tangkis atau memotret lampu lalu lintas pada malam hari dengan menggunakan kecepatan rana yang rendah.

Mudah-mudahan bisa membantu.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta
READMORE -

Memotret Seperti Profesional



Saat ini memotret bukanlah sesuatu yang mewah lagi. Hampir semua orang sudah mengantongi atau membawa kameranya masing-masing walaupun sebatas kamera handphone. Apalagi resolusi kameranya sudah memungkinkan untuk dicetak ukuran postcard dengan hasil yang lumayan. Tidak seperti jaman saya dulu yang harus pontang-panting cari pinjaman kamera kalau akan ada acara seperti ulang tahun, karya wisata, hajatan di rumah atau sekedar acara 17-an tingkat RT.

Dengan kemudahan teknologi seperti ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk bisa menghasilkan foto-foto yang layak untuk dilihat dan bisa membuat kita tersenyum sambil mengenang.


Berikut tips yang biasa jadi panduan fotografer profesional ketika sedang bekerja yang bisa diterapkan oleh siapa saja, baik itu pengguna kamera DSLR, kamera saku, maupun kamera handphone. Hal-hal yang perlu diperhatikan :

1 . Cahaya.
Perhatikan arah datangnya cahaya terhadap obyek foto kita. Usahakan agar obyek menerima cahaya yang cukup untuk dipotret. Gunakan lampu kilat jika kita memotret di bawah keteduhan atau ada bayangan yang jatuh tepat di obyek foto kita.

2 . Komposisi.
Bagaimana cara kita menempatkan obyek foto terhadap lingkungannya dalam satu bingkai foto sehingga enak dipandang. Sebenarnya tidak ada patokan yang baku di dalam definisi komposisi. Tiap orang mempunyai taste atau selera yang berbeda-beda ketika menempatkan obyeknya dalam viewfinder. Ketika berbicara soal rasa, kita berbicara mengenai subyek yang sulit diperdebatkan.

3. Sudut pandang.
Usahakan tidak memotret sebuah obyek dengan sudut pandang 'biasa'. Anda bisa memotret dengan angle dari atas atau vertikal, agak dari bawah, dari sudut kiri atau agak ke kanan. Setiap sudut pandang atau angle kamera dapat menghasilkan 'rasa' yang berbeda-beda terhadap sebuah obyek. Kreatiflah!

4 . Latar belakang.
Pilihlah latar belakang yang tidak lebih menarik perhatian ketimbang obyek utamanya. Pilih juga latar belakang yang tidak mengganggu komposisi keseluruhan dari sebuah foto. Atau sekalian saja latar belakangnya dibuat kabur atau buram dengan pemilihan ruang tajam.

5 . Mengarahkan.
Apabila anda merasa sang obyek tidak berada atau berpose seperti apa yang ada dibenak anda, arahkanlah sesuai keinginan, baik itu untuk obyek benda mati atau model manusia. Anda berhak untuk mengarahkan agar hasil akhirnya bisa sebagus yang diharapkan, lagipula anda adalah sutradara didalam sesi pemotretan.

Sedikit kesabaran dan keinginan untuk belajar dapat membuat anda bisa menghasilkan foto-foto yang lebih layak dilihat tapi tidak harus membuat kita menjadi seorang fotografer profesional terlebih dahulu.

Sebab sejatinya memotret itu adalah,

"Belajar mengasah kepekaan rasa terhadap keindahan di sekeliling kita lalu membingkai keindahan tersebut lewat jepretan kamera.

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta"
READMORE -

Minggu, 27 Maret 2011

Analisis Wacana ,Pengantar Analisis Teks Media (Eriyanto)


Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.                                  

Ada tiga pandangan mengenai analisis wacana. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal). Disebut Analisis Isi (kuantitatif)
Pandangan kedua disebut  konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. Disebut  Analisis Framing (discourse analysis).
Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).
 Dalam penelitian ini akan membatasi dalam hal analisis wacana kritis. Khususnya pada analisis wacana model Teun A. van Dijk. Untuk mengkaji maksud-maksud yang ada dalam bahasa yang digunakan para kandidat Pilgub di Surabaya 2008 pada saat berkampanye. Baik yang ada pada internet, spanduk, panflet, seteriker, dan koran.
Analisis wacana model van Dijk sering disebut ”kognisi sosial” nama pendekatan semacam ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik analisis wacana model van Dijk. Menurut van Dikj penelitian  wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari praktik produksi yang harus diamati. Disini patut dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi. Sehingga kita dapat memperoleh suatu pengetahuan tentang kenapa suatau teks bisa semacam itu. Kalau ada teks yang memarjinalkan wanita, maka dibutuhkan suatu penelitian yang melihat bagaimana produksi teks itu bekerja, kenapa teks tersabut memarjinalkan wanita. Proses pendekatan dan produksi ini melibatkan suatu yang disebut kognisi sosial.
Berbagai masalah kompleks dan rumit itulah yang dicoba digambarakan oleh van Dijk. Oleh karenanya van Dijk tidak mengeksklusi modelnya hanya semata menganalisis teks. Tapi ia juga melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan berpengaruh pada teks. Wacana oleh van Dijk digambarkan mempuyai tiga dimensi, diantaranya : teks, kognisi sosial, dan kontek sosial (analisis sosial). Dalam dimensi teks yang dianalisis bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari bagaimana proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari komunikator. Sedangkan, aspek analisis sosial mempelajari bagunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Namun dalam penelitian ini hanya memfokuskan pada dimensi teks dan analisis sosial.

1. Teks
Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa bagian struktur yang masing-masing saling mendukung. Ia dalam hal ini membaginya dalam tiga tingkat. Pertama, struktur makro, ini merupakan makna global atau umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu teks. Kedua, superstruktural yaitu merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks. Bagaimana bagian-bagian teks tersusun kedalam berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro adalah makna wacana yang diamati dari bagian terkecil dari suatu teks semisal, kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, dan gambar. Berikut dapat diuraikan satu persatu elemen wacana model van Dijk :

Struktur wacana
Hal yang diamati
Elemen
Struktur makro

Tematik
Tema/ topik yang dikedepankan dalam berita
Topik
Superstruktur

Skematik
Bagaimana bagian dan urutan berita diskemakan dalam teks berita utuh
skema
Struktur mikro
Semantik
Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita. Misal dengan memberi detil pada satu sisi atau membuat eksplisi satu sisi dan mengurangi detil sisi lain.
Latar, detil, maksud, pranggapan, nominalisasi
Struktur mikro
Sintaksis
Bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih.
Bentuk kalimat, koherensi, kata ganti
Struktur mikro
Stilistik
Bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks berita.
Leksikon
Struktur mikro
Retoris
Bagaimana cara penekanan dilakukan.
Grafis, metafora, ekspresi


Namun dalam penelitian ini kami akan memfokuskan pada elemen-elemen teks yang sesuai dan sejalan dengan kriteria penelitian yaitu manipulasi bahasa pada kampanye Pilgub di Surabaya 2008, diantaranya sebagai berikut :

a.       Tematik
Elemen tematik menujuk pada gambaran umum dari suatu teks. Bisa juga disebut sebagai gagasan inti, ringkasan atau yang utama dari suatu teks. Topik menggambarkan apa yang ingin diungkapkan komunikator dalam pemberitaanya. Topik juga menujukkan konsep dominan, sentral, dan paling penting dari isi suatu berita. Oleh karena itu sering juga disebut tema dan topik. Menurut van Dijk teks tidak hanya didefinisikan mencerminkan pandangan atau topik tertentu, tetapi sebuah pandangan umum yang koheren. Van Dijk menyebutnya sebagai koherensi global (global coherence), yakni bagian-bagian dalam teks kalau dirunut menujuk pada suatu titik gagasan umum dan bagian-bagian itu saling mendukung satu sama lain untuk menggambarkan topik umum tersebut. Topik menggambarkan tema umum dari teks berita, topik juga didukung oleh subtopik satu dengan subtopik yang lain yang saling mendukung untuk terbentuknya topik umum. Subtopik juga didukung oleh serangkaian fakta yang menujuk dan menggambarkan subtopik. Sehingga dengan subbagian yang saling mendukung antara satu bagian dengan bagian lain, teks secara keseluruan membentuk teks yang koheren dan utuh.

b.      Kata Ganti
Elemen kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menujukan posisi seseorang dalam wacana. Dalam menggungkapkan sikapnya, seseorang dapat menggunakan kata ganti ”saya” atau ”kami” yang menggambarkan bahwa sifat tersebut merupakan sikap resmi komunikator semata. Akan tetapi ketika memakai kata ganti ”kita” menjadikan sikap tersebut sebagai representasi dari sikap bersama dalam suatu komunitas tertentu. Batas antara komunikator dengan khalayak segaja dihilangkan untuk menujukkan apa yang menjadi sikap komunikator juga menjadi sikap komunitas secara keseluruan.
Pemakaian kata ganti jamak seperti ”kita” atau ”kami” mempunyai implikasi menumbuhkan solidaritas, aliansi, perhatian publik, serta mengurangi kritik dan op0osisi (hanya) kepada diri sendiri. Misalnya pada kalimat ”kami masyarakat Indonesia”  dan ”kita bangsa yang besar”. Berbagai kata ganti juga digunakan secara strategis sesuai dengan kondisi yang ada. Prinsipnya adalah merangkul dukungan dan menghilangkan oposisi yang ada.
           
c.       Leksikon
Pada dasarnya elemen ini menandakan bagaimana seseorang melakukan pilihan kata atas berbagai kemungkinan yang tersedia. Suatu fakta umumnya terdiri atas beberapa kata yang merujuk pada fakta. Kata ”meninggal” mempuyai kata lain : mati, tewas, gugur, meninggal, terbunuh, menghembuskan nafas terakhir. Diantara kata ini dapat dipilih di antara satu. Dengan demikian pilihan kata yang dipakai tidak semata karena kebetulan, tetapi secara ideologis menujukan bagaimana pemaknaan komunikator terhadap fakta atau realitas. Oleh karenanya fakta yang sama dapat digambarkan dengan pemilihan kata yang berbeda. Semisal, peristiwa terbunuhnya mahasiswa Trisakti dapat disajikan dengan kata-kata ”pembunuhan”, ”kecelakaan”,  atau bahkan ”pembantaian”.

d.      Grafis
Elemen ini merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditekankan atau ditonjolkan (dianggap penting) oleh komunikator, dimana dapat diamati dari teks. Dalam wacana berita grafis biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dari tulisan yang lain. Pemakaian huruf tebal, miring, garis bawah, dan huruf yang dibuat dengan ukuran lebih besar. Termaksud juga pemakaian caption, raster, grafik, gambar, foto, atau table untuk mendukung arti penting suatu pesan. Bagian yang dicetak berbeda adalah bagian yang dipandang penting oleh komunikator, dimana ia menginginkan khalayak menaruh perhatian lebih pada bagian tersebut. Serta upaya ini untuk memegaruhi dan mensugesti khalayak pada bagian mana yang harus diperhatikan dan bagian mana yang tidak.

e.       Metafora
Dalam suatu wacana komunikator tidak hanya menyampaikan pesan pokok lewat teks. Tetapi juga kiasan, ungkapan, metafora yang dimaksud sebagai ornamen (bumbu) dari suatu wacana. Akan tetapi pemakaian metafora tertentu bisa jadi menjadi petunjuk utama untuk memahami makna suatu teks. Metafora dipakai komunikator secara strategis sebagai landasan berpikir, alasan pemikiran atas pendapat atau gagasan tertentu kepada publik. Komunikator juga menggunakan kepercayaan masyarakat, ungkapan sehari-hari, pribahasa, pepatah, petuah leluhur, kata-kata kuno, bahkan mungkin ungkapan yang diambil dari ayat-ayat suci, yang semuanya digunakan untuk memperkuat pesan utama teks berita atau pada bahasa kampanye.
 
2.  Analisis sosial

Wacana adalah bagian dari wacana yang berkembang dalam masyarakat. Sehingga untuk meneliti teks perlu dilakukan analisis intertekstualitas dengan meneliti bagaimana wacana pemberitaan tentang suatu hal diproduksi dan direkontruksi dalam masyarakat. Misal, ketika akan meneliti bagaimana wacana pemberitaan media atas isu komunisme. Dalam kerangka model van Dijk, kita perlu melakukan penelitian bagaimana wacana komunisme diproduksi dalam masyarakat. Penelitian dilakukan dengan menganalisis bagaimana negara melakukan produksi dan reproduksi atas wacana komunisme. Lewat buku-buku sekolah, pidato politik, dan sebagainya. Titik penting dari analisis ini adalah untuk menujukan bagaimana makna yang dihayati bersama, kekuasan sosial diproduksi lewat pratik dikursus dan legitimasi. Maka dalam penelitian manipulasi bahasa kampanye Pilgub di Surabaya 2008 akan diamati bagaimana pemahaman masyarakat tentang penggunaan bahasa yang digunakan dalam kampanye Pilgub di Surabaya. Menurut van Dijk dalam analisis sosial ada dua poin diantaranya : kekuasaan (power) dan akses (acces).

a. Pratik kekuasaan
Van Dijk mendefinisikan kekuasaan tersebut sebagai kepemilikan yang dimiliki suatu kelompok (atau anggotanya) untuk mengontrol kelompok lain. Kekuasaan ini biasanya didasarkan pada kepemilikan atas sumber yang bernilai, seperti uang, status, dan pengetahuan. Selain berupa kontrol yang bersifat langsung  dan fisik kekuasaan itu juga berbentuk persuasif : tidakan seseorang secara tidak langsung mengontrol dengan jalan mempengaruhi kondisi mental, seperti kepercayaan, sikap, dan pengetahuan. Yang nantinya dapat berpengaruh pada pemahaman pada sebuah wacana tertentu.
 
b. Akses mempengaruhi wacana
Analisis wacana model van Dijk memberi perhatian besar pada akses. Bagaimana akses diantara kelompok masyarakat elit mempunyai akses lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat yang tidak berkuasa. Oleh karena itu, mereka yang lebih berkuasa mempunyai kesempatan lebih besar untuk  mempunyai akses pada media dan kesempatan lebih besar untuk mempengaruhi kesadaran khalayak.
Akses yang lebih besar bukan hanya memberi kesempatan untuk mengkontrol kesadaran khalayak lebih besar. Tapi juga membentuk topik dan isi wacana apa yang dapat disebarkan dan didiskusikan pada khalayak. Namun khalayak yang tidak memiliki akses tidak hanya menjadi konsumen dari dikursus yang telah ditentukan. Tapi juga berperan besar lewat reproduksi, karena apa yang mereka terima dari kelompok yang lebih tinggi disebarkan lewat pembicaraan dengan keluarnga, teman sebayah, dan sebagainya. Dan akhirnya merujuk pada sebuah manipulasi bahasa untuk mendapat massa dan dukungan.  

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta 2010
READMORE -

Suara Ketikan Di Tengah Malam

Sudah dua hari ini saya begadang hingga pagi hari. Begadangku ini tidak karena main komputer, baca buku atau sebagainya. Saya begadang karena jadwal kerjanya pada sift malam. Depan komputer dan berkacamata tangan selalu di atas keyboard, untuk menekan beberapa huruf menuju kelink-link yang diinginkan.

Di kesendirianku ini membuat saya ingin mengetahui segala sesuatu yang ada di dunia maya ini. Banyak hal yang bisa di dapat ketika kita berada di depan komputer. Apalagi ada line-nya untuk mengakses internet. Hanya suara ketikan keyboard dan alunan lagu Kitaro yang menunjukkan aktifitasku di malam hari.


Diluar sana bunyi kendaraan yang berlalu lalang mulai sepi. Bunyi tokek yang berada di belakang pintu kadang-kadang bunyi dengan keras. Aktifitas dalam keseharian dalam bekerja hanya duduk dan melayani orang yang datang di tempat ini. Senyum sapa selalu kami berikan kepada mereka, berharap agar mereka senang berada ditempat ini.


Perlu diketahui juga ketika bekerja di malam hari rasa capeknya memang bukan main. Pegel-pegel yang kurasakan di badan, haus laper sudah membaur dalam segala aktifitasku. Hanya dengan berusaha dan yakin bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan bermanfaat kelak dan semoga apa yang menjadikan cita-cita kita dapat cepat terwujud dengan baik. Amin

Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta
READMORE -

Puisi-Puisi Pringadi Abdi Surya

Daun Jendela
Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi dan seekor burung gereja yang tersesat bertengger ramah di punggungnya. Engselnya yang berkarat masih begitu kuat menahan ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya. Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya. Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian kutilang pun tak sanggup menahan kematian. Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat. Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari. Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan membuang suar lampu yang belum dipadamkan. Seorang laki-laki tengah mendengkur dan beradu sakti dengan jam waker.

Ceritanya tentang Jambu Bangkok
Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi di balik jendela, di balik semak, kadang memanjat pula di pohon sawo dekat kolam yang bocor itu.      Sesekali, ia pun bisa menyamar jadi kupu-kupu.

Kandang Ayam
Tiap sore, ia harus berebut dengan senja yang suka menyembunyikan ayam-ayamnya di dahan pohon jambu atau pagar tetangga.       Pur, dedek, maupun berondolan jagung itu tetap tak mempan merayu para ayam agar mau kembali ke kandang. Ia mengira mungkin karena kandang ayamnya yang sudah lapuk, tua, dan tak bisa menangkal hujan saban malam.       Ia lupa, ayam terlahir rabun senja.       Dan mati pun,

Kwatrin Sempurna tentang Tubuhku
Datanglah ke tubuhku, pekarangan dengan semak bunga Asoka yang tak pernah berhenti mekar dan rerumpun daun Suji yang mengucapkan salam kepada lelaki bijaksana, Datanglah tanpa ragu, tanpa menunggu Tuan dan tahun.

Kwatrin tentang Cium
Jejak bibirku di sana, jangan sekali-kali kau hapus. Cinta adalah kecupan pertama, Sayang, didaratkan dengan Lembut dan hati-hati. Bukankah cukup begini—Sisyphus Terlalu bodoh menanggung dosa dengan nama pengorbanan?

Di Pelataran Parkir
Ia mencoba menghitung jumlah daun gugur di pelataran parkir itu. Setiap hitungan keempatpuluhlima, ia menangis tersedu. Dan mengelap air matanya itu dengan lengan bajunya. Ia tidak yakin pada hitungannya lalu memulai kembali dari awal. Angin bertiup. Daun-daun renta beterbangan di atasnya. Air matanya makin tumpah, sehelai daun muda tergolek tak bernyawa di samping volvo berplat merah.
Tak Ada Puisi di Bola Matamu
Ia duduk di halte, menunggu bus terakhir yang akan mengantarkannya ke bola matamu. Langit mendung, sebentar lagi hujan. Diliriknya jam di tangan kanannya, belum berubah juga. Waktu masih dua puluh empat jam adanya.      Ia paham, kesunyian seperti tiang listrik yang tegak, ditempeli poster-poster konser, kampanye, pengumuman anak hilang, iklan, slogan, dan tak pernah ada puisi.

  Pareidolia
Ia membayangkan awan itu akan membentuk wajahmu. Dilihat-lihatnya sebentar, awan sudah jadi kuda yang lari dari kereta kencana. Ia mengucek matanya, mendadak kuda berubah jadi seorang wanita, tetapi bukan dirimu.      Ia tahu cinta tak semestinya dibumbui perselingkuhan.     Sajak Cinta Biasa #2   Cintaku sebatang rumput, tumbuh di antara trotoar itu. Berhatilah-hatilah, wahai, pejalan kaki. Aku tidak mau mati, Terinjak oleh sandal jepit, bahkan sepatu kulit. Cintaku Sebatang rumput, siapa bilang tak akan mekar?

Di Kamar
Ia berbaring di atas ranjang, membiarkan tubuhnya dimakan terang lampu. Ada yang bersalah tiap detik yang didengarnya dari jam dinding itu. Cinta tak semestinya diselimuti kebohongan. Ia memejamkan mata, suara air kolam di luar malah membanjiri benaknya. Dilongokinya tempat tidur, potongan-potongan kapur itu masih ada.
PRINGADI ABDI SURYA. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang sedang bekerja di Ditjen Perbendaharaan Negara. Bukunya berjudul ALUSI (Pusataka Pujangga, 2009) dan kumpulan cerpen Dongeng Afrizal (Kayla, 2011). Tergabung di KOSAKATA (Komunitas Sastra Kota Jakarta). Twitternya: pringadi_as
READMORE -

Pro dan Kontra Tayangan Uya Kuya

Majelis Ulama Indonesia Kota Dumai, Riau, mengimbau masyarakat setempat untuk tidak terhanyut menyaksikan program hiburan hipnotis "Uya Emang Kuya" yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta karena dinilai kurang memiliki etika moral. Berita ini saya baca di kompas.com. Imbauan ini disampaikan  karena acara yang ditayangkan ini sangat bertentangan dengan etika dan moral yang tersirat/tergantung dalam Kitab Suci Al-Qur'an.

Acara yang ditayangkan setiap hari dari pukul 17.30-18.00 ini secara terang-terangan membuka aib seseorang melalui hipnotis yang menjadi keahlian Uya Kuya (Roza'i, Ketua MUI Dumai). 

Menurut saya seharusnya tayangan ini tidak usah dipermasalahkan, karena dalam acara ini sudah dijelaskan di awal/di akhir acara bahwa acara ini sudah ada persetujuan dari pihak yang bersangkutan. Ketika sebuah perjanjian atau persetujuan yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak, maka itu sah-sah saja. Kenapa harus dipermasalahkan lagi? Karena itu sudah tidak melanggar aturan dalam beragama.

Kita semuanya juga tahu, bahwa pelaku/orang yang dihipnotis itu juga sudah rela aibnya diketahui oleh orang lain. Dan biasanya mereka senang dengan hasil akhir dalam curhatan ala hipnotis Uya Kuya. Jadi menurut saya MUI tidak usah mempermasalahkan hal-hal seperti ini. Masih banyak tugas kalian yang harus dikerjakan yang lebih bermanfaat dari pada mempermasalahkan acara hiburan di Telivisi. 

Bagaimana pendapat saudara-saudaraku sekalian? 
Silahkan tinggalkan coment di bawah ini. Terimakasih
Salam Heru Cahyono, Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta
READMORE -

Selasa, 04 Januari 2011

Rendahnya Sikap Pemerintah Atas Seks Bebas

Sikap pemerintah terhadap bahaya seks bebas cenderung rendah dibandingkan dengan bahaya narkoba. Sampai-sampai pemerintah mendiamkan semaraknya promosi dan kemudahan jual-beli alat kontrasepsi di tengah masyarakat. Padahal dampak negatif dari perilaku seksual bebas sama-sama menghancurkan masa depan generasi muda.

Saya sungguh sangat prihatin, akan seperti apa kelak bangsa ini kalau generasi mudanya seperti ini. Pemerintah menganggap bahwa persoalan seks bebas ini tidak segenting dengan narkoba. Karena faktor dari seks bebas yang ada di masyarakat ini tidak terlalu bahaya akibatnya di bandingkan dengan narkoba. Akibatnya pemerintah beserta jajarannya tidak menangani masalah ini dengan serius  sebagaimana dalam menangani kasus narkoba.

Kalaupun ada penanganan, itu cenderung sesaat, tidak menyeluruh dan tidak terintegrasi secara baik. Penanganan tersebut pun sangat bergantung pada kondisi ada atau tidak adanya dana dari pihak luar, seperti organisasi dunia. Dengan demikian, ini bermakna intervensi pemerintah terhadap persoalan seks bebas ini sangat terlambat dan tidak serius.

Contoh lain ketidakseriusan itu yakni dibebaskannya media massa cetak dan elektronik memuat atau menayangkan berita-berita yang bernuansa promosi seks bebas. Bahkan media massa cetak ditolerir untuk memuat gambar atau foto-foto perempuan setengah telanjang. Beberapa waktu lalu, ada pengaduan soal
pornografi di media massa cetak. Tapi kelanjutannya, tidak jelas.

Sungguh, saya sudah bosan dan muak dengan kenyataan ini. Selama ini saya memang dekat dengan dunia televisi. Tapi kini saya alergi dengan dunia televisi yang mengeksploitir seksual. Dan saya menduga, suatu saat di layar televisi akan muncul perempuan yang benar-benar telanjang. Sekarang ini memang baru setengah telanjang saja.

Peran Orang Tua
Saya berharap, orangtua di rumah lebih meningkatkan perhatiannya terhadap persoalan seks tersebut. Jangan sampai anak mengalami kekeliruan dalam menyikapi persoalan seksual, sehingga terperosok pada "lembah hitam".

Ketahuilah, seks itu merupakan sesuatu yang menarik dan perlu dicoba. Karenanya, sering terjadi anak-anak kecil dan remaja tertarik dengan persoalan seks, lalu mencoba menikmatinya di jalan haram. Untuk itu, orangtua perlu berperan dengan cara memperhatikan dan berdialog dengan anak soal seks. Beberapa hasil penelitian di sejumlah negara, anak-anak dan remaja akan terhindar dari keterlibatan seks bebas, apabila mereka bisa membicarakan seks dengan orang tuanya. Oleh: Heru Cahyono, Mahasiswa UIN SUKA Yogyakarta.
READMORE -

Kembali Menulis

Menulis...
Salah satu hobby saya adalah menulis. Terakhir saya menulis adalah bulan September 2010, yang mana kesibukan saya ketika memasuki perkuliahan awal di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu yang membuat saya tidak menyempatkan lagi untuk menulis. Tetapi kali ini saya ingin bangkit dan bersemangat lagi untuk menulis. Menulis apapun, intinya menulis-menulis dan menulis....
Teman sejati saat saya lagi sendirian dan termenung adalah buku dan Al-Qur'an. Mereka yang bisa menemani dan memberikan banyak arti dalam hidupku. Semangat ini muncul karena saya ingin menjadi penulis yang baik. Mengapa saya ingin menjadi penulis yang baik, karena saya ingin bisa menyelesaikan tugas-tugas mata kuliah dengan baik. Loh ada sangkut pautnya apa kok malah ada hubungannya dengan tugas kuliah.
Yups... begini ceritanya: setiap tugas kuliah tidak lepas dari yang namanya membuat makalah atau resensi. Nah modal dan kemampuan saya ini lah saya manfaatkan. Ketika saya sering menulis saya yakin otak saya akan terasah dengan baik. Tidak akan rugi ketika kita selalu menulis. Karena menulis banyak sekali manfaatnya baik diri sendiri dan untuk orang lain.
Saya berharap dengan modal kemampuan saya ini, kelak saya bisa menjadi dosen. Itulah cita-cita yang ingin saya kejar dan capai. Karena menjadi seorang dosen adalah kebanggaan bagi saya dan keluarga saya. Menjadi dosen sama seperti menjadi guru yang ada di sekolah-sekolah. Hanya saja ilmu dan kajian yang disampaikan pasti berbeda antara dosen dan guru.
Do'akan saya teman-teman dan para pembaca yang budiman agar apa yang menjadi cita-cita saya menjadi kenyataan. karena saya ingin membahagiakan orang tua dan orang-orang yang saya cintai dan sayangi dalam hidup ini. Terimakasih.... Heru Cahyono Mahasiswa UIN SUKA Yogyakarta, Fak. Dakwah, Prodi KPI.
READMORE -